Rabu, 14 Agustus 2013

Lebaran di Kota Apam Barabai



Seperti lebaran tahun sebelumnya aku tak melewatkan berkumpul bersama keluarga kecilku. Ada beberapa alasan yang menjadikan aku tak ingin Mudik ke kampung halaman kala lebaran. Alasan utama adalah melesatnya harga ticket yang gila-gilaan ( persis kayak lagu grup pemilik kaki langsing Changcuters ).

Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta di Kalimantan Selatan, sedangkan keluargaku di daerah Sulawesi tenggara. Pada hari-hari biasa aku harus menghabiskan dana Rp. 2.000.000,- untuk ticket pesawat terbang Pulang pergi. Sedangkan untuk masa-masa menjelang lebaran harganya meningkat lebih dari 100 persen.

Daripada aku memberikan duitku untuk menggemukan maskapai penerbangan lebih baik ku kirimkan saja buat keluargaku. Tetapi resikonya aku tak bisa berlebaran dengan mereka. Alhamdulillah alasan tadi cukup membuat keluarga mengerti. Lagi pula aku memang sudah mengunjungi mereka sebulan sebelum puasa, dimana harga tiket yang masih normal juga aku tak perlu membocorkan ibadahku alias tak berpuasa.

Karena banyak sekali kita lihat orang-orang yang mudik pada saat bulan puasa lebih mementingkan mudiknya di banding ibadah puasanya. Alasannya karena mereka merasa menjadi  musafir. Ah biarlah itu urusan mereka dengan Tuhannya.

Sehari sebelum lebaran aku memutuskan untuk berlebaran di sebuah kabupaten yang jarak tempuhnya hanya 3 jam dari tempat kerjaku di Banjarbaru. Tepatnya di Kota Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kota yang terkenal dengan Kue Apam Barabai.
Wadai Apam Barabai
Aku memiliki beberapa teman, dan ada yang merelakan dirinya untuk ku kunjungi dan ikhlas memberi tempat menginap di rumahnya. Dengan ongkos Angkutan Umum sebesar Rp.50.000 ( padahal kalau hari biasa hanya Rp. 45.000 ) aku mendapatkan Angkot yang telah penuh sesak. Wah, sudah terbayang kenyamanannya ( aku tersenyum kecut dalam hati ).

Alhasil aku selama tiga jam lebih harus rela berdesakan dengan para penumpang lain. Aku berpikir ini masih lebih aman ketimbang aku bersepeda motor apalagi ketika banyak aku melihat beberapa pengendara sepeda motor yang membawa anggota keluarganya. Dengan jumlah penumpang yang minimal 3 orang bersama bawaan tas dan sebagainya, hatiku jadi miris. Mereka seakan berdansa dengan maut di atas roda dua. Setelah lebaran baru aku tahu, hampir 65 persen kecelakaan terjadi oleh pengendara roda dua selama mudik berlangsung. 

Setelah melalui jalan yang rapat merayap, waktu tempuh yang biasanya hanya 3 jam lebih menjadi hampir 5 jam. Peluh mengucur karena tikaman matahari yang luar biasa mengalahkan hembusan angin yang masuk lewat jendela angkutan umum. Tetapi Alhamdulillah semuanya tak membatalkan puasaku yang tinggal hari itu.

Dengan senyum merekah sahabatku menjemputku di terminal dan membaaku ke rumahnya. Sambutan hangat aku dapat dari keluarganya. Aku menjadi merasa mudik ke kampung halamanku sendiri. Setelah adzan magrib berkumandang, dimana-mana terdengar gema takbir, padahal sidang isbat belum juga di gelar tetapi sudah santer isu bahwa lebaran memang esok hari.

Setelah berbuka sahabatku membawa berkeliling kota barabai, tetapi kami berkeliling dengan berjalan kaki sebab jika memakai kendaraan kami akan terjebak macet. Kebetulan letak rumah sahabatku dekat dengan pusat keramaian.

Kami duduk di pelataran Plaza Murakata yang menjadi pusat kegiatan malam takbiran. Bunyi raungan mesin dan klakson kendaraan bersahutan tumpang tindih dengan dentuman Laduman ( sejenis meriam buatan dari bambu yang bunyinya menggelegar ) beserta puluhan bahkan ratusan kembang api yang menyilaukan mata di langit kota Barabai.
Laduman
Kemeriahan yang ada awalnya membuatku senang, tetapi kemudian pikiranku berkecamuk, apakah lebaran adalah sebuah pesta yang harus menghambur-hamburkan uang yang begitu banyak, padahal masih banyak di sekeliling kita yang mungkin saat ini tak dalam kondisi bergembira.


Tradisi telah bergeser.....


Larut malam kami kembali ke rumah untuk mempersiapkan diri melakukan Sholat I'ed pagi harinya. Aku dan keluarga sahabatku melaksanakan sholat I'ed di pelataran kantor Bupati Hulu Sungai Tengah. Suasana pun kembali hikmat, ditengah cuaca yang sangat cerah. Inilah hari kemenangan yang di janjikan setelah sebulan berperang melawan hawa nafsu. 
Allahu Akbar, Allahu Akbar walilahilhamdu.

Sekembalinya dari sholat I'ed, sesampainya di rumah sahabat terbentang kuliner khas Suku Banjar. Mulai ketupat kandangan, soto banjar, apam barabai, dan banyak lagi wadai ( Kue dalam bahasa banjar ) yang tak aku tahu namanya.

Tak perlu lebih lama untuk melihatnya saatnya lidahku akan ku manjakan dengan kuliner asli banjar. Ah...ternyata jauh dari kampung halaman pun masih terasa nikmat menikmati Indahnya hari nan Fitri.

Dan Kota Barabai......kotamu semanis dan selegit wadai Apam Barabai.






“Tulisan ini diikutkan dalam TjeritaHari Raya yang diselenggarakan oleh @leutikaprio.”




Dapatkan buku terbaruku..
LELAKI DALAM KISAH



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...