Senin, 09 Desember 2013

ADZAN PERTAMA DENDY




 Cerpen ini bisa di dapatkan di buku Icha dan Bunga Mawar



  

            Jam menunjukkan pukul 10.30, suasana ruang kelas dua SD negeri Watambo menjadi ramai. Setiap anak saling mendahului untuk keluar dari kelas. Ibu guru wali kelas dua hanya bisa berteriak agar anak didiknya tak sampai jatuh saat berdesak desakan.

            Hari ini tak biasanya dendy kelihatan tak bersemangat. Dengan perlahan dia beranjak dari mejanya.

            “ Dendy kenapa ?” tanya Ibu wali kelas agak gusar sebab saat pelajaran terakhir tadi dia melihat hal yang tak biasanya pada diri anak muridnya tersebut.

            “ Tidak ada apa-apa bu guru,” jawab dendy sambil menundukan kepala.

            “ Apa ada temanmu yang mengganggumu dendy ?” tanya ibu guru lagi gusar.

            “ Tidak kok bu guru, dendy mau pulang saja, selamat siang bu guru,” dendy menjawab sambil berlalu dari hadapan ibu guru.

            Tatapan ibu guru tak lepas dari tubuh dendy yang telah berlalu dari hadapannya. Entah apa yang terjadi pada anak didiknya itu sehingga dia tak semangat dalam belajar hari ini.

            Dendy berjalan perlahan meninggalkan sekolah dengan menundukkan kepalanya menatap kerikil-kerikil yang ada di jalan. Beberapa teman memanggilnya untuk bermain bola di lapangan tetapi tak di hiraukannya.

            Dia pun tak ingin dimarahi nenek karena terlambat pulang, apa lagi pulang dengan pakaian kotor karena bermain bola. Tetapi bukan karena itu dia hari ini tidak semangat di sekolah.

            Dia teringat kemarin saat selesai sholat magrib di mesjid dekat rumahnya, ustadzah zainab memanggil dia dan mengatakan bahwa lusa adalah giliran dendy untuk melantunkan Adzan saat waktu sholat magrib tiba.

            “ Andai papa ada di sini, pasti dia akan mengajariku  adzan,” harap dendy. Tapi pikiran itu segera di tepisnya, karena dia tahu itu adalah sebuah harapan yang sia-sia karena ayahnya tak mungkin sekarang akan datang. Ayahnya jauh bekerja di pulau kalimantan, jadi tak mungkin meminta ayahnya mengajari adzan.

            “ Dendy sudah pulang,” suara nenek membuyarkan lamunannya sejak dari sekolah tadi.

            “ Sudah nek, “ jawab dendy agak tak bersemangat.

            “ Lho, ada apa…kok terlihat sedih. Teman mu ada yang menggodamu ya di sekolah,” tanya nenek.

            “ Tidak kok nek,…..kakek dimana nek,” tiba-tiba dendy terbersit sebuah ide.

            “ Kakek ke kebun di yang pulau sebelah, mungkin baru lusa pulangnya. Kan kakek panen jambu mente di kebun yang dulu pernah juga dendy pergi kan ?”

            Dendy kembali murung, padahal dia ingin belajar adzan dengan kakek.

            “ Memangnya ada apa sih den,” tanya nenek lagi.

            Lama dendy terdiam tetapi kemudian dari bibir mungilnya keluar juga keluhan bahwa dia di harus melantunkan adzan pada saat sholat  magrib besok. Dendy berkata kepada nenek bahwa dia masih belum terlalu hafal dengan lafadz adzan. Dan ingin agar kakek mengajarkan bagaimana melafadzkan adzan yang bagus.

            Nenek tertawa mendengar keluhan dendy. Nenek kemudian menyuruhnya segera makan dan nanti setelah selesai makan nenek akan mengajarkan cara adzan.

            “ Memangnya nenek tahu Adzan, kan adzan hanya bisa di lakukan oleh seorang laki-laki nek,” tanya dendy.

            “ Ya memang benar adzan itu harus di lantunkan oleh seorang laki-laki tetapi kan nenek sering mendengar saat adzan tiba dan di televisi kan sering ada adzan yang di lantunkan dengan bagus,” jawab nenek dengan tertawa.

            “ Oh..iya ya nek…kan di televisi sering juga ada adzan. Kalo begitu dendy makan terus nenek ajari ya adzannya dan nanti dendy juga akan melihat di televisi.”

            “ Ya sudah makan dulu ya….”

            Dengan riang dendy menuju ke kamar untuk mengganti seragamnya dan menuju ke dapur untuk makan. Selesai makan dia mencari neneknya yang berada di kios milik nenek di depan rumah.

            Nenek menyuruh dendy untuk melantunkan adzan di depannya. Beberapa kali dendy melakukan kesalahan karena terbalik melafazkannya. Nenek dengan sabar mengajari bagaimana lafadz adzan yang benar. Sampai akhirnya dendi tak lagi melakukan kesalahan saat melafadzkan adzan.

            “ Nah, dendy sudah benar melafadzkannya, tinggal dendy mengingat urutannya ya. Nanti saat di televisi saat adzan dendy harus mendengarkan dan coba mengikuti cara mereka melafadzkannya ya.”

            “ Iya nek,…dendy sudah tak lupa lagi dan urutannya pun dendy sudah hafal. Nanti tinggal coba ikuti iramanya seperti di TV ya nek.”

            “ Pintar deh cucu nenek,” kata nenek sembari mencium dendy.

            “Ih…apa sih nenek ini…kan dendy sudah besar . malu kan di cium…,”

            Nenek hanya bisa tertawa mendengar protes dendy.

            Sorenya saat pergi mengaji dan menjelang sholat magrib di masjid kampungnya dendy masih terus menghafalkan lafadz adzan agar nanti tak tertukar urutannya. Di dengarnya juga dengan seksama saat temannya yang malam itu menjadi muadzin. Begitupun ketika pulang ke rumah dan di televisi diperdengarkan suara adzan. Dengan seksama di dengarkannya kemudian dengan suara lirih dia mengikutinya.

Keesokan harinya pun seperti itu saat sekolah dan pulang sekolah, tak henti-hentinya dia dengan duara lirih melantunkan adzan. Dendy tak ingin saat dia adzan di depan mikropon masjid nanti dia melakukan kesalahan.

            Saatnya pun tiba, setelah selesai mengaji dan menjelang sholat magrib, ustadzah zainab memanggil dendy dan menyuruhnya untuk melantunkan adzan. Dendy dengan penuh percaya diri berdiri di depan mikropon dan melantunkan adzan.

            Sementara itu nenek sedang menelpon seseorang.

            “ Kamu dengar tidak suara dari mesjid? “ tanya nenek kepada seseorang di telepon.

            “ Iya mak saya dengar, itu suara adzan…memang kenapa kok saya di suruh mendengar adzan ?” kata suara lelaki di telepon.

            “ Mamak sengaja meneponmu untuk mendengar adzan itu, sebab yang melantunkan adalah anakmu dendy,” kata nenek kemudian.

            “ Subhanallah….mak, ternyata dia sudah berani….Alhamdulillah mak, saya sangat bersyukur. Terima kasih ya mak, mamak sudah menjaga anak-anakku dan mendidiknya,” kata suara itu yang tak lain adalah ayah dendy.

            “ Mamak juga bersyukur, anak-anakmu tidak nakal dan pintar. Ya sudah nanti setelah pulang kamu telepon dendy ya.

            “ Iya mak pasti, nanti saya telepon dia.”

            Sepulangnya dari masjid dendy segera mencari nenek. Dengan gembira dia bertanya bagaimana adzan yang dilantunkan dia tadi. Nenek hanya tersenyum dan mengangkat dua jari jempolnya. Sambil mendekati dendy nenek ingin menciumnya tetapi dendy segera berlari ke dalam rumah, karena malu dengan teman-temannya yang menggoda dia.

            Tetapi tak lama berselang suara nenek memanggil dendy. Nenek memberikan telepon ke dendy dan terdengar suara ayahnya telepon.

            “ Halo anak papa”.

            “ Halo pa…..”

            “ Wah selamat ya anak papa sudah berani adzan di mesjid, siapa yang mengajari ?”

            “ Maunya sih papa..tapi papa jauh sih,dan papa juga tidak dengar,” suara dendy terdengar ngambek.

            “ Siapa bilang ? saat dendy adzan tadi papa dengar kok. Nenek menelpon papa tadi saat dendy adzan. Jadi papa dengar……hebat anak papa……,” kata ayah.

            “ Jadi tadi papa dengar ya, bagus tidak pa?” tanya dendy .

“Sangat bagus dan yang terpenting dendy sudah buat papa bangga…”
 “ Terima kasih juga ya pa….dendy juga sangat senang kok.”

            Dengan berseri-seri dendy menceritakan tentang bagaimana dia belajar melantunkan adzan kepada ayahnya. Bagaimana pun ini adalah adzan pertama dia dan dendy sangat gembira karena telah dapat melantunkan adzan dengan baik.

            Malam pun semakin gelap merangkul kampung Watambo yang membuat deburan ombak di laut semakin jelas terdengar. Bulan sabit terlihat jelas seperti sebuah senyuman indah. Itu seperti senyum indah dari Tuhan buat dendy yang telah indah melantunkan kalimat-kalimat Nya.

Kamis, 05 Desember 2013

Biduk






Karya : Maruddin Er Faraqqi



Untaian kata yang kau tulis.

Tersirat deru nafas hidupmu,

Mengejar asa dan citamu.

Kata yang terangkai dalam kalimatmu...

Tersurat gelombang menghantam bidukmu...

Kalimat yang tersusun dalam paragrafmu..

Terlukis dan tergambar peluh perjuang hidupmu..

Ingin kulempar jangkar hidupKu tuk meraih biduk hidupmu.

Namun betapa jauh kau terhempas ke dalam samudramu.

Kuhempaskan biduk ku di tepi ini...

Dan menanti angin melabuhkan bidukmu

Pada dermagaKu

Kereta Senja



Karya : Maruddin Er Farraqy





Yogya-Jakarta seperempat perjalanan sudah.


Kulewati dalam ke sendirian.


Terpikir akan seseorang di sebrang sana.

Andaikan ia bisa menemani pejalanan ini.

Terasa dingin AC gerbong ini,

Gelak tawa, senyum manis, menghias perjalanan ini,

Aku sandarkan lelah dalam bahunya,

Gengam erat jari tangan diatas paha ini,

Semakin lepas laju kreta ini semakin erat peluk cinta dan sayang

Semakin cepat tiba disana.

Sayang ini hanya pandangan diluar jendela gerbong ini

Hingga bosan 8 jam dalam perjalanan ini.



Senin, 02 Desember 2013

Kalbu dalam Nada Biola


Karya : Johari Mustafa
 
Suara rintihan mendesis teriris
Mengalun dalam nada biola
Gesekan yg menyayatkan kalbu
Terurai lembaran gelap dibelakang
Disitulah ada tangisan, tawa, sedu
Sedih, hampa ,galau yg beriringan
Mengisi silih berganti dalam rotasi
Waktu renung yg kelam dalm renta
Tangis yg punya banyak alasan
Terpekur dalam nada rintih
Penuh sesak sarat derita
Gesekan biola yg bercerita
Lamunan yg larut hanyut ke arus
Dalam malam dekap
Lelaki ringkih tertatih termenung
Padam terlelap sepi sendiri
Dikaki malam gulita gelapkan
Pandangan yg rabun kekaburan
Menggoreskan mata hati
Pada lengkingan biola
Yg terus menjeritkan perih
Berdarah pedih dalm bayangan
Ini masa lalu itu masa kini
Satu persatu menghujamkan
Bara menuntun langkah pulang
Tunduk simpuh luluh terpuruk
Disunyi alam ilahi mengadu
Sayatan demi sayatan yg teriring
Terdengar makin nyaring
Kesuraman senja di umur yg renta
Adalah barisan kalimah
Tersimpun tersimpul dalam simpu
Didalam ........... sanubari gersang
Uraian risalah kelamnya muda
Mata hati berkaca menitis
Bagai gerimis sendu pagi
Tampa alasan saat waktu terus
Mamah usia, terdalam riak nurani
Dalam perih mendamba pulang

 

Maret 2000

Puisi Karya Noor Maryam






TENTANGMU

Melihatmu
Sesuatu yang indah yang tak bisa ku tulis
Disitu ada cerita tak berbuku
Ada rindu yang tak pernah habis diburu
Cerita baru setiap aku menghampirimu
Kadang tentang alismu yang hitam
Kadang tentang bibirmu yang mengejar gelas kopi
Atau tentangmu yang telah pergi..."


LELAKIMU,AKU DAN KAMU

Maafkan perempuanku
Atas rindu yang kurasakan pada lelakimu
Kurindui dirinya
Kubayangi langkahnya dalam setiap lagu yang kudengar
Setiap kisah yang ku tonton
Aku masukkan lelakimu
Lelaki yang tak bisa kuhapus dari sudut - sudut ingatanku

Perempuanku
Aku mengerti kita tak mungkin berbagi dalam satu hati lelaki
Aku dan kamupun tak pernah inginkan itu
Biarlah aku membuntutinya dalam dosa indahku
Mengenang lelakimu yang tertulis dilembar jejakku

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...