Sabtu, 07 Maret 2015

Acil Penjual Apam



            



             Bel tanda istirahat berbunyi, membuyarkan seluruh murid-murid di SMP Favorit di kotaku. Demikian juga kelas ku,suara senyap berganti dengan riuhnya suara teman-temanku. Suara Pak Dudung guru IPA ku tak tedengar lagi oleh ku. Padahal tadi sempat akan memberikan PR yang akan dikumpulkan minggu depan.
            Kernyit pak Dudung nampak semakin terlihat ketika kami semua semakin tak sabar ingin keluar kelas. Selama 2 jam pelajaran mendengarkan suara pak Dudung saja rasanya seperti seharian penuh. Aduh aku merasa lebay deh untuk hal ini. Sambil menggeleng-geleng kepala pak Dudung beranjak meninggalkan kelas diikuti teman-teman yang sudah tak sabar ingin keluar kelas.
            Hari ini aku rasanya malas keluar kelas, ajakan Tina dan Jeje untuk jajan di kantin sekolah ku tolak. Walau dengan rengekan yang khas dari Jeje ajakan itu tetap ku tolak.
            “ Kamu kenapa sih Na , tumben gak mau jajan ke kantin,” rengek Jeje.
            ” Berdua aja gih , aku lagi males rasanya. Lagian aku masih kenyang nih. Aku kan gak mau ndut kayak si Tina,” selorohku sambil ngelirik lucu ke Tina.
            Tina memonyongkan mulutnya , dia paling tidak suka dikatain ndut. Dan bisa ngambek berhari-hari bila kata itu ditujukan padanya.
            “ dah yuk Je, biarin aja si Kurus Nana gak makan setahun, ndut tapi sehat kali”.
            Nah kan ngambeknya Tina sudah mulai beraksi. Sambil menggandeng tangan Jeje mereka berdua meninggalkan ku sendirian di kelas. Ya benar-benar sendirian karena tak ada lagi makhluk lain selain aku.
            Sebenarnya perutku keroncongan juga, apa lagi tadi sarapanku diserobot kak Doni sehingga jatahku jadi sedikit. Tapi jika aku jajan di kantin pasti nanti berpapasan dengan penjual Apam itu. Ih....sebel sebenarnya. Sudah semingguan ini penjual apam itu terus menawari ku kue apamnya, padahal aku sama sekali tak menyukai kue itu.
            Bagiku gak level makan kue kampung, apa lagi menawari di depan Tina ama Jeje. Kenapa sih harus aku yang selalu di tawari, gak ke Tina saja yang segalanya dimakan. Mengingat hal itu aku menjadi bertambah sebel dan perutku semakin mules karena lapar.
            Tiba-tiba dari arah pintu muncul sosok tubuh seperti si penjual kue itu. Benar, ternyata dia yang muncul di depan pintu seakan mencari-cari sesuatu. Dia melihatku dan tersenyum sambil sekali lagi menawarkan kue noraknya itu.
            “ Neng, tidak beli kue apam ya ?” tanyanya sambil tersenyum.
            Kemarahanku rasanya sudah sampai diubun-ubun. Aku tidak ke kantin walau perutku kelaparan karena untuk menghindarinya, eh dianya yang datang ke kelasku.
            “ Acil, saya tak ingin membeli kue apam cil,” ucapku dengan keras.
            “ Oh... tapi adek kan lapar, tidak usah beli deh ini acil beri untuk adek,” ucapnya penjual itu sambil berjalan kearahku.
            Aku berdiri dari bangku ku dan berjalan kearah yang berlawanan untuk menghindari penjual itu mendekatiku. Dan kemarahanku pun semakin memuncak. Aku berjalan ke arah pintu kelas untuk keluar.
            “ Acil, aku gak doyan sama kue kampungan yang acil jual. Kenapa sih memaksa saya terus cil,” kataku sambil berlalu keluar kelas menuju ke kantin menyusul Tina dan Jeje. Tak ku pedulikan wajah penjual itu yang terlihat sedih. Aku sudah muak dengannya aku sangat marah.
            Ternyata kemarahanku itu menjadikan ku sebuah ketakutan sebab saat pulang sekolah aku merasa ada seseorang yang mengikuti sepanjang jalan. Aku mencoba menengok ke belakang tetapi tak kutemukan wajah-wajah mencurigakan dibelakangku. Hanya beberapa adik kelasku yang cekikikan entah membicarakan apa. Tetapi perasaanku yang ketakutan membuat aku mempercepat langkah agar sampai dirumah lebih cepat.
            Sesampainya dirumah tanpa salam dan tanpa ketuk pintu aku segera masuk dan mengunci pintu. Ibu terkejut bukan main ketika aku masuk ke rumah seperti itu.
            “ Nana, kamu buat ibu terkejut. Mana sopan santunnya, mana salamnya , mana ketukan pintunya. Kenapa kamu na ?” Berondongan pertanyaan meluncur dari mulut ibu.
            Aku hanya tersenyum sama ibu dan bergegas ke kamar. Aku mendengar suara pintu di buka. Mungkin ibu keluar dan melihat di depan rumah untuk memastikan aku tak mengalami kejadian apa-apa.
            Dadaku masih berdebar dengan detakan jantung yang hebat. Apa memang benar ada yang mengikutiku ? sepertinya tak ada tetapi mengapa perasaanku sangat tak tenang ?
Aku mengganti seragam ku dan ingin ke dapur untuk mengambil segelas air putih siapa tahu dapat memberiku sedikit ketenangan dengan meminumnya. Ketika aku membuka pintu kamar, sayup-sayup terdengar suara ibu seperti berbicara dengan seseorang di depan pagar rumah.
            Berjingkat aku mendekati jendela ruang tamu. Ups...... ternyata ibu berbicara dengan acil penjual wadai. Samar-samar terdengar suara ibu yang meninggi. Ada apa dengan ibu, kenapa ibu memarahi Acil tersebut?
            “ Harusnya kita sudah sepakat dengan hal ini acil rahma, belum saatnya kita memberitahu dia. Dia masih belum lulus SMP, biarkan dia 3 tahun lagi, setelah lulus SMA kita akan membicarakannya. Jangan acil mengganggu dia lagi, bisa jadi kejiwaannya akan terguncang untuk saat ini,” kata ibu dengan suara yang seperti berbisik.
            Aku cukup jelas mendengarnya karena jarak pintu pagar dengan jendela ruang tamu tak begitu jauh. Sepertinya mereka membicarakanku atau siapa ?
            “ Maafkan saya Ibu Haji, saya tak bermaksud menakutinya atau mengambilnya kembali dari ibu. Hanya beberapa hari ini saya sedemikian rindu padanya,” suara sang acil diiringi isak tangis.
            Aku segera ke dapur dan tak lagi melanjutkan acara ngupingku. Aku takut ibu mengetahui dan memarahiku, karena tak sopan menguping pembicaraan orang lain. Dan ibu bakalan akan marah, dan melaporkan hal itu ke ayah.
            Aku kembali ke kamar, dalam benakku kembali menari-nari percakapan ibu dengan acil penjual wadai. Siapakah yang dimaksud itu apakah aku ?
Ah......perasaan tak enak semakin menjadi-jadi, haruskah aku bertanya kepada ibu ?
Tidak...... itu akan membuat ibu tahu bahwa aku menguping pembicaraan orang. Ah...sudahlah aku tidak mau memikirkan lagi. Toh Cuma pembicaraan seorang penjual kue apam.
            Keesokan hari ketika jam istirahat tiba, aku yang antusias mengajak Tina dan Jeje ke Kantin. Tina tak ngambek dan cemberut lagi sebab hari ini aku menjanjikan untuk mentraktir mereka berdua. Wajah ceria Tina kembali merekah.
            Ketika melewati tempat biasanya penjual kue itu berada tak terlihat lagi acil penjual wadai. Mata ku liar kesana kemari mencari acil tersebut. Dia sama sekali tak terlihat. Seharusnya aku merasa senang karena tak ada lagi yang menggangguku dengan menawari kue apa itu, tetapi kenapa ya hari ini aku ingin sekali melihatnya.
            Dan anehnya, mengapa hari ini aku kepingin makan kue apam ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...