Selasa, 09 September 2014

Buku




Aku mencoba memahatmu
Tak bisa ku pahat sehalus pahatan perupa
Aku coba melukismu
Namun tak seindah lukisan pelukis
pun ku coba membuat irama bagimu
Rasanya tak semerdu sang biduan mendendangkan
Akhirnya
Aku mengejamu
Huruf demi huruf
Kata demi kata
Kalimat demi kalimat
Paragraf demi paragraf
Bab demi bab
Ini buku ku
Buku tentang kamu
tentang memahamimu
tentang indah dirimu
tentang jalinan sempurna
antara kamu dan aku



Banjarbaru, 09 September 2014

Sabtu, 06 September 2014

Mengapa harus aku ?




Sudah puluhan purnama menghias langit malam

Sudah ribuan kali berganti cuaca

Terik mentari dan guyuran hujan

Sambung menyambung tiada henti

Tapi jejakmu tak pernah terhapus

Ikatanmu tak pernah retas

Seberapa kuat mencoba

Seberapa kuat mencabik

Lilitan angan terus membebat

Mengapa begitu dalam kau cengkramkan kenangan dibenakku

dan

 mengapa harus aku ???

Sabtu, 23 Agustus 2014

Kau Tak Kan Terganti



Karya : Uswarman
Semua Tak Sama Karya : Uswarman


Setelah membenamkan dirimu terlalu lama dalam benakku
Masih tersisa bayangmu yang melekat dalam ingat
Berdegub jantung kencang dan sakit
Ketika semburat ingat pada apa yang telah kita lalui
Seakan waktu melambat
Meniti pada sirkuit takdir yang harus dilalui
Rasanya cukup dalam
Terperosok dalam keindahan pesona milikmu
Mencoba menata kembali
Menyingkirkan semua indah peluk dan aroma harum tubuhmu
Tapi dalamnya rasa
Tak bisa menampiknya
Aku tetap terbenam dalam keindahan tawamu
Tak ada yang sama
Ketika aku coba menyentuh lagi
Ketika aku coba mencium lagi
Ketika aku mencoba mengecup lagi
 Seharum aroma mu
Sehangat pelukmu
Sedalam kecupanmu
Entah sampai kapan
Dirimu bisa tergantikan


Banjarbaru,23 Agustus 2014

Sabtu, 16 Agustus 2014

DIMANA BUMI DIPIJAK DISITULAH LANGIT DIJUNJUNG






Berapa tahun yang lalu saya bekerja pada sebuah perusahaan swasta di daerah Papua Barat tepatnya di Teluk Bintuni. Disebuah kecamatan yang jarak tempuh dari ibu kota kabupatennya sekitar 150 km dengan kondisi jalan yang sangat jauh dari layak. Entah kalau sekarang, semoga jalan itu telah layak digunakan. Karena saat saya di sana sekitar tahun 2007 jalan itu masih berupa jalan tanah yang ditaburi koral dan dikeraskan dengan mesin pengeras jalan.

Ketika sampai di daerah SP atau Satuan Pemukiman yang lebih keren dinamakan daerah Transmigrasi, saya menemui beberapa  saudara yang berasal dari Jawa dan Nusa Tenggara. Saat saya bertanya kepada  mereka kapan mereka berada di SP tersebut mereka menjawab sudah berada disana sejak tahun 1997. Hidup berdampingan dengan beberapa kampung yang dihuni oleh penduduk asli Papua.

Beberapa saat saya disana, saya mengamati ada beberapa hal yang saya nggap janggal untuk ukuran tradisi saya yang kebetulan terlahir berdarah Jawa. Tradisi masyarakat Papua yang mungkin terasa aneh bagi saya. Yang paling mencolok adalah ketika sepasang suami istri  pergi ke lading dan kembali pada sore harinya, saya melihat sang istri yang membawa bahan beberapa hasil kebun di dalam Noken atau tas yang dikaitkan dikepala yang terbuat dari serat kayu.

Tak hanya itu, sang istri pun akan menggendong anaknya  bila sang anak masih bayi. Hal tersebut juga berlaku bila yang ke ladang itu adalah ibu atau saudara perempuan mereka. Sementara para suami atau lelakinya tak membawa apa-apa selain busur dan panah atau tombak.

Para lelaki akan berjalan di depan para wanita tersebut, yang terkadang sedikit terseok karena beban berat yang dibawanya. Muncul dalam pikiran saya ketika itu : “alangkah kejamnya para  lelaki tersebut tak membantu  para wanitanya membawa beban yang berat.”

Itulah pemikiran saya yang telah diajarkan bagaimana tata karma saya sebagai orang luar Papua yang belum paham adat istiadat saudara kami disana. Saya rasanya tak adil jika mengadili para lelaki tersebut tanpa bertanya kepada mereka.

Setelah beberapa lama saya di daerah tersebut, saya mengenal beberapa teman lelaki papua. Mereka ramah, ketika bergurau mereka akan tertawa lepas, atau meneriakkan kata-kata untuk melepaskan kegembiraan mereka. Kepada mereka saya bertanya tentang apa yang selama ini jadi unek-unek di kepala. Mengapa para lelaki seakan tega tak membantu para wanitanya ?

Jawaban yang  saya dapat dari mereka sungguh tak pernah saya duga sebelumnya. Mereka menerangkan bahwa mengapa para wanita yang membawa barang yang berat dan mereka tidak karena sebenarnya mereka lah yang melindungi wanita itu. Karena kalau mereka membawa barang berat mereka tak akan bisa melindungi wanita mereka ketika musuh atau binatang buas mengganggu. Memang di papua masih saja ada permusuhan antara suku satu dengan suku yang lain, dan biasanya sasarannya adalah mereka yang lemah wanita dan anak-anak.Penjelasannya sangat masuk diakal menurut saya, yang telah menghakimi mereka dalam pikiran saya.

Setiap daerah di Nusantara memiliki kearifan sendiri-sendiri, adalah tidak bijak memaksakan sebuah kebijakan tanpa mengacu pada adat dan istiadat setempat. Karena pasti  akan ada saja benturan. Baiknya Mayoritas tak menekan kepada minoritas, biarkan pembangunan mengacu pada kearifan yang ada di daerah tersebut.

Sayangnya masih banyak orang yang masih memaksakan kehendak mereka atau golongan mereka. Mereka tak berpikir, Tuhan menciptakan setiap diri tak sama dengan yang lain. Tetapi mengapa mereka menginginkan keseragaman ?

Apakah mereka merasa lebih dari Tuhan.

Rasanya tepatlah kata pepatah ‘ dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung”

Kearifan lokal adalah salah satu sumber daya untuk memajukan pembangunan bagi daerah.

Papua…..ah jadi ingin menyanyi lagu Sajojo
Sajojo,
 sajojo
Yumanampo misa papa
Samuna muna muna keke
Samuna muna muna keke
Sajojo, sajojo
Yumanampo misa papa
Samuna muna muna keke
Samuna muna muna keke
Kuserai, kusaserai rai rai rai rai
Kuserai, kusaserai rai rai rai rai
Inamgo mikim ye
pia sore, piasa sore ye ye
Inamgo mikim ye
pia sore, piasa sore ye ye
               

Gambar sumber : Kompas

Sabtu, 09 Agustus 2014

Membaca Al Qur'an (Motivasi 09-08-2014)




Ada seorang remaja bertanya kepada kakeknya:
“Kakek, apa gunanya aku membaca Al Qur’an, sementara aku tidak mengerti arti & maksud dari Al Qur’an yang kubaca “
Lalu si kakek menjawabnya dengan tenang:
“Cobalah ambil sebuah KERANJANG BATU ini, bawa ke sungai, & bawakan aku sekeranjang air ...“, sambil menunjuk satu keranjang batu terbuat dari rotan yang sudah kotor.

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tapi semua air yang dibawanya habis sebelum ia sampai di rumah.
Kakeknya berkata
“ Kamu harus berusaha lebih cepat “. Kakek meminta cucunya kembali ke sungai.
Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-laci keranjangnya kosong tanpa air sebelum sampai di rumah.

Dia berkata kepada kakeknya “kek, tidak mungkin bisa membawa sekeranjang air. Aku ingin menggantinya dengan ember“.
“Aku ingin sekeranjang air, bukan dengan ember “ Jawab si kakek tegas.
Si anak kembali mencoba, dan berlari lebih cepat lagi. Namun tetap gagal juga. Air tetap habis sebelum ia sampai di rumah. Keranjang itu tetap kosong.
“Kakek ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja. Air pasti akan habis di jalan sebelum sampai di rumah"

Kakek menjawab:
“ Mengapa kamu berpikir ini tidak ada gunanya? Coba lihat dan perhatikan baik-baik apa yg terjadi dengan keranjang itu “.
Anak itu memperhatikan keranjangnya, dan dia baru menyadari bahwa keranjangnya yang tadinya kotor berubah menjadi sebuah keranjang yang BERSIH ! luar & dalam.

“Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Al Qur’an? Boleh jadi kamu tidak mengerti sama sekali. Tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu sadari kamu akan berubah, luar dan dalam. Itulah pekerjaan Allah SWT dalam mengubah kehidupanmu...".

Subhanallah. Tidak ada yg akan sia-sia ketika kita membaca Al Qur’an.
"Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Quran maka baginya satu pahala dan satu pahala diganjar sepuluh kali lipat". (HR. Tirmidzi)

Sabtu, 02 Agustus 2014

LEBARAN 2014 (Traveling Ke Pujon)

Lagi-lagi lebaran tahun ini aku tak bisa pulang ke tempat keluargaku. kali ini aku menelusuri belahan Kalimantan Tengah yang baru pertama kali aku jelajahi.
Layaknya seorang Backpacker dari banjarbaru ke terminal Pal 6 Banjarmasin aku meminta diantar teman sekantor dengan mobil kantor. Stelah sampai diterminal aku menaiki sebuah bus tua yang akan mengantarkan aku ke Palangkaraya.
Dengan tiket seharga 55 ribu rupiah bis membawa aku menelusuri jalan trans Kalimantan menuju ke Palangkaraya. Perjalanan yang penuh sensai kehausan hahahahahahahaha, karena aku tetap berpuasa ditengah cuaca yang sangat terik dan bus yang tak ber AC.
Bus berjalan perlahan membelah jalan-jalan dikota Banjarmasin menuju luar kota. Cuaca panas tak menghambat aku untuk menikmati pemandangan yang tersaji lewat jendela bus. Salah satunya adalah kemegahan Jembatan Barito sebagai sarana untuk menyeberangi sungai besar yang membelah Kalimantan Selatan.
Sekitar 2 sampai 3 jam perjalanan aku telah sampai di kota Kuala Kapuas. Kota ini berjulukan Kota Air. Mungkin karena banyak terdapat sungai-sungai kecil yang membelah kotanya sehingga dinamakan Kota Air.

Bus pun melaju pada jalan yang mulus berliku membelah kabupaten Pulang Pisau. Disepanjang jalan kiri dan kanannya tak henti-henti tanaman kelapa sawit, Karet dan pohon kayu balam menghiasi panorama jendela bisku. Angin yang berhembus menepis panas yang seakan tak pernah pergi. Rasa kantuk pun menyergapku hingga aku terlena tanpa sadar aku memasuki sebuah jalanan beton yang berliku. Teman di sampingku berkata bahwa bus kami melewati jembatan terpanjang se Indonesia. Ah...bercanda temanku nih, yang ku tahu jembatan terpanjang adalah Jembatan Suramadu. Tetapi ternyata temanku tersebut benar Jembatan Tumbang Nusa ini adalah memang jembatang terpanjang dan meliuk sepanjang 10 KM.
Sekitar 6 Jam perjalanan sudah ku tempuh dan akhirnya aku sampai diterminal bis yang megah di pinggir kota Palangkaraya.
Karena menjelang sore, aku memutuskan untuk menginap semalam di kota Palangkaraya untuk keesokan harinya berangkat menuju Pujon. Setelah semalaman beristirahat di sebuah hotel kelas melati di daerah pasar Blauran, aku dijemput travel yang akan membawaku ke Pujon.
Dengan melewati Jembatan Kahayan yang megah aku keluar dari kota Palangkaraya.


Dengan menggunakan jasa travel tersebut aku membayar sebesar 100 ribu rupiah untuk sampai di Pujon.Agak lumayan nyaman perjalanan kali ini karena tak menaiki bus seperti ke Palangkaraya. Apalagi setelah sampai di simpang 5 Timpah yang ternyata jalan ke Pujon adalah jalan yang tak beraspal.

Jalan tersebut ternyata adalah jalan bekas jalan Logging dahulu ketika masa kayu masih berjaya di bumi kalimantan. Dibeberapa tempat saya melihat sebuah tower yang kata teman disebelah saya duduk adalah tempat menambang emas. Ternyata daerah Pujon adalah daerah yang kaya dengan emas.
Ah...sayang, ternyata penambangan itu banyak menyisakan kubangan-kubangan air yang banyak mengandung mercuri. Entahlah bukit yang merangas itu apakah sebagai akibat dari eksploitasi hutan jaman dahulu atau bukan, tetapi yang nyata terlihat daerah sepanjang jalan menuju Pujon adalah daerah yang merangas. Menyedihkan....
1.5 jam berlalu dari simpang 5 Timpah, akhirnya aku sampai di Pujon. Saudaraku menyambut aku dengan senyuman. Alhamdulillah masih bisa bersilaturahmi dengan mereka.
Gema Takbir berkumandang dari Masjid di Pujon, tanda esok adalah hari raya Idul Fitri. Masjid tersebut berdampingan dengan sebuah Gereja.
Pagipun tiba dan aku beserta saudaraku pergi ke Masjid untuk melaksanakan sholat ied. Jamaahnya pun membludak sehingga ada yang akan melaksanakan sholat ied di luar masjid bahkan sampai di depan Gereja.
Setelah selesai sholat, saya diajak keliling kampung Pujon oleh saudaraku. Pergi ke tetangga-tetangga yang mengadakan doa selamat setelah sholat ied. Alangkah terkejutnya aku sebab yang mengadakan doa selamat bukan 1 atau 2 rumah, tetapi ada lebih dari 15 rumah yang harus kami kunjungi. Bukan masalah kecapekan berjalan kaki keliling kampung, tetapi perut ini sudah kekenyangan akibat setiap rumah yang kami sambangi, kami harus makan.
Untung saya memakai sarung jadi tak perlu melonggarkan ikat pinggang hahahahahahaha.
Sepanjang hari pertama Lebaran, yang ada hanyalah silaturahmi ke tetangga-tetangga di kampung tersebut. Dan lebaran hari kedua aku menyempatkan berkeliling ke tempat-tempat yang kuanggap unik.
Kapal Angkut Menyeberangi Sungai kapuas


Rumah Tua
Makanan Khas di Pujon

Ukiran Patung


Tiwah : Tempat sesaji
Ah.....sensasi luar biasa kudapat kan diperjalananku di Lebaran tahun 2014 kali ini.
Semoga aku masih bisa bertemu dengan Ramadhan dan Lebaran di tahun 2015. Amin Ya Robbal Alamin........................


Gambar dari berbagai sumber dan dokumen pribadi.

Jumat, 01 Agustus 2014

:: ADIKKU TERSAYANG ::

Kakak-Adik Karya Basuki Abdullah
sumber : Family Guide


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya.
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang dan memarahinya, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah bisa lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun dan aku berusia 11 tahun.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah Universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus
Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…”
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup membaca banyak buku" Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”.

Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,“Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini”.

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang”.

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun, dan aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, kemudian teman sekamarku masuk dan memberitahukan,“Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”

Dia menjawab sambil tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, kemudian berkata, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku lalu menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20 dan aku 23.

Suatu hari aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”

Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”
Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Seringkali suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku juga tidak setuju, ia mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur di pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras untuk memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, kemudian ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan wajah yang serius, ia membela keputusannya.
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Saat adikku berusia 30 tahun, ia menikahi seorang gadis petani dari dusun. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”
Tanpa berpikir panjang ia menjawab, “Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar dari bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Bisakah kita memiliki jiwa besar seperti si adik yang seperti dalam cerita, … tapi bagaimanapun, yang namanya Saudara patut kita jaga dan kita hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak. Karena apa arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan saudara dan keluarga kita ???


Aku Dedikasi cerita ini buat Kak Dinan......

Rabu, 18 Juni 2014

RISMA #1



Bunda....
Engkau di depan 
Ketika para Lelaki Pemimpin tak sanggup memberi solusi
Engkau lantang berteriak 
Ketika si Jantan Pemimpin cuma bisa terdiam
Engkau menyingsingkan lengan mu
Ketika para Pria Ustadz hanya mengeluarkan suara
Engkau mengorbankan jiwa ragamu
Ketika yang lain bersembunyi sebagai pengecut dibalik mobil dinas mewahnya

Bunda ....
Nyalimu sebesar harimau Putih yang di tunggangi Mbah Sa'adi
Leluhur pendiri Kediri

Bunda.......
layaknya seorang ibu
Engkau memahami benar
Apa yang bisa merusak akhlak anak-anakmu

Bunda....
Salut dan penghargaan sebesar-besarnya untuk dirimu



Sabtu, 14 Juni 2014

Motivasi #1




Seorang tua sedang berjalan pulang dari memotong kayu di gunung, diperjalanan dia berjumpa seorang pemuda yg baru saja menangkap seekor kupu2 di genggamannya.. 
Pemuda ini menantang orang tua itu. 
"Hei pak tua, gimana kalau kita bertaruh ?"
 "Gimana bertaruhnya ?" tanya org tua itu.
 "coba tebak kupu2 dalam genggamanku ini hidup atau mati ? Kalau kamu kalah, sepikul kayu itu jadi milik ku." jawab sang pemuda. 
Si pak tua setuju, lalu menebak, "kupu2 dalam genggamanmu itu mati." 
Sang pemuda ketawa ngakak, "kamu salah." 
Sambil membuka genggamnya, kupu2 itu pun terbang pergi. 
Si pak tua berkata, "baiklah, kayu ini milikmu." 
Setelah itu dia menaruh pikulan kayunya dan pergi dengan gembira. Si pemuda tidak mengerti kenapa pak tua itu begitu gembira, tapi karena mendapat sepikul kayu bakar, dia dengan gembira juga membawanya pulang. 
Sesampainya di rumah, Ayah si pemuda bertanya soal asal muasal sepikul kayu itu. Si pemuda bercerita dg semangat.... 
Sang ayah marah setelah mendengar cerita si anak, dan berkata, "kamu mengira kamu betul menang ? Kamu kalah tapi tidak mengetahui bagaimana kalahnya." 
Si anak sedih dan bingung . Sang ayah memerintahkan anaknya memikul kayunya, berdua mereka mengantarkan kayu itu ke rumah pak tua itu dan minta maaf kepadanya. 
Si pak tua hanya mengangguk, tersenyum tanpa bilang apa-apa. Dalam perjalanan pulang, si anak bertanya soal ketidak mengertiannya. 
Sang ayah menarik napas panjang, menerangkan, "pak tua itu sengaja bilang kalau kupu2 itu sudah mati, supaya kamu mau melepaskan kupu2 itu, sehingga kamu menang. Kalau dia bilang kupu2nya hidup, mungkin kamu akan meremas kupu2 dalam genggamanmu hinga mati, agar kamu yg menang. Beliau kalah sepikul kayu, tapi memenangkan KASIH."

Selamat pagi Sahabat.... Manusia kadang seperti anak tersebut ada di mana2 .... dalam dunia ini. Mari kita membuka diri untuk berlaku berani dan bijak seperti pak tua itu..

Sabtu, 26 April 2014

Ronan Keating -This I Promise You


My love, here I stand before you

I am yours now from this moment on

Take my hand, only you can stop me shaking

We'll share forever, this I promise you



[Chorus]

And when I look in your eyes

All of my life is before me

And I'm not running anymore

'Cause I already know I'm home

With every beat of my heart

I'll give you my love completely

My darling, this I promise you



My love, I can feel your heartbeat

As we dance now closer than before

Don't let go, 'cause I could almost cry now

This is forever, I make this vow to you



[Repeat chorus]



My darling, this I promise you

My darling, this I promise you





Dedicate #YFSM.....



Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...