Sabtu, 30 November 2013

Humor Ambon






OMA PINK

Satu hari bagini ada Oma Mince lewat deng dia pung motor metic..
Pas lampu merah Oma pun berhenti, tp waktu lampu ijo manyala oma seng jalan.
Akhirnya polantas datang tegur Oma.

Polantas: "Oma... itu sudah lampu ijo kenapa seng jalan?"
Oma: "Beta ada tunggu beta punk warna kesukaan ini nyong e "
Polantas: "Barang oma suka warna apa??"
Oma: PINK gitu Loh!

Hahahaeee...


OPA ROMANTIS

Opa ni tiap kali panggel oma selalu deng panggilan darling, sayang, honey...
-opa: darling su makang...???
-opa: sayang tehnya mana...???
-opa: honey mau ikut...???
-cucu: Opa ni paleng romantis paskali eee... akang pung rahasia apa??
-opa: sssssstttttt mari sini opa bisi-bisi,,, se jang bilang2 par oma eee...???
-cucu: barang kanapa Opa...???
-opa: Opa su lupa Oma pung nama...



NONA PU PILIHAN

Lia Nona manis di sablah, Nyong Ambon langsung sok akrab
“Adik manis, boleh beta bertanya? Tipe pria yang kamu sukai yang seperti apa sih?”
“Aku suka pria Jawa. Mereka lembut dan sabar.”, jawab wanita itu.
“Pilihan ke dua?” sambung si Nyong tambah garida.
“Pria Ambon. Kebanyakan mereka romantis.”
“Alternatif ke tiga?”
“Pria Batak kali ya. Aku suka pribadinya yang keras, terkesan macho,” kata si wanita yang kemudian menanyakan nama pria yang mengajaknya bicara.
“Beta pu nama Joko Sihasale, tapi biasa dipanggil Ucok.”



SENG TAU

Parto (bukan nama sebenarnya) 19 tahun, yang lahir dari keluarga transmigran perintis di desa Aimas-Sorong, terpaksa memutuskan pergi merantu untuk cari kerjaan, berhubung sawah yang diandalkan oleh Bapaknya tidak menghasilkan panen untuk mencukupi hidup mereka sekeluarga.
Pergilah ia ke Ambon, menyusul pamannya yang lumayan sukses sebagai pembuat perahu di daerah pantai Ambon.
Seumur-umur baru ke luar dari desa Aimas, tercenganglah ia manakala dibawa oleh pamannya berjalan-jalan di kota Ambon. Kagum ia, dan muncul tekatnya untuk mencari kerja di kota Ambon ini.
Ketika lewat di depan sebuah super market yang besar dan rame, pingin sekali ia kerja ditempat itu, maka bertanyalah ia kepada pamannya
"Paklik... besar sekali toko ini..., siapakah yang punya ?"
"Seng Tau... " jawab pamannya.
Lalu mereka lewat di sebuah bioskop yang megah.
"wah enak juga kalo kerja di bioskop, tiap hari bisa nonton film gratis" demikian pikir si Parto.
maka bertanyalah ia kepada pamannya,
"Paklik...Paklik.... wuah bioskopnya gede banget..... siapa yang punya Paklik ?"
"Wah... Seng Tau..." jawab si Paman.
"Wah... si Seng Tau nih kaya banget ya ...", pikir si Parto, "besok saya mesti cari dia buat minta kerjaan"
Akhirnya setelah makan di warung di dekat pasar, mereka berdua pulang. Saat itulah mereka berpapasan dengan iring-iringan mobil yang mengantar jenazah ke tempat pemakaman.
Terkesan dengan panjangnya iring-iringan dan banyaknya pengantar jenazah..., yang mati pasti orang terkenal pikir Parto, merasa ingin tahu kembali ia bertanya kepada pamannya...
"Paklik, banyak bener yang ngantar jenazahnya... siapa yang mati Paklik ?"
"Seng Tau..." , jawab si Paklik.
"Waduh...", kata si Parto dengan kaget sambil berkata kepada pamannya "Baru saja saya mau minta tolong Paklik buat nyari si Seng Tau buat minta kerjaan. Eh dia udah mati duluan..."
Kontan aja si Pakliknya ngakak.
 
 
Catatan: Seng Tau (bahass Ambon) artinya Tidak tahu




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...