Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2013

PAPUA ( ketika Pongah Kekuasaan Menghancurkan Kearifan tanah ku)

Ibu....

kau pernah bercerita padaku

Negeri Indah di belahan Timur nusantara

hamparan hijau membentang

kepakan sayap menggelegar

Jutaan satwa mengalunkan nada

Tak sama namun seirama

Diantara rimbunan dedaunan

terlihat senyum diantara merahnya kunyahan sirih

lengan kokoh memanggul tombak

langkah mantap

menggendong bongkahan talas

ibu...

di temani matahari

mereka melantunkan nada

sekilas loncatan gembira

ternyata lengking nada kesedihan

aku mendengarnya ibu....

semakin terdengar dan semakin mengiris hatiku

dan mata ini nanar menatap

ada banyak jiwa yang terkapar

lapar

perut membusung

tangan lemah lunglai

bibir kerut

kulit mengkerut

lalu

di mana negeri yang indah

di mana negeri yang kaya

siapa yang serakah mengambil semua

tak memberi sedikit pada mereka yang terkapar

tak berdaya

Ibu.......

Mereka saudara kita

mereka juga manusia

mengapa harus kita selalu dengar

ratap sengsara mereka

padahal mereka pemilik tanah

yang terusik oleh pongah Penguasa

Kecap ABC ( Canda Papua )

Ada anak kecil 1 de baru masuk sekolah. Di sekolah ibu guru bilang, "Nanti kalu pulang sekolah bilang bapa ajar membaca eh..??"

Di rumah de bilang sama de pu bapa, "Bapa, tadi ibu guru bilang bapa ajar kita membaca..."

Langsung de bapa bilang, "Iyo ko makan dolo habis makan baru bapa ajar ko membaca..."

Saat makan di meja makan tu ada kecap ABC. Langsung de bapa mulai ambil kecap ABC sambil tunjuk huruf.

Bapa tanya: "Ini apa?"
Anak jawab: "A.."
Bapa tanya lagi: "Ini apa?"
Anak de jawab: "B.."
Bapa tanya trus: "Ini apa?"
Anak jawab: "C.."
Bapa tanya terakhir: "Baca apa?"

(anak langsung jawab)
Anak: "Dibaca 'KECAP'..!!"

Asa Anak Pegunungan Meratus

Jangan bertanya betapa banyak peluh ini menetes
Bahkan perih kaki ini tergores belukar duri
Kaki ku telanjang , tak bersepatu karena aku tak ingin sepatu ku koyak
Dan itu berarti setahun lagi aku dibelikan sepatu oleh bapak.
Jangan bertanya betapa banyak bukit dan sungai yang harus ku lalui
Ketika hujan datang aku harus berteduh di rerimbunan pohon yang sudah semakin jarang
Tetapi kamu boleh bertanya
Untuk apa aku lalui semua itu
Ilmu…..!
Demi ilmu aku berkilometer datang menghampiri bangunan tua ini
Bangunan yang telah terantuk jaman hingga atap dan tiang mulai retas di makan rayap
Bangunan dimana sebuah papan tulis berdiri kokoh di tengah ruangan yang tak berbangku
Huruf demi huruf
Angka demi angka
Tertulis bersama debu dari kapur tulis yang seringkali tak ada
Bersama satu-satunya guru yang masih setia
Membagi kepada kami Ilmu
Membagi kepada kami kearifan hidup
Membagi kepada kami semangat
Bahwa kesulitan yang menghadang tak akan pernah sanggup menghilangkan dahaga ilmu
Kami data…

Oh Cinta

Kau datang perlahan bagai senja
Tak bersuara
tapi ku tahu kau ada
Nyata
yang menyusup ke dalam relung dada
ah..... cinta

Ranah Pilu lelaki dalam persimpangan

Ketika Jingga di langit menjadi kelam
Tautan hati kembali kembara dalam impian nan kelam
Duhai
Pemilik diri
Jadikanlah gumpalan-gumpalan awan
menjadi bulir-bulir pesan
Yang menetes deras tuk melunakkan sebuah hati
karena padanya sebongkah nasib bergantung
sebuah cinta bersemayam



 Banjarbaru, 29 Maret 2013