Senin, 22 Juni 2015

PECI HITAM



Awal tahun delapan puluhan.

            “Alif, Ba, Tsa, Jim, kha, Kho......” suara serak dan  tegas seorang lelaki berpeci hitam terdengar mengisi ruangan yang berdinding tripleks melafazkan huruf Hijaiyah.
            Beberapa anak terpekur didepan buku Juz ‘amma nya. Mereka mengikuti lafaz yang diucapkan lelaki tersebut. Aku pun ikut melafazkannya dengan lantang. Ada sekitar 5 orang anak-anak didepan lelaki itu.
            Sementara ada beberapa anak yang lebih besar duduk membuat lingkaran sendiri dan masing-masing memegang mushaf Al Qur’an. Mereka mengaji bersama-sama . Terkadang lelaki tersebut menyela jika ada bacaan yang dianggapnya salah.
            Sambil menahan batuk lelaki itu kemudian memanggil satu persatu anak-anak yang memegang mushaf Al Qur’an untuk membacanya didepan dia. Kami berebut untuk saling mendahului agar lebih cepat selesai diajarkan membaca Al Qur’an oleh lelaki tersebut.
            Malang tubuhku yang kecil tak sanggup melawan tubuh teman-temanku yang lebih besar. Aku akhirnya mendapat urutan paling terakhir seperti biasanya. Saat berhadapan dengan lelaki itu yang ada hanya linangan air mata menghiasi pipiku.
            “Jangan menangis, lafazkan dengan benar huruf-huruf hijaiyah itu,”lelaki itu berkata tegas seperti membentak.
            Aku semakin terisak, bukan karena aku takut ditinggalkan teman-temanku , bukan pula karena aku takut gelegar suara lelaki itu tetapi karena sore ini film kartun kesukaanku sudah mulai tayang di TVRI dan aku iri pada teman-temanku yang sudah pergi menonton sementara aku masih harus berhadapan dengan lelaki itu untuk melafazkan huruf-huruf hijaiyah.
            Brak...
            Suara gebrakan dimejaku terdengar.Lelaki itu menghempaskan peci hitamnya sangat keras didepanku.
            “Bagaimana kamu mau pintar mengaji kalau kamu hanya bisa menangis saja ?”
            Lelaki itupun pergi berlalu meninggalkan peci hitamnya didepanku, semantara aku tertunduk dengan tangis yang semakin menjadi. Suara batuk lelaki itu terdengar mengiringi langkah kakinya meninggalkan mushola satu-satunya dikampung kami.

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...