Sabtu, 12 Desember 2015

Jalan-Jalan di Pertokoan Cahaya Bumi Selamat Martapura


Rasanya kok gak fair kalo gak memasukan tempat berbelanja perhiasan dan oleh-oleh khas kalimantan di pertokoan CBS Martapura. Padahal letaknya hanya 10 menit aja dari lokasi tempatku bermukim di Banjarbaru.
https://www.tokopedia.com/oleh2borneo
Sudah berkali-kali saya menelusuri pertokoan tersebut tapi rasanya kok baru sekarang saya mengulas dalam blog ini. Yah...silahkan protes deh...diterima kok protesnya hahahahahaha.
Di pertokoan ini memang banyak dijual permata dan batu-batu mulia yang hmmmmmm.....bisa silap mata dan dompet kalo tidak ingin menahan diri.
Kilauan permata dan batu mulia membuat tangan seakan tak akan berhenti untuk merogoh kocek dan siap-siap isi saldo berkurang dengan drastis.
 .



https://www.tokopedia.com/oleh2borneo

 Begitu banyak acesoris dan kerajinan yang membuat mata ingin memilikinya. Keindahannya memilaukan mata dan memilukan dompet hehehehehehe....



https://www.tokopedia.com/oleh2borneo/tas-kain-songket

https://www.tokopedia.com/oleh2borneo/dompet-songket?key=eyJwYWdlIjoiMSIsInNxIjoiIn0&pos=3
 Selain permata dan batu mulia banyak juga jenis-jenis kerajinan dan souvenir lainnya. Khas Kalimantan , khas Indonesia



Jumat, 04 Desember 2015

Renungan

Sumber : Boni Shallehudin

Kisah di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab :

Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu. Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata,
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!" "Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!".
Umar segera bangkit dan berkata, "Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, "Benar, wahai Amirul Mukminin."
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.
Pemuda lusuh itu memulai ceritanya,
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."
"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.
Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat', ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu", lanjut Umar.
"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, "kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.
Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata,"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah" ujarnya dengan tegas,
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".
"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya Umar.
"Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?" pemuda lusuh balik bertanya.
"Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.
Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, "Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al Farisi yang berkata..
"Salman?" hardik Umar marah, "Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.
Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua.
Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.
Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan
mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya.
Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh. Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi.
Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan. Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali. ”Itu dia!” teriak Umar, “Dia datang menepati janjinya!”. Dengan tubuhi bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pengkuan Umar.
”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. Aku..” ujarnya dengan susah payah, “Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak.. waktu..”. ”Kupacu.. tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia sekarat di gurun.. terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana..” ”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,
“Mengapa kau susah payah
kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?”
”Agar.. jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi ksatria.. tepat janji..” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya, “Lalu kau Salman, mengapa mau-
maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?
" Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”,
Salman menjawab dengan mantap. Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu. ”Allahu Akbar!”
tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak,
“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah
memaafkan saudara kami itu”.
Semua orang tersentak kaget.
“Kalian..” ujar Umar, “Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi
orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”
ujar kedua pemuda membahana.
”Allahu Akbar!” teriak hadirin. Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
Begitupun kita disini, dihari ini, saat ini..
sambil menyisipkan sebersit rasa iri karena tak bisa merasakannya langsung bersama saudara- saudara kita pada saat itu..".
Selamat berakhir pekan Sahabat.

Senin, 16 November 2015

Oleh-oleh Borneo - Banjar Baru | Tokopedia

Oleh-oleh Borneo - Banjar Baru | Tokopedia: Belanja online aman dan nyaman dari Oleh-oleh Borneo - Toko Snack, souvenir dan buku di Kalimantan
https://www.tokopedia.com/oleh2borneo/kain-sasirangan-bahan-katunhttps://www.tokopedia.com/oleh2borneo/peci-rotan


https://www.tokopedia.com/oleh2borneo/kerupuk-haji-acanhttps://www.tokopedia.com/oleh2borneo/sarung-samarinda-murah
https://www.tokopedia.com/oleh2borneo/badadaihttps://www.tokopedia.com/oleh2borneo/kaos-khas-kalimantanhttps://www.tokopedia.com/oleh2borneo/tas-manik-kalimantan

 Ingin memesannya bisa kontak di 081241713764 atau Pin BBM 57F6199C

atau bertransaksi lewat Tokopedia...sudah buka tokopedia atau belum ???



https://www.tokopedia.com/oleh2borneo





Senin, 14 September 2015

Sasirangan ( Riwayatmu dulu..... )

http://www.tokopedia.com/oleh2borneo


     

Arti kata sasirangan sendiri di ambil dari kata “sa” yang berarti “satu” dan “sirang” yang berarti “jelujur”. Sesuai dengan proses pembuatannya, Di jelujur, di simpul jelujurnya kemudian di celup untuk pewarnaannya. Ini berarti sasirangan artinya dibuat menjadi satu jelujurMenurut Sahibul Hikayat atau cerita rakyat, di sekitar abad XII sampai XIV pada masa kerajaan Dipa (Kalimantan Selatan)  kain sasirangan pertama kali di buat ,yaitu manakala Patih Lambung Mangkurat bertapa 40 hari 40 malam di atas lanting balarut banyu (di atas rakit mengikuti arus sungai). Menjelang akhir tapa nya, rakit Patih Lambung Mangkurat tiba di daerah Rantau kota Bagantung.Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengar suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih.

Minggu, 02 Agustus 2015

Indonesia Tanah Sajadah

Karya :  D. Zawawi Imron



Sebelum kita lahir ke dunia ini
Rahmat Allah telah menjelma air susu di dada ibu
Lalu kita diturunkan
Pada sebidang tanah air
Yang membentang dari Aceh sampai Papua
Itulah Indonesia
Yang gunungnya biru berselendang awan
Ada hamparan padi menguning keemasan
Serta pohon kelapa yang melambai di tepi pantai
Indahnya tanah air kita
Sepotong surga yang diturunkan Allah di bumi

Kita minum air Indonesia menjadi darah kita
Kita makan buah-buahan dan beras Indonesia menjadi daging kita
Kita menghirup udara Indonesia menjadi napas kita
Satu saat nanti kalau kita mati
Kita akan tidur pulas dalam pelukan bumi Indonesia
Daging kita yang hancur
Akan menyatu dengan harumnya bumi Indonesia

Tanah air yang indah
Harus diurus dengan hati yang indah
Hati yang taqarrub kepada Allah
Kalau Indonesia ingin tetap indah
Harus diurus dengan akhlak yang indah
Tanah air adalah ibunda kita
Siapa mencintainya
Harus menanaminya dengan benih-benih kebaikan dan kemajuan

Agar Indah yang indah semakin damai dan indah
Tanah air adalah sajadah
Siapa mencintainya
Jangan mencipratinya dengan darah
Jangan mengisinya dengan fitnah, maksiat, dan permusuhan

Tanah air Indonesia
Adalah sajadah
Sampai kita bersujud kepada Allah

Manfaat Sari Ikan Gabus

Kerupuk Ikan Gabus

Kerupuk Tulang Ikan Gabus



Kandungan dan Khasiat Sari Ikan Gabus / Ikan Kutuk
. Ikan gabus/ ikan kutuk (bahasa Jawa) memiliki nama latin Channa striata adalah ikan predator yang bisa ditemui di danau atau sungai yang berarus tenang. Ikan gabus atau ikan kutuk ini memiliki kepala seperti ular, sehingga diluar negeri biasa disebut dengan snike fish.

Ikan gabus / ikan kutuk adalah ikan yang banyak dijumpai di Indonesia, yang sudah dikenal oleh orang-orang tua dulu digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka khitan, luka sehabis melahirkan, luka bakar, dan luka-luka lainnya.

Selain itu bayi atau anak kecil juga sudah sering diberikan ikan gabus ini oleh orang-orang tua dulu. Tetapi jarang dari orang tua dulu mengetahui apa saja yang terkandung dalam ikan gabus/ ikan kutuk ini. Mengapa ikan gabus / ikan kutuk ini bisa berkhasiat. Hal ini belum diketahui sampai ada penelitian dari Prof. Dr. Ir. Eddy Suprayitno, MS, dari Universitas Brawijaya, Malang yang mengungkapkan kehebatan dari kandungan gizi dan khasiat ikan gabus ini bagi kesehatan.

Jumat, 24 Juli 2015

Manfaat Daun Serai Untuk Kecantikan

Manfaat Serai untuk Kecantikan

 Manfaat Daun Serai

Selain hal-hal tersebut, serai masih memiliki banyak manfaat. Misalnya dalam dunia kecantikan. Serai sering digunakan sebagai campuran pembuatan sabun. Pada hal ini serai bermanfaat untuk menjaga kelembaban kulit dan menghaluskan kulit.

Rabu, 01 Juli 2015

Awet Muda dengan Es Batu








Tampil cantik tidak harus selalu dengan perawatan mahal. Ternyata banyak bahan alami yang mudah ditemui mempunyai manfaat kecantikan. Salah satunya adalah es batu. Es batu bisa menjadi resep alami untuk masalah kulit.

Senin, 22 Juni 2015

PECI HITAM



Awal tahun delapan puluhan.

            “Alif, Ba, Tsa, Jim, kha, Kho......” suara serak dan  tegas seorang lelaki berpeci hitam terdengar mengisi ruangan yang berdinding tripleks melafazkan huruf Hijaiyah.
            Beberapa anak terpekur didepan buku Juz ‘amma nya. Mereka mengikuti lafaz yang diucapkan lelaki tersebut. Aku pun ikut melafazkannya dengan lantang. Ada sekitar 5 orang anak-anak didepan lelaki itu.
            Sementara ada beberapa anak yang lebih besar duduk membuat lingkaran sendiri dan masing-masing memegang mushaf Al Qur’an. Mereka mengaji bersama-sama . Terkadang lelaki tersebut menyela jika ada bacaan yang dianggapnya salah.
            Sambil menahan batuk lelaki itu kemudian memanggil satu persatu anak-anak yang memegang mushaf Al Qur’an untuk membacanya didepan dia. Kami berebut untuk saling mendahului agar lebih cepat selesai diajarkan membaca Al Qur’an oleh lelaki tersebut.
            Malang tubuhku yang kecil tak sanggup melawan tubuh teman-temanku yang lebih besar. Aku akhirnya mendapat urutan paling terakhir seperti biasanya. Saat berhadapan dengan lelaki itu yang ada hanya linangan air mata menghiasi pipiku.
            “Jangan menangis, lafazkan dengan benar huruf-huruf hijaiyah itu,”lelaki itu berkata tegas seperti membentak.
            Aku semakin terisak, bukan karena aku takut ditinggalkan teman-temanku , bukan pula karena aku takut gelegar suara lelaki itu tetapi karena sore ini film kartun kesukaanku sudah mulai tayang di TVRI dan aku iri pada teman-temanku yang sudah pergi menonton sementara aku masih harus berhadapan dengan lelaki itu untuk melafazkan huruf-huruf hijaiyah.
            Brak...
            Suara gebrakan dimejaku terdengar.Lelaki itu menghempaskan peci hitamnya sangat keras didepanku.
            “Bagaimana kamu mau pintar mengaji kalau kamu hanya bisa menangis saja ?”
            Lelaki itupun pergi berlalu meninggalkan peci hitamnya didepanku, semantara aku tertunduk dengan tangis yang semakin menjadi. Suara batuk lelaki itu terdengar mengiringi langkah kakinya meninggalkan mushola satu-satunya dikampung kami.

Rabu, 18 Maret 2015

Jumpa Habiburahma El Shirazy


"JIKA KAMU SEDANG MENULIS, JANGAN JADIKAN DIRIMU SEORANG KRITIKUS"

Habiburrahman El Shirazy (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976; umur 38 tahun. Selain novelis, sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini juga dikenal sebagai sutradara, dai, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, Taiwan dan Australia. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Di antara karya-karyanya yang telah beredar di pasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) Dalam Mihrab Cinta (2007), Bumi Cinta, (2010) dan The Romance. Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem. Dan yang terakhir adalah Api tauhid

 

 










Sabtu, 07 Maret 2015

Acil Penjual Apam



            



             Bel tanda istirahat berbunyi, membuyarkan seluruh murid-murid di SMP Favorit di kotaku. Demikian juga kelas ku,suara senyap berganti dengan riuhnya suara teman-temanku. Suara Pak Dudung guru IPA ku tak tedengar lagi oleh ku. Padahal tadi sempat akan memberikan PR yang akan dikumpulkan minggu depan.
            Kernyit pak Dudung nampak semakin terlihat ketika kami semua semakin tak sabar ingin keluar kelas. Selama 2 jam pelajaran mendengarkan suara pak Dudung saja rasanya seperti seharian penuh. Aduh aku merasa lebay deh untuk hal ini. Sambil menggeleng-geleng kepala pak Dudung beranjak meninggalkan kelas diikuti teman-teman yang sudah tak sabar ingin keluar kelas.
            Hari ini aku rasanya malas keluar kelas, ajakan Tina dan Jeje untuk jajan di kantin sekolah ku tolak. Walau dengan rengekan yang khas dari Jeje ajakan itu tetap ku tolak.
            “ Kamu kenapa sih Na , tumben gak mau jajan ke kantin,” rengek Jeje.
            ” Berdua aja gih , aku lagi males rasanya. Lagian aku masih kenyang nih. Aku kan gak mau ndut kayak si Tina,” selorohku sambil ngelirik lucu ke Tina.
            Tina memonyongkan mulutnya , dia paling tidak suka dikatain ndut. Dan bisa ngambek berhari-hari bila kata itu ditujukan padanya.
            “ dah yuk Je, biarin aja si Kurus Nana gak makan setahun, ndut tapi sehat kali”.
            Nah kan ngambeknya Tina sudah mulai beraksi. Sambil menggandeng tangan Jeje mereka berdua meninggalkan ku sendirian di kelas. Ya benar-benar sendirian karena tak ada lagi makhluk lain selain aku.
            Sebenarnya perutku keroncongan juga, apa lagi tadi sarapanku diserobot kak Doni sehingga jatahku jadi sedikit. Tapi jika aku jajan di kantin pasti nanti berpapasan dengan penjual Apam itu. Ih....sebel sebenarnya. Sudah semingguan ini penjual apam itu terus menawari ku kue apamnya, padahal aku sama sekali tak menyukai kue itu.
            Bagiku gak level makan kue kampung, apa lagi menawari di depan Tina ama Jeje. Kenapa sih harus aku yang selalu di tawari, gak ke Tina saja yang segalanya dimakan. Mengingat hal itu aku menjadi bertambah sebel dan perutku semakin mules karena lapar.
            Tiba-tiba dari arah pintu muncul sosok tubuh seperti si penjual kue itu. Benar, ternyata dia yang muncul di depan pintu seakan mencari-cari sesuatu. Dia melihatku dan tersenyum sambil sekali lagi menawarkan kue noraknya itu.
            “ Neng, tidak beli kue apam ya ?” tanyanya sambil tersenyum.
            Kemarahanku rasanya sudah sampai diubun-ubun. Aku tidak ke kantin walau perutku kelaparan karena untuk menghindarinya, eh dianya yang datang ke kelasku.
            “ Acil, saya tak ingin membeli kue apam cil,” ucapku dengan keras.
            “ Oh... tapi adek kan lapar, tidak usah beli deh ini acil beri untuk adek,” ucapnya penjual itu sambil berjalan kearahku.
            Aku berdiri dari bangku ku dan berjalan kearah yang berlawanan untuk menghindari penjual itu mendekatiku. Dan kemarahanku pun semakin memuncak. Aku berjalan ke arah pintu kelas untuk keluar.
            “ Acil, aku gak doyan sama kue kampungan yang acil jual. Kenapa sih memaksa saya terus cil,” kataku sambil berlalu keluar kelas menuju ke kantin menyusul Tina dan Jeje. Tak ku pedulikan wajah penjual itu yang terlihat sedih. Aku sudah muak dengannya aku sangat marah.
            Ternyata kemarahanku itu menjadikan ku sebuah ketakutan sebab saat pulang sekolah aku merasa ada seseorang yang mengikuti sepanjang jalan. Aku mencoba menengok ke belakang tetapi tak kutemukan wajah-wajah mencurigakan dibelakangku. Hanya beberapa adik kelasku yang cekikikan entah membicarakan apa. Tetapi perasaanku yang ketakutan membuat aku mempercepat langkah agar sampai dirumah lebih cepat.
            Sesampainya dirumah tanpa salam dan tanpa ketuk pintu aku segera masuk dan mengunci pintu. Ibu terkejut bukan main ketika aku masuk ke rumah seperti itu.
            “ Nana, kamu buat ibu terkejut. Mana sopan santunnya, mana salamnya , mana ketukan pintunya. Kenapa kamu na ?” Berondongan pertanyaan meluncur dari mulut ibu.
            Aku hanya tersenyum sama ibu dan bergegas ke kamar. Aku mendengar suara pintu di buka. Mungkin ibu keluar dan melihat di depan rumah untuk memastikan aku tak mengalami kejadian apa-apa.
            Dadaku masih berdebar dengan detakan jantung yang hebat. Apa memang benar ada yang mengikutiku ? sepertinya tak ada tetapi mengapa perasaanku sangat tak tenang ?
Aku mengganti seragam ku dan ingin ke dapur untuk mengambil segelas air putih siapa tahu dapat memberiku sedikit ketenangan dengan meminumnya. Ketika aku membuka pintu kamar, sayup-sayup terdengar suara ibu seperti berbicara dengan seseorang di depan pagar rumah.
            Berjingkat aku mendekati jendela ruang tamu. Ups...... ternyata ibu berbicara dengan acil penjual wadai. Samar-samar terdengar suara ibu yang meninggi. Ada apa dengan ibu, kenapa ibu memarahi Acil tersebut?
            “ Harusnya kita sudah sepakat dengan hal ini acil rahma, belum saatnya kita memberitahu dia. Dia masih belum lulus SMP, biarkan dia 3 tahun lagi, setelah lulus SMA kita akan membicarakannya. Jangan acil mengganggu dia lagi, bisa jadi kejiwaannya akan terguncang untuk saat ini,” kata ibu dengan suara yang seperti berbisik.
            Aku cukup jelas mendengarnya karena jarak pintu pagar dengan jendela ruang tamu tak begitu jauh. Sepertinya mereka membicarakanku atau siapa ?
            “ Maafkan saya Ibu Haji, saya tak bermaksud menakutinya atau mengambilnya kembali dari ibu. Hanya beberapa hari ini saya sedemikian rindu padanya,” suara sang acil diiringi isak tangis.
            Aku segera ke dapur dan tak lagi melanjutkan acara ngupingku. Aku takut ibu mengetahui dan memarahiku, karena tak sopan menguping pembicaraan orang lain. Dan ibu bakalan akan marah, dan melaporkan hal itu ke ayah.
            Aku kembali ke kamar, dalam benakku kembali menari-nari percakapan ibu dengan acil penjual wadai. Siapakah yang dimaksud itu apakah aku ?
Ah......perasaan tak enak semakin menjadi-jadi, haruskah aku bertanya kepada ibu ?
Tidak...... itu akan membuat ibu tahu bahwa aku menguping pembicaraan orang. Ah...sudahlah aku tidak mau memikirkan lagi. Toh Cuma pembicaraan seorang penjual kue apam.
            Keesokan hari ketika jam istirahat tiba, aku yang antusias mengajak Tina dan Jeje ke Kantin. Tina tak ngambek dan cemberut lagi sebab hari ini aku menjanjikan untuk mentraktir mereka berdua. Wajah ceria Tina kembali merekah.
            Ketika melewati tempat biasanya penjual kue itu berada tak terlihat lagi acil penjual wadai. Mata ku liar kesana kemari mencari acil tersebut. Dia sama sekali tak terlihat. Seharusnya aku merasa senang karena tak ada lagi yang menggangguku dengan menawari kue apa itu, tetapi kenapa ya hari ini aku ingin sekali melihatnya.
            Dan anehnya, mengapa hari ini aku kepingin makan kue apam ?

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...