Sabtu, 28 September 2013

Jum'at Sedekah-Qu

 
 
Menakjubkan!
Setidaknya, itulah yang akan kita katakan ketika menyebut nilai lebih dari amal yang satu ini. Betapa tidak?! dengan memberikan sebagian harta, tenaga atau bahkan senyuman sekalipun asal ia ikhlas di jalan Allah, seseorang bisa terbebas dari penyakit, jeratan hutang, dan bahkan bisa mendapatkan derajat tinggi di dunia dan di akhirat dengan begitu mudah.

Nilai keajaiban dari amal yang satu ini sebenarnya telah ditunjukkan pada arti namanya, sedekah berakar dari kata shidiq ini menunjukkan bahwa amal tersebut merupakan batu uji yang akan menunjukkan sejauh mana kebenaran iman yang dimiliki oleh seorang muslim.
Dalam upaya kampanye Sedekah, Komunitas Laskar Sedekah Kalimantan Timur setiap jum'at mengadakan Sedekah sarapan Pagi bagi para Tukang sapu jalan, tukang ojek, dan para fakir miskin.
Tergerak hati untuk mengikuti Laskar sedekah kontak koordinator Ustadz Winarno pin BB 29EC08B0

Wallahu a'lam bishowab.

Jumat, 27 September 2013

Ayo senam Otak



Selama ini orang lebih memelihara kebugaran fisik ketimbang otak. Padahal otak merupakan pusat dari kontrol segala aktivitas manusia. Banyak cara yang mudah dan murah untuk menjaga kebugaran otak Anda.

Menurut Dr. Ruswaldi Munir, Sp.KO, kebugaran otak didapatkan jika aliran darah ke otak lancar atau pasokan V O2 max-nya memadai. "V O2 max adalah kemampuan ambilan oksigen oleh jantung dan paru-paru, sehingga aliran darah ke semua jaringan tubuh termasuk ke otak akan lebih banyak. Hal ini memungkinkan otak bekerja optimal," jelas staf pengajar pada program studi Ilmu Kedokteran Olahraga FKUI ini.

Agar otak mendapatkan pasokan V O2 max, maka olahraga adalah jawabannya. Olahraga secara umum dipastikan mampu meningkatkan pasokan V O2 max ke otak. Yang juga tak kalah pentingnya untuk mengaktifkan bagian-bagian otak adalah melakukan senam otak. Fungsi optimalisasi otak akan terjaga, karena mendapat rangsangan terus-menerus.

Ada cara yang mudah dan murah yang ditawarkan Dr. Ruswaldi Munir Sp.KO., untuk melatih kebugaran otak Anda.  Panduan gerakan senam kebugaran otak ini cukup dilakukan dalam waktu singkat, yaitu tujuh menit. Anda boleh melakukan kapan dan di mana saja. 

1. Sebelum bersenam, minumlah air putih secukupnya.

2. Lakukan pernapasan perut, bisa sambil duduk atau telentang. Letakkan tangan di atas perut, kemudian tarik napas sehingga perut terasa mendorong telapak tangan ke depan. Jika dilakukan sambil tidur bisa meletakkan buku di atas perut. Lakukan pernapasan 2-8 kali.

3. Lakukan gerakan menoleh ke kiri dan kanan secara pelahan, sambil memijit titik-titik di sekitar dada dan perut, selama 4-8 kali pernapasan.

4. Hook-Ups, terdiri dari dua bagian. Pertama, lakukan pernapasan 4-8 kali. Tubuh harus dalam kondisi betul-betul rileks. Cara kedua, letakkan kaki rata di lantai. Ujung-ujung jari tangan saling bersentuhan sambil melakukan pernapasan 4-8 kali.

5. Mengkaitkan kedua tangan. Gerakan ini untuk mengintegrasikan otak. Rentangkan tangan selebar mungkin. Bayangkan otak bagian kiri dan kanan menjadi satu seperti Anda menyatukan dua tangan. Nikmatilah kesatuan ini sambil melakukan pernapasan 4-8 kali.

6. Titik positif. Sentuhlah titik-titik sekitar dahi sambil melakukan pernapasan 4-8 kali. Anda dapat menggunakan waktu ini untuk merencanakan kegiatan sehari.

7. Gerakan silang (cross crawl). Lakukan gerakan silang ini 10-25 kali untuk melengkapi senam menuju otak segar dan bugar. Ini juga merupakan gerakan minimal yang harus Anda lakukan, jika terpaksa tidak bisa melakukan enam gerakan awal di atas.

Sumber : Kompas.com

Toko buku digital Google


Sumber : Yahoo

Perkembangan jaman membuat manusia akan meninggalkan barang cetakan, terutama buku. Bahkan hal tersebut mulai dilakukan Google dengan membuat Google Play Books di Indonesia. Sehingga kini kita bisa mendapatkan buku-buku internasional secara langsung dalam bentuk versi digital.
Google Play Books merupakan sebuah toko aplikasi khusus yang menjual berbagai macam buku itu kini tak hanya bisa diakses oleh pengguna di Indonesia saja, tetapi kini telah disesuaikan dengan kebijakan lokal.
Dilansir dari Engadget, kini Indonesia dan 7 negera Asia lainnya seperti Singapura, Vietnam, Thailand, Malaysia, Taiwan, Filipina, dan Hongkong sudah bisa mendapatkan buku-buku digital yang dikeluarkan oleh Google.
Kehadiran Google Play Books ini melengkapi tiga negara di Eropa yang sudah terlebih dahulu hadir. Dengan tambahan 8 negara asia ini, berarti melengkapi 36 negara yang dibuka aksesnya ke toko buku Google tersebut.
Tetapi ada beberapa  pembaca yang berkomentar tidak setuju dan setuju antara lain :
 
Aris Wijanarko : " berdasarkan pengalaman membaca buku digital itu gk nyaman n membuat mata tak sehat,, aku tetap pilih buku cetak.."

Robert : " tidak yakin era digital dapat menjangkau kalangan masyarakat luas, sebab kecanggihan teknologi saat ini masih terasa sangat mahal dan barang mewah bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Realistis saja, tidak akan ada yang bisa menggantikan buku cetak dengan digital. Jika iya, maka apa jadinya dengan toko buku ? Saya lebih nyaman membaca buku cetak. Jika terkait masalah lingkungan hidup karena lembaran kertas buku dibuat dari kayu, mnurut saya harus dijaga ekosistemnya agar tetap terjaga baik. Jika semua orang Indonesia sudah mempunyai gadget yg mumpuni, barulah bisa jadi kenyataan. Wong saat ini aja beban hidup sudah berat, boro2x buat gadget digital book, kebutuhan beras / panganlah paling penting."

Dhani : " bagus aja kok, kalau buku pakai kertas melulu akan hbs pohon2 ditebang trus"

Rabu, 18 September 2013

AYAH karya Irfan Hamka


info order/tanya2 silahkan :
TELP/SMS Di 081241713764
PIN BB 57F6199C
Pesan di Bukalapak


Pengantar oleh : DR. Taufiq Ismail

HAJI Abdul Malik Karim Amrullah atau bisa dikenal dengan Buya Hamka adalah ulama besar yang meninggalkan jejak kebaikan bagi umat dan bangsa ini. Semasa hidup, ulama kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908, ini dikenal sebagai sosok ulama yang santun dalam bermuamalah, namun tegas dalam akidah. “Kita sebagai ulama telah menjual diri kita kepada Allah, tidak bisa dijual lagi kepada pihak manapun,”demikian tegasnya ketika dilantik sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hamka salah seorang ulama yang mendapat gelar Doktor Honouris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, karena kiprah dakwahnya dalam membina umat. Ia dikenal dengan fatwanya ketika menjabat sebagai Ketua MUI, yang mengeluarkan fatwa haram bagi umat untuk Islam mengikuti “Perayaan Natal Bersama”. Ia juga yang menolak undangan untuk bertemu Paus, pemimpin Katholik dunia, ketika datang berkunjung ke Istana Negara pada masa Presiden Soeharto. Dengan tegas, Buya Hamka mengatakan perihal penolakannya bertemu Paus tersebut, “Bagaimana saya bisa bersilaturrahmi dengan beliau, sedangkan umat Islam dengan berbagai cara, bujukan dan rayuan, uang, beras, dimurtadkan oleh perintahnya?”

Demikian ketegasan Buya Hamka dalam soal akidah. Namun dalam bermuamalah, ia santun dan lembut, sikapnya mencerminkan pribadinya. Ia sosok pemaaf, tak pernah menaruh dendam...
Baru-baru ini, anak kelima dari Buya Hamka, Irfan Hamka, merilis ulang sebuah buku yang menggambarkan tentang sosok dan pribadi ulama tersebut. Buku berjudul “Ayah” itu menceritakan pengalaman hidup Irfan Hamka bersama sang ayah, dan suka duka perjalanan hidup ayah tercintanya, baik sebagai tokoh agama, politisi, sastrawan, dan kepala rumah tangga. Sebelumnya, putra kedua Buya Hamka, Rusjdi Hamka, juga pernah menulis buku yang mengisahkan tentang sosok sang ayah, yang berjudul “Pribadi dan Martabat Buya Hamka.”

Ada hal menarik yang diceritakan dalam buku “Ayah” tersebut. Terutama tentang bagaimana sosok pribadi Buya Hamka ketika menghadapi orang-orang yang pernah memfitnah, membenci, dan memusuhinya. Sebagai ulama yang teguh pendirian, tentu ada pihak yang tak suka dengan sikapnya. Irfan Hamka menceritakan bagaimana sikap Buya Hamka terhadap tiga orang tokoh yang dulu pernah berseberangan secara ideologi, memusuhi, membenci, bahkan memfitnahnya. Ketiga tokoh tersebut adalah Soekarno (Presiden Pertama RI), Mohammad Yamin (tokoh perumus lambang dan dasar negara), dan Pramoedya Ananta Toer (Budayawan Lekra/Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi seni dan budaya yang berafiliasi pada Partai Komunis Indonesia).

Betapapun ketiga tokoh itu membenci dan memusuhi Buya Hamka, namun akhir dari kesudahan hidupnya mereka justru begitu menghormati dan menghargai pribadi dan martabat Buya Hamka.
Soekarno ketika menjabat sebagai Presiden RI dan memaksakan ideologi Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis), menahan Buya Hamka selama dua tahun empat bulan dengan tuduhan yang tidak main-main: terlibat dalam rencana pembunuhan Presiden Soekarno. Pada 28 Agustus 1964, Buya Hamka ditangkap dan dijerat dengan tuduhan melanggar Undang-Undang Anti Subversif Pempres No.11. Hamka ditahan tanpa proses persidangan dan tanpa diberikan hak sedikitpun untuk melakukan pembelaaan. Tak hanya itu, buku-buku karyanya pun bahkan dilarang untuk diedarkan. Hamka dijebloskan ke penjara, diperlakukan bak penjahat yang mengancam negara. Begitu zalimnya sikap Soekarno terhadap ulama tersebut.

Namun apa yang terjadi, setelah bebas dari penjara, dan Buya Hamka sudah mulai beraktivitas kembali, sementara kekuasaan Soekarno sudah terjungkal, peristiwa mengharukan terjadi. Soekarno yang mulai hidup terasing dan sakit-sakitan, di akhir hayatnya kemudian menitipkan pesan kepada orang yang dulu pernah dizaliminya. Pesan tersebut disampaikan kepada Buya Hamka lewat ajudan Presiden Soeharto, Mayjen Soeryo, pada 16 Juni 1970. Isi pesan tersebut berbunyi, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku..”

Hamka terkejut, pesan tersebut ternyata datang seiring dengan kabar kematian Soekarno. Tanpa pikir panjang, ia kemudian melayat ke Wisma Yaso, tempat jenazah Bung Karno disemayamkan. Sesuai wasiat Soekarno, Buya Hamka pun memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu. Dengan ikhlas ia menunaikan wasiat itu, mereka yang hadir pun terharu. Lalu, apakah Buya Hamka tidak menaruh dendam pada Soekarno. Dengan ketulusan ia mengatakan, “Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu...”

Peristiwa mengharukan tentang kebesaran jiwa Buya Hamka dalam memaafkan orang-orang yang pernah membencinya adalah terkait dengan kematian Mohammad Yamin, salah seorang founding father negeri ini, tokoh kebangsaan yang juga termasuk perumus dasar dan lambang negara. Meski berasal dari Sumatera Barat, namun Yamin adalah produk pendidikan sekular. Ia aktif di Jong Sumatranen Bond (Ikatan Pemuda Sumatra) yang bercorak kesukuaan dan sekular. Ia juga menjadi anggota Gerakan Theosofi, sebuah organisasi kebatinan yang juga mengedepankan sekularisme dan paham kebangsaan.

Mohammad Yamin begitu membenci Buya Hamka karena perbedaan ideologi. Ia aktif di Partai Nasionalis Indonesia (PNI), sedangkan Buya Hamka aktif di Partai Masyumi. PNI menginginkan Pancasila sebagai dasar negara, sementara Partai Masyumi berpegang teguh pada sikap ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara. Kebencian Yamin tersulut, ketika dalam Sidang Majelis Konstituante, dengan lantang Buya Hamka berpidato dan mengatakan, “Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka!”
Pidato Buya Hamka yang tegas tersebut kemudian menyulut kebencian Mohammad Yamin. Ia menyuarakan kebenciannya kepada Hamka dalam berbagai kesempatan, baik ketika dalam ruang Sidang Konstituante, ataupun dalam berbagai acara dan seminar. “Rupanya bukan saja wajahnya yang memperlihatkan kebencian kepada saya, hati nuraninya pun ikut membeci saya,” begitu kata Buya Hamka.

Tahun 1962, Mohammad Yamin jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Buya Hamka memantau perkembangannya lewat radio dan media massa cetak. Hingga tiba pada suatu hari, Chaerul Saleh, menteri di kabinet Soeharto menelponnya dan ingin menyampaikan kabar mengenai kesehatan Mohammad Yamin. Chaerul Saleh kemudian menagatakan kepada Hamka, “Buya, saya membawa pesan dari Pak Yamin. Beliau sakit sangat parah. Sudah berhari-hari dirawat. Saya sengaja menemui Buya untuk menyampaikan pesan dari Pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir beliau,” ujarnya.

Hamka yang tertegun kemudian bertanya, “Apa pesannya?” Sang menteri itu kemudian mengatakan,”Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya. Saat ini, pak Yamin dalam keadaan sekarat,”terangnya. Selain itu, kata sang menteri, “Beliau mengharapkan sekali, Buya bisa menemaninya sampai ke dekat liang lahatnya.” Kepada Buya Hamka, Menteri Chaerul Saleh itu juga mengatakan, Yamin khawatir, masyarakat Talawi, Sumatera Barat, tempatnya berasal, tidak berkenan menerima jenazahnya.

Mendengar penuturan Chaerul Saleh, saat itu juga Buya Hamka kemudian minta diantar ke RSPAD, tempat Yamin terbaring sakit. Melihat kedatangan Hamka, Yamin yang tergolek lemah kemudian melamabaikan tangan. Hamka mendekatinya, kemudian menjabat hangat tangannya. Yamin memegang erat tokoh yang dulu pernah dimusuhinya itu. Sementara Hamka terus membisikan ke telinga Yamin surat Al-Fatihah dan kalimat tauhid, “Laa ilaaha illallah.” Dengan suara lirih, Yamin mengikuti. Namun tak berapa lama, tangannya terasa dingin, kemudian terlepas dari genggaman Buya Hamka.

Mohammad Yamin menghembuskan nafas terakhirnya disamping sosok yang dulu menjadi seterunya. Di akhir hayat, tangan keduanya berpegangan erat, seolah ingin menghapuskan segala sengketa yang pernah ada. Orang yang hadir ketika itu mungkin terlibat dalam keharuan yang sangat. Memenuhi wasiat Yamin, Hamka pun kemudian turut mengantar jenazah salah seorang tokoh nasional itu sampai ke pembaringan terakhirnya.

Cerita terakhir adalah tentang Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer. Keduanya berseberangan secara ideologi. Pram, sapaan akrab sastrawan itu, menyuarakan aspirasi kaum kiri dan aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dekat dengan PKI. Lewat rubrik Lentera di Surat Kabar Bintang Timoer, Pram dan kawan-kawannya tak henti-hentinya menyerang Hamka. Karya-karya novel Hamka dituding sebagai plagiat, pribadinya diserang sedemikian rupa. Fitnah dan penghinaan itu tak lain adalah karena Buya Hamka adalah seorang sastrawan yang anti Komunis, tokoh Muhammadiyah dan Masyumi.

Namun takdir perseteruan itu menemukan jalan ceritanya yang sungguh mengharukan. Suatu ketika, Astuti, putri Pramoedya mengutarakan keinginannya untuk menikah. Ia sudah menentukan calon pendamping bernama Daniel Setiawan. Pram tentu bersenang hati atas keinginan anaknya tersebut. Namun ada satu ganjalan di hatinya, sang calon menantu yang berasal dari peranakan etnis Tionghoa, ternyata berlainan keyakinan dengan putrinya. “Saya tidak rela anak saya kawin dengan orang yang secara kultur dan agama berbeda,” demikian ujar Pram, sebagaimana disampaikannya kepada Dr. Hoedaifah Koeddah, dokter yang mengobatinya dan dekat dengan keluarganya.

Singkat cerita, Pram kemudian meminta putri dan calon menantunya itu untuk datang menemui Buya Hamka, sosok ulama yang menjadi seterunya. Ia meminta calon menantunya itu untuk belajar Islam kepada Hamka. “Saya lebih mantap mengirimkan calon menantuku untuk diislamkan dan belajar agama pada Hamka, meski kami berbeda paham politik,” demikian Pram menjelaskan.

Bersama Astuti, sang calon menantu Pram itu kemudian mendatangi kediaman Buya Hamka. Ia menceritakan maksud kedatangan, agar Buya bersedia mengajarkan kekasihnya itu ajaran-ajaran Islam. Setelah itu, ia memperkenalkan diri sebagai anak dari Pramoedya Ananta Toer. Buya Hamka tertegun sejenak, raut wajahnya seperti ingin meneteskan air mata. Ia kemudian dengan ikhlas membimbing sejoli itu untuk belajar Islam. Tak lupa pula, ia menitipkan salam untuk ayah sang putri itu. Suasana begitu haru.

Astuti, putri Pramoedya itu tak menyangka, sosok yang dulu begitu dibenci oleh ayahnya, ternyata adalah lelaki yang bersahaja dan berlapang dada. Ia sungguh terharu, dan berterimakasih bisa diterima untuk menimba ilmu agama. Mereka kemudian larut dalam kehangatan dan melupakan segala dendam.

Begitulah sosok Buya Hamka. Ulama yang tegas dan bersahaja. Lelaki yang tak pernah memelihara dendam dalam hatinya, meski musuh yang begitu membencinya sudah tak berdaya. Ia berjiwa besar, berlapang dada, dan menganggap segala kebencian bisa sirna dengan saling memaafkan dan menebarkan cinta. Keteladanannya kini, tetap bersinar seperti mutiara...


Sabtu, 14 September 2013

Wanita Soleha untuk Pria Soleh






Tulisan oleh :
Forum Orangtua Santri Asuh (FOSA) Indonesia

Selain karena memang takdir, ada hal lain yang barang kali membuat pernikahannya tertunda. Ada sedikit noda di wajahnya yang kutahu, selama ini sering menimbulkan gatal dan bikin pusing kepala. Dan karena noda inilah, muncul perasaan gundah gulana. Ya, noda itulah yang membuat beberapa ikhwan seperti punya alasan seragam. Yang single atau yang duda sekalipun, selalu saja jawabannya, “Kalalu bisa yang lain saja, Pak.”

Kami, aku dan suamiku yang menjadi perantara untuk mencarikannya jodoh merasa sedih dan prihatin mendengar alasan tersebut. Para ikhwan ini kok ya kompak sekali jawabannya, padahal berasal dari daerah yang berbeda. Kami memang tidak pernah menyampaikan semua penolakan dari ikhwan kepada si akhwat. Sebab, jawaban itu pasti bakal membuat hatinya terluka.

Gadis muslimah ini sebenarnya luar biasa. Atas segala ketentuan Allah atas dirinya yang tak kunjung mendapat jodoh, dia selalu berusaha sabar. Kekhawatiran orang tuapun disikapi dengan tenang dan penuh kesabaran. Juga gunjingan dari tetangga yang seringkali menyakiti hati. Pernah katanya, ia mendapat lontaran ucapan menyakitkan, “Mana ada lelaki yang mau dengan kamu.” Sebagai saudara yang membantu pencarian jodohnya, kami ikut sakit hati. Tega nian orang itu, semoga Allah mengampuninya.

Tapi, ada juga yang saking perhatiannya, sampai-sampai menyarankan temanku untuk mandi kembang… (?!) tak ketinggalan resep dan mantra juga diberikan, bunyinya begini, “Perjaka dari barat, timur, utara dan selatan… datanglah…!” Na’udzubillah, bikin geli. Kalau benar-benar datang semua gimana? Malah gawat kan?

Sabar, lapang dada dan tetap berprasangka baik kepada Allah. Energi positif ini terus saja di himpun dalam ruang kalbunya. Jodoh memang benar-benar rahasia Allah. Di satu sisi dia optimis akan bertemu jodohnya. Tapi di sisi lain hatinya serasa patah dan berbisik, “Andai memang tak ada jodoh di dunia ini, berikanlah jodohku di Jannah, Ya Allah…”

Sampai suatu ketika, Allah menuntun hatinya untuk memberanikan diri berdoa, “Ya Allah, karuniakanlah untukku lelaki shalih yang bertaqwa dan berakhlak mulia. Yang tampan dan lebih muda usianya dariku.”

Subhanallah, itu permohonan yang jauh dari keputusasaan. Diperlukan kemantapan dan keberanian hati untuk memanjatkannya. Khususnya bagi temanku yang menurut sebagian orang wajahnya biasa saja.

Dibalik penantian panjang dan melelahkan hati serta fikiran, ada kepasrahan yang total kepada Yang Mahakuasa. Saat hati merasa tak berdaya itulah akghirnya yang dinanti tiba. Sesuatu yang tak disangka, seorang pemuda melamarnya. Alhamdulillah.

Kupeluk dia dengan penuh kelegaan. Sujud syukurku turut terhatur kepada Allah atas karunia yang dilimpahkan-Nya. Tentu saat itu, dialah yang menjadi orang paling bahagia karena telah ditemukan dengan belahan jiwanya. Terlebih lagi, Allah mengabulkan semua keriteria yang pernah dimintanya.

Subhanallah. Lelaki yang datang melamarnya adalah lelaki yang shalih insyaallah, berpostur tinggi besar, wajah lumayan dan usianya lebih muda darinya. Para tetangga pun pada heboh dan penasaran. Sampai-sampai, ada seorang ibu yang saking tidak percayanya terbengong kala memandang wajah calon suaminya. Karena tengah berjalan, si ibu sampai nabrak tiang listrik pinggir jalan. Ibu…ibu… ada-ada saja. Aku jadi ingat kisah Nabi Yusuf.

Yap, buah dari kesabaran itu indah dan membahagiakan. Kini mereka telah dikaruniai anak-anak yang lucu. Doaku untuk mereka, Semoga Allah memberi keberkahan pada keluarganya.

Keshalihatan dan kesabaran hatinya merupakan kecantikannya yang sejati hingga membuat Allah mengaruniakan padanya lelaki terbaik. Seprtinya, dialah the real beauty yang berjodoh dengan the best, lelaki terbaik, insyaallah. Wala nuzakki ‘alallahi ahada. Hanya Allah yang tahu jati diri seseorang.

Untuk saudaraku yang shalih, dari pengalaman tadi, janganlah anda tergesa menolak gadis muslimah yang memiliki sedikit kekurangan. Tidak ada salahnya menggali informasi lebih dalam dan teliti mengenali dirinya. Bagaimana akhlaknya, bagaimana sikap kepeduliannya pada sesama, bagaimana ketawadhu’an dan keteguhannya di jalan dakwah, atau baktinya kepada orangtua. Jangan sampai menyesal karena melewatkan dan menolak wanita yang sebenarnya adalah mutiara.

Meskipun, tentu saja tidak ada salahnya mencari yang cantik, cerdas, langsing, putih, tinggi, kaya plus anak satu-satunya, misalnya. Itu hak anda. Hanya saja, perlu di ingat, anda sedang mencari “manusia”. Karena manusia, pasti akan ada sisi kurangnya. Kecuali anda mencarinya dengan berjihad dan akhirnya syahid dijalan Allah, tentulah jodoh anda akan sempurna dari segala sisinya. Cuma, makhluk itu tidak ada di dunia.

Keshalihatan haruslah menjadi kriteria yang diutamakan. Keshalihatanlah yang akan memunculkan kesejukan dan menumbuhkan cinta yang murni, yang ditumbuhkan langsung oleh rahmat Allah. Cinta yang akan menyejukkan hati anda dan menjaga keutuhan rumah tangga. Bukan cinta sementara yang tumbuh dari nafsu, yang sangat mungkin akan pudar jika nafsu mulai enggan.

Jadi carilah mutiara sejati. Keshalihatan itulah kecantikan sejati yang abadi. Dan jika anda mendapatkannya, berbahagialah. Itu karunia yang luar biasa Semoga Allah memudahkan jodoh anda semua. Aamiin. (Muslimah, Wonosobo).

------------------------------------
========================

Sahabat FOSA (Forum Orangtua Santri Asuh) di manapun berada yang semoga selalu dalam naungan hidayah Alloh Taála,

ingat...!!

KESHALIHATANLAH YANG AKAN MEMUNCULKAN KESEJUKAN DAN MENUMBUHKAN CINTA YANG MURNI, YANG DITUMBUHKAN LANGSUNG OLEH RAHMAT ALLAH. CINTA YANG AKAN MENYEJUKKAN HATI ANDA DAN MENJAGA KEUTUHAN RUMAH TANGGA. BUKAN CINTA SEMENTARA YANG TUMBUH DARI NAFSU, YANG SANGAT MUNGKIN AKAN PUDAR JIKA NAFSU MULAI ENGGAN
SEMOGA KISAH NYATA di atas memberikan pelajaran yang bermanfaat kepada kita semua, aamiin....

By
Forum Orangtua Santri Asuh (FOSA) Indonesia

Mengenal IPAYMU

logo




apa itu IPAYMU ?

Indonesia Payment Gateway

International Online Payment Services

Bisnis online atau menjual online, tapi tidak yakin bagaimana untuk menerima pembayaran dari pelanggan Anda di seluruh dunia?
IPAYMU memfasilitasi Anda sebagai toko online atau merchant untuk memproses transaksi online. Apakah bisnis Anda besar atau kecil, IPAYMU bisa memberikan semua yang Anda butuhkan untuk mulai menerima pembayaran dari seluruh dunia, cepat dan aman.
IPAYMU mengintegrasikan bisnis online Anda dengan 137 Bank dan ATM di seluruh Indonesia. Fasilitas kartu kredit IPAYMU terintegrasi dengan multi-currency.

untuk lebih jelsanya dan Selengkapnya klik aja DISINI 





Sabtu, 07 September 2013

7 september 1993

Cerpen ini terdapat dalam buku
AKASIA ( disini kutemukan diriku )


Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 wita, lampu ruang tamu telah padam, semuanya mungkin telah lelap tertidur, ku pandangi sosok istriku yang telah tertidur pulas disampingku. Ada guratan kepedihan dihatiku, kasihan dia tak pernah merasakan kebahagiaan sejak menikah dengan ku. Lelaki yang lemah dan pesakitan membuat dirinya harus banting tulang mengurus keluarga dan menafkahinya. Kuingin membelai wajahnya tapi rasa sakit di dadaku mendera lagi dan sekuat tenaga ku ingin tahan batukku, tapi tak bisa, aku terbatuk batuk seperti yang biasa terjadi jika sakit di dadaku dan sesak nafasku mulai mendera. Aku takut suara batukku membangunkan istriku yang sudah lelap, karena sebentar jam 4 pagi dia akan bangun lagi untuk mempersiapkan dagangannya yang akan di bawa ke pasar.
Aku menderita sakit asma yang sudah akut, dan aku menderitanya sejak kelahiran anak laki-laki ke enam yang lahir lebih dari 20 tahun lalu. Sudah tak terhitung lagi jumlah butir obat yang masuk dalam tubuhku dan sudah berapa banyak biaya yang ku habiskan untuk menopang kehidupanku. Puncak dari penyakitku adalah sekitar 4 bulan yang lalu ketika aku sudah merasa sangat tidak kuat menahan dan mereka merawatku di sebuah rumah sakit. Aku sangat bersyukur memiliki putra dan putri serta istri yang sangat sayang kepadaku.
Aku memiliki 7 putra dan putri, tepatnya 3 putra dan 4 putri. 3 orang dari mereka telah menikah dan aku memiliki 3 orang cucu.Anak ke tiga dan ke empat berada di Kalimantan Timur, sedang anak ku yang ke dua dan ke enam berada di Maluku. Sementara yang berada di rumah tersisa anakku yang ke lima dan si bungsu. Anakku yang pertama berada tak jauh dari rumahku mengikuti suaminya sebagai petani. Semuanya telah bekerja dan hanya anak kelima yang masih kuliah dan sibungsu yang masih SMA.
Aku tak menyangka bila anak-anakku bisa mengenyam pendidikan setidaknya sekolah lanjutan atas dan sudah mendapatkan pekerjaan sesuai yang di inginkannya. Ku akui istriku yang banyak berjasa menyekolahkan mereka karena dia lah sebagai tulang punggung keluarga.
Batukku menyerang lagi, ku rapatkan selimut dan mencoba untuk merebahkan diri. Istriku membalikkan badannya ke arah diriku, kasihan dia terbangun karena batukku. Dia membantuku membetulkan letak selimutku, air mataku hampir saja jatuh saat dia menyelimutiku. Aku tak tahu mengapa malam ini ingin sekali ku dekap tubuhnya, dan ingin sekali ku menatap wajahnya. Tapi dia berbaring kembali dan melanjutkan tidurnya.

Bidadariku
Ku ingin kau tetap menjadi bidadariku
Jika jiwaku tlah menghadap Nya
Ku ingin kau yang selalu menemaniku
Ku ingin kau yang salalu disampingku
Ku ingin kau yang selalu menyelimutiku
Walau nanti di surga
Telah dipilihkan bidadari yang lebih cantik darimu
Ku ingin Tuhan tak menggantikan dirimu
Karena cinta dan sayang ku hanya padamu
Dunia dan akhirat

Sudah pukul 24.30 wita, anak-anak kos yang menempati ruangan di sebelah rumah rupanya pun sudah tertidur. Tak terdengar bunyi radio atau tape recorder mereka. Aku memang membuat tempat kos di sebelah rumahku yang di huni para mahasiswa yang datang dari berbagai daerah. Aku sering memarahi mereka jika sudah tengah malam masih membuat keributan, karena bila sakit menyerangku aku tak tahan mendengar suara berisik. Aku tak tahu mengapa malam ini begitu hening, seakan ada seseorang atau sesuatu yang agung akan datang ke rumah ku.
Usia ku sekarang telah memasuki umur 61 tahun. Keseharianku aku dipercaya Jamaah di kelurahan ku untuk menjabat sebagai imam mesjid. Tetapi ketika kondisi kesehatan ku yang mulai memburuk setahun belakangan ini, aku mempercayakan pada seorang yang lebih muda dan lebih sehat dariku.
Ku melihat lagi wajah istriku, guratan-guratan letih jelas tergambar di sudut matanya. Sudah 30 tahun lebih kami berbagi suka dan duka dalam satu kebersamaan yang disebut rumah tangga. Tak sekalipun dia berkata kasar kepadaku, walau mungkin ada sesuatu yang tak disenanginya, semua dijalankan dengan penuh kesabaran tanpa ada sedikitpun raut wajah yang membuat aku merasa tak dihargai. Aaaahhhhh aku menarik nafas panjang untuk menahan agar air mataku tidak bergulir,.
Ku nikahi istri ku saat dia masih berumur 16 tahun dan pada saat itu aku sudah berumur 24 tahun. Aku memilihnya sebab dia dari keluarga yang taat menjalankan agama, dan memiliki dasar-dasar keagamaan yang kuat. Dia sangat pemalu dan aku sangat suka kepadanya. Kami menikah secara sederhana tanpa pesta yang mewah, karena kami berdua dari keluarga yang tidak cukup berada.
Dua tahun pernikahan lahir anakku perempuan pertamaku disusul dua tahun kemudian anak laki-laki keduaku dan seterusnya sampai si bungsu yang ke tujuh. Dengan kondisi fisik ku yang lemah aku tidak bisa diandalkan dalam mencari nafkah. Aku bersama istriku bahu membahu mencari sesuap nasi untuk diberikan kepada ketujuh anak-anakku. Kehidupan yang sangat sulit di daerah asalku membawaku berpikir untuk merantau ke luar Jawa. Kebetulan ada kakak angkat ku berada di suatu daerah di Sulawesi, hingga dengan berat hati aku mengutarakan keinginanku pada istriku untuk pergi ke tempat kakak angkatku.
Istriku menyetujui tetapi harus pergi bersama satu keluarga. Aku tak dapat membayangkan bagaimana jadinya kami merantau dengan membawa anak-anak yang masih kecil. Dengan penuh kasih istriku memberikan pandangan bahwa segalanya bisa teratasi kalau kalau semuanya saling bahu membahu dan selalu bersama. Ku dekap istriku dan dalam hati ku bersyukur bahwa aku mendapatkan anugerah yang sangat indah yaitu seorang perempuan yang menjadikan dirinya segalanya saat aku membutuhkan. Dia bisa jadi istri, sahabat, teman, kekasih, penyemangat, pelipur lara dan segalanya bagiku.
Aku tetap tidak bisa tidur, perasaanku mengatakan sesuatu yang luar biasa akan terjadi malam ini. Aku melirik jam dinding, sudah jam 02.00 wit. Udara semakin dingin dan batukku mulai mendera lagi. Tapi tak aku rasa lagi sakit di dadaku, dan aku batuk seperti orang batuk biasa. Aneh………….
Dengan bantuan kakak angkatku aku bisa membuka usaha di daerah itu, dan dengan semangat bahu membahu kami sekeluarga sedikit demi sedikit keluar dari kesulitan hidup. Anak-anak ku mulai bisa merasakan pendidikan, semuanya bersekolah kecuali putri pertamaku yang harus rela tidak bersekolah karena membantu aku dan istriku dalam mencari nafkah.
Tahun demi tahun berganti dan anak-anakku telah tumbuh dewasa, yang sulung telah menikah dan memiliki anak perempuan, laki-laki kedua pun telah menikah, dia merantau di Maluku membuak usaha dan sangat berhasil. Dia membawa adiknya yang lelaki ke enam. Dia bekerja di salah satu perusahaan terbesar di negara ini, sebelumnya aku tidak pernah menyangka dia bisa bekerja sebab dia sangat lemah fisik maupun mental. Aku sangat bersyukur dia telah mendapatkan pekerjaan yang di senanginya.
Anak perempuan keempat ku sudah menikah dan berada di Kalimantan Timur bersama Kakak lelaki ketiga. Aku dengar pun dia telah menjadi guru bahasa inggris disana, sedang kakaknya telah bekerja di salah satu perkebunan kelapa sawit. Sedang yang berada sekarang di rumah adalah anak kelima ku yang sedang kuliah di sastra Jerman dan si bungsu yang masih sekolah pada sekolah lanjutan atas.
Ahhhhhh, rasanya sudah cukup maksimal aku mendidik anak-anakku. Mudah-mudahan mereka tidak tergelincir kepada hal-hal yang menjauhkan mereka dari iman kepada Tuhannya. Aku telah memberi mereka dasar agama, mudah-mudahan mereka dapat mengenggamnya seperti mereka menggenggam sesuatu milik mereka yang paling berharga.
Itulah satu-satunya ketakutanku malam ini. Entah mengapa aku sangat takut bila anak-anak ku menjauhkan kehidupan mereka dari agamanya. Alangkah malunya aku kepada Tuhanku jika nanti aku di panggil menghadapnya. Aku akan menjadi manusia yang sangat merugi.

Ya Tuhan ku
Tak satupun hamba sesali apa yang telah terjadi
Dan tak satu pun yang hamba peduli
jika memang nyawaku harus pergi
Tapi
Ridoilah seluruh amalan yang telah aku perbuat
Dan kokohkanlah keturunanku dalam mengabdi pada Mu
Sepeninggalku tak ada yang bisa membimbing mereka
Kuserah kan segalanya kepada Mu
Karena urusanku kepada dunia telah selesai
Ya Rabb

Tak kutahu pukul berapa sekarang ini, yang ku tahu tubuhku tiba-tiba menggigil, aku sangat takut. Ingin ku bangunkan istriku tapi tanganku tak mampu ku gerakkan, Ya Tuhan aku mencium bau yang sangat harum , bau apakah itu?
Sekelilingku menjadi suatu cahaya yang sangat terang, sangat menyilaukan aku berusaha menutup mataku tapi tak bisa. Sesosok atau entah apa seakan-akan menghampiriku dia menyentuhku , semula aku merasa sangat takut tapi setelah disentuhnya ada perasaan damai , tentram , setelah itu aku merasakan sakit yang sangat luar biasa, kulit ku bagai di terkelupas seperti saat kombing sedang di kuliti, tulangku berderak hingga mereka terlepas dan saling mengucapkan selamat tinggal satu ruas dengan yang lain, suara bising memekakkan telinga, ya Alloh aku sekarang tersadar Al maut telah datang.
Datang padaku seorang wanita cantik menggiurkan aku, datang lagi seorang kaisar membawa harta kepadaku , datang lagi seorang yang sangat bengis kepadaku, mereka membujukku untuk mengikuti mereka. Bermacam cara mereka membujukku mereka mengangguku.
Sementara sesuatu itu datang tersenyum padaku, membawa kalimat “Asyhadu Anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah “ . Dengan susah payah aku mencoba mengikuti apa yang di bimbing nya, kulantunkan syahadat ditengah bujukan berjuta makhluk aneh yang datang kepadaku. Kadang kala aku hampir terbujuk, tapi Sesuatu itu tetap tersenyum sambil melantunkan Syahadat.
Seakan aku teriak ku ucapka basmalah disela helaan-helaan nafas berat ditambah rasa sakit yang tak terperihkan, dan ku ikuti bimbingannya dalam melafadzkan Syahadat
“Asyhadu Anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah “
Seketika itu semuanya putih menyinari alam raya. tak ada lagi sakit, tak ada lagi sesuatu tak ada lagi yang merayuku……….. hening , damai, tentram………………………….dan aku sudah tak bernyawa.

Tuhanku
Kuhambakan diriku sebagai budak Mu
Karena Engkaulah Tuan yang akan mengasihi budaknya
Tuhanku
Kujadikan aku milikmu
Karena Engkau adalah Pemilik yang akan mengasihi milikMu
Tuhanku
Kujadikan diriku hina
Karena adakah yang mengasihi yang hina selain yang Maha Mulia?
Tuhanku
Aku bersyukur menjadi ciptaanMu
Karena Engkau Sang Pencipta yang akan mengasihi CiptaanNya







For my dearest Bapak.
Terima kasih untuk segalanya
Tanah grogot, 19 Des 09.

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...