Sabtu, 07 September 2013

7 september 1993

Cerpen ini terdapat dalam buku
AKASIA ( disini kutemukan diriku )


Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 wita, lampu ruang tamu telah padam, semuanya mungkin telah lelap tertidur, ku pandangi sosok istriku yang telah tertidur pulas disampingku. Ada guratan kepedihan dihatiku, kasihan dia tak pernah merasakan kebahagiaan sejak menikah dengan ku. Lelaki yang lemah dan pesakitan membuat dirinya harus banting tulang mengurus keluarga dan menafkahinya. Kuingin membelai wajahnya tapi rasa sakit di dadaku mendera lagi dan sekuat tenaga ku ingin tahan batukku, tapi tak bisa, aku terbatuk batuk seperti yang biasa terjadi jika sakit di dadaku dan sesak nafasku mulai mendera. Aku takut suara batukku membangunkan istriku yang sudah lelap, karena sebentar jam 4 pagi dia akan bangun lagi untuk mempersiapkan dagangannya yang akan di bawa ke pasar.
Aku menderita sakit asma yang sudah akut, dan aku menderitanya sejak kelahiran anak laki-laki ke enam yang lahir lebih dari 20 tahun lalu. Sudah tak terhitung lagi jumlah butir obat yang masuk dalam tubuhku dan sudah berapa banyak biaya yang ku habiskan untuk menopang kehidupanku. Puncak dari penyakitku adalah sekitar 4 bulan yang lalu ketika aku sudah merasa sangat tidak kuat menahan dan mereka merawatku di sebuah rumah sakit. Aku sangat bersyukur memiliki putra dan putri serta istri yang sangat sayang kepadaku.
Aku memiliki 7 putra dan putri, tepatnya 3 putra dan 4 putri. 3 orang dari mereka telah menikah dan aku memiliki 3 orang cucu.Anak ke tiga dan ke empat berada di Kalimantan Timur, sedang anak ku yang ke dua dan ke enam berada di Maluku. Sementara yang berada di rumah tersisa anakku yang ke lima dan si bungsu. Anakku yang pertama berada tak jauh dari rumahku mengikuti suaminya sebagai petani. Semuanya telah bekerja dan hanya anak kelima yang masih kuliah dan sibungsu yang masih SMA.
Aku tak menyangka bila anak-anakku bisa mengenyam pendidikan setidaknya sekolah lanjutan atas dan sudah mendapatkan pekerjaan sesuai yang di inginkannya. Ku akui istriku yang banyak berjasa menyekolahkan mereka karena dia lah sebagai tulang punggung keluarga.
Batukku menyerang lagi, ku rapatkan selimut dan mencoba untuk merebahkan diri. Istriku membalikkan badannya ke arah diriku, kasihan dia terbangun karena batukku. Dia membantuku membetulkan letak selimutku, air mataku hampir saja jatuh saat dia menyelimutiku. Aku tak tahu mengapa malam ini ingin sekali ku dekap tubuhnya, dan ingin sekali ku menatap wajahnya. Tapi dia berbaring kembali dan melanjutkan tidurnya.

Bidadariku
Ku ingin kau tetap menjadi bidadariku
Jika jiwaku tlah menghadap Nya
Ku ingin kau yang selalu menemaniku
Ku ingin kau yang salalu disampingku
Ku ingin kau yang selalu menyelimutiku
Walau nanti di surga
Telah dipilihkan bidadari yang lebih cantik darimu
Ku ingin Tuhan tak menggantikan dirimu
Karena cinta dan sayang ku hanya padamu
Dunia dan akhirat

Sudah pukul 24.30 wita, anak-anak kos yang menempati ruangan di sebelah rumah rupanya pun sudah tertidur. Tak terdengar bunyi radio atau tape recorder mereka. Aku memang membuat tempat kos di sebelah rumahku yang di huni para mahasiswa yang datang dari berbagai daerah. Aku sering memarahi mereka jika sudah tengah malam masih membuat keributan, karena bila sakit menyerangku aku tak tahan mendengar suara berisik. Aku tak tahu mengapa malam ini begitu hening, seakan ada seseorang atau sesuatu yang agung akan datang ke rumah ku.
Usia ku sekarang telah memasuki umur 61 tahun. Keseharianku aku dipercaya Jamaah di kelurahan ku untuk menjabat sebagai imam mesjid. Tetapi ketika kondisi kesehatan ku yang mulai memburuk setahun belakangan ini, aku mempercayakan pada seorang yang lebih muda dan lebih sehat dariku.
Ku melihat lagi wajah istriku, guratan-guratan letih jelas tergambar di sudut matanya. Sudah 30 tahun lebih kami berbagi suka dan duka dalam satu kebersamaan yang disebut rumah tangga. Tak sekalipun dia berkata kasar kepadaku, walau mungkin ada sesuatu yang tak disenanginya, semua dijalankan dengan penuh kesabaran tanpa ada sedikitpun raut wajah yang membuat aku merasa tak dihargai. Aaaahhhhh aku menarik nafas panjang untuk menahan agar air mataku tidak bergulir,.
Ku nikahi istri ku saat dia masih berumur 16 tahun dan pada saat itu aku sudah berumur 24 tahun. Aku memilihnya sebab dia dari keluarga yang taat menjalankan agama, dan memiliki dasar-dasar keagamaan yang kuat. Dia sangat pemalu dan aku sangat suka kepadanya. Kami menikah secara sederhana tanpa pesta yang mewah, karena kami berdua dari keluarga yang tidak cukup berada.
Dua tahun pernikahan lahir anakku perempuan pertamaku disusul dua tahun kemudian anak laki-laki keduaku dan seterusnya sampai si bungsu yang ke tujuh. Dengan kondisi fisik ku yang lemah aku tidak bisa diandalkan dalam mencari nafkah. Aku bersama istriku bahu membahu mencari sesuap nasi untuk diberikan kepada ketujuh anak-anakku. Kehidupan yang sangat sulit di daerah asalku membawaku berpikir untuk merantau ke luar Jawa. Kebetulan ada kakak angkat ku berada di suatu daerah di Sulawesi, hingga dengan berat hati aku mengutarakan keinginanku pada istriku untuk pergi ke tempat kakak angkatku.
Istriku menyetujui tetapi harus pergi bersama satu keluarga. Aku tak dapat membayangkan bagaimana jadinya kami merantau dengan membawa anak-anak yang masih kecil. Dengan penuh kasih istriku memberikan pandangan bahwa segalanya bisa teratasi kalau kalau semuanya saling bahu membahu dan selalu bersama. Ku dekap istriku dan dalam hati ku bersyukur bahwa aku mendapatkan anugerah yang sangat indah yaitu seorang perempuan yang menjadikan dirinya segalanya saat aku membutuhkan. Dia bisa jadi istri, sahabat, teman, kekasih, penyemangat, pelipur lara dan segalanya bagiku.
Aku tetap tidak bisa tidur, perasaanku mengatakan sesuatu yang luar biasa akan terjadi malam ini. Aku melirik jam dinding, sudah jam 02.00 wit. Udara semakin dingin dan batukku mulai mendera lagi. Tapi tak aku rasa lagi sakit di dadaku, dan aku batuk seperti orang batuk biasa. Aneh………….
Dengan bantuan kakak angkatku aku bisa membuka usaha di daerah itu, dan dengan semangat bahu membahu kami sekeluarga sedikit demi sedikit keluar dari kesulitan hidup. Anak-anak ku mulai bisa merasakan pendidikan, semuanya bersekolah kecuali putri pertamaku yang harus rela tidak bersekolah karena membantu aku dan istriku dalam mencari nafkah.
Tahun demi tahun berganti dan anak-anakku telah tumbuh dewasa, yang sulung telah menikah dan memiliki anak perempuan, laki-laki kedua pun telah menikah, dia merantau di Maluku membuak usaha dan sangat berhasil. Dia membawa adiknya yang lelaki ke enam. Dia bekerja di salah satu perusahaan terbesar di negara ini, sebelumnya aku tidak pernah menyangka dia bisa bekerja sebab dia sangat lemah fisik maupun mental. Aku sangat bersyukur dia telah mendapatkan pekerjaan yang di senanginya.
Anak perempuan keempat ku sudah menikah dan berada di Kalimantan Timur bersama Kakak lelaki ketiga. Aku dengar pun dia telah menjadi guru bahasa inggris disana, sedang kakaknya telah bekerja di salah satu perkebunan kelapa sawit. Sedang yang berada sekarang di rumah adalah anak kelima ku yang sedang kuliah di sastra Jerman dan si bungsu yang masih sekolah pada sekolah lanjutan atas.
Ahhhhhh, rasanya sudah cukup maksimal aku mendidik anak-anakku. Mudah-mudahan mereka tidak tergelincir kepada hal-hal yang menjauhkan mereka dari iman kepada Tuhannya. Aku telah memberi mereka dasar agama, mudah-mudahan mereka dapat mengenggamnya seperti mereka menggenggam sesuatu milik mereka yang paling berharga.
Itulah satu-satunya ketakutanku malam ini. Entah mengapa aku sangat takut bila anak-anak ku menjauhkan kehidupan mereka dari agamanya. Alangkah malunya aku kepada Tuhanku jika nanti aku di panggil menghadapnya. Aku akan menjadi manusia yang sangat merugi.

Ya Tuhan ku
Tak satupun hamba sesali apa yang telah terjadi
Dan tak satu pun yang hamba peduli
jika memang nyawaku harus pergi
Tapi
Ridoilah seluruh amalan yang telah aku perbuat
Dan kokohkanlah keturunanku dalam mengabdi pada Mu
Sepeninggalku tak ada yang bisa membimbing mereka
Kuserah kan segalanya kepada Mu
Karena urusanku kepada dunia telah selesai
Ya Rabb

Tak kutahu pukul berapa sekarang ini, yang ku tahu tubuhku tiba-tiba menggigil, aku sangat takut. Ingin ku bangunkan istriku tapi tanganku tak mampu ku gerakkan, Ya Tuhan aku mencium bau yang sangat harum , bau apakah itu?
Sekelilingku menjadi suatu cahaya yang sangat terang, sangat menyilaukan aku berusaha menutup mataku tapi tak bisa. Sesosok atau entah apa seakan-akan menghampiriku dia menyentuhku , semula aku merasa sangat takut tapi setelah disentuhnya ada perasaan damai , tentram , setelah itu aku merasakan sakit yang sangat luar biasa, kulit ku bagai di terkelupas seperti saat kombing sedang di kuliti, tulangku berderak hingga mereka terlepas dan saling mengucapkan selamat tinggal satu ruas dengan yang lain, suara bising memekakkan telinga, ya Alloh aku sekarang tersadar Al maut telah datang.
Datang padaku seorang wanita cantik menggiurkan aku, datang lagi seorang kaisar membawa harta kepadaku , datang lagi seorang yang sangat bengis kepadaku, mereka membujukku untuk mengikuti mereka. Bermacam cara mereka membujukku mereka mengangguku.
Sementara sesuatu itu datang tersenyum padaku, membawa kalimat “Asyhadu Anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah “ . Dengan susah payah aku mencoba mengikuti apa yang di bimbing nya, kulantunkan syahadat ditengah bujukan berjuta makhluk aneh yang datang kepadaku. Kadang kala aku hampir terbujuk, tapi Sesuatu itu tetap tersenyum sambil melantunkan Syahadat.
Seakan aku teriak ku ucapka basmalah disela helaan-helaan nafas berat ditambah rasa sakit yang tak terperihkan, dan ku ikuti bimbingannya dalam melafadzkan Syahadat
“Asyhadu Anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah “
Seketika itu semuanya putih menyinari alam raya. tak ada lagi sakit, tak ada lagi sesuatu tak ada lagi yang merayuku……….. hening , damai, tentram………………………….dan aku sudah tak bernyawa.

Tuhanku
Kuhambakan diriku sebagai budak Mu
Karena Engkaulah Tuan yang akan mengasihi budaknya
Tuhanku
Kujadikan aku milikmu
Karena Engkau adalah Pemilik yang akan mengasihi milikMu
Tuhanku
Kujadikan diriku hina
Karena adakah yang mengasihi yang hina selain yang Maha Mulia?
Tuhanku
Aku bersyukur menjadi ciptaanMu
Karena Engkau Sang Pencipta yang akan mengasihi CiptaanNya







For my dearest Bapak.
Terima kasih untuk segalanya
Tanah grogot, 19 Des 09.


Dapatkan buku terbaruku
Lelaki dalam kisah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...