Selasa, 16 April 2013

Kisah Bapak Penjual Amplop

Share dari : SL.Buku
Ditulis Oleh : Rinaldi Munir ( Bandung )

Sengaja saya share di blog saya karena jujur kisah ini sangat menginspirasi.  Silahkan terus membaca semoga bermanfaat :



"Kisah Nyata Bapak Penjual Amplop"



Saat menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik.

Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya.

Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop.

Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat. Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba.

Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu. Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur.

Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali, saya menghampiri bapak tadi.

Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya.

Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya. Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak.

Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak. Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu.

Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop.

Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu.

Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan.

Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi. Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju tempat penginapan.

Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata.

Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka.

Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka. Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat.

Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di tempat lain saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua. Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di dalam tas bercampur laptop. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Artikel Ini Ditulis Oleh: Rinaldi Munir, Bandung


Kamis, 11 April 2013

Stop Kekerasan Pada Anak





Pengertian Kekerasan
Mari kita telusuri dahulu apa sebenarya kekerasan itu. Pengertian kekerasan menurut Anita lie (dalam Suyanto, 2002) menyatakan bahwa kekerasan adalah suatu perilaku yang disengaja oleh seorang individu pada individu lain dan memungkinkan menyebabkan kerugian fisik dan psikologi.
Kekerasan adalah tindakan intimidasi yang dilakukan pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah, kekerasan dapat mengambil beragam bentuk yaitu kekerasan fisik, mental dan seksual.
Pengertian Kekerasan Terhadap Anak
Kekerasan terhadap anak-anak atau child abuse pada mulanya berasal dari dunia kedokteran sekitar tahun 1946. Caffey seorang radiologist melaporkan cedera yang berupa gejala-gejala klinis seperti patah tulang panjang yang majemuk pada anak-anak atau bayi yang disertai perdarahan subdural tanpa mengetahui sebabnya, dalam dunia kedokteran kasus ini dikenal dengan istilah caffey syndrome (Suyanto, 2002).
Sekarang istilah tersebut lebih dikenal dengan Child Abuse (kekerasan anak) The National Commiaaion Of Inquiry (Andri, 2006), kekerasan pada anak adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh individu, institusi atau suatu proses yang secara langsung depan keselamatan dan kesehatan mereka kearah perkembangan kedewasaan.
Kasus ini semakin menarik perhatian publik ketika Hendri Kempe, dalam Suyanto (2002) menulis masalah ini di Journal Of The American Medical Association, dan melaporkan bahwa dari 71 rumah sakit yang diteliti ternyata terjadi 302 kasus tindak kekerasan terhadap anak-anak dimana 33 anak dilaporkan meninggal akibat penganiayaan, dan 85 mengalami kerusakan otak yang permanen.
Reid mendefinisikan kekerasan terhadap anak sebagai pemukulan fisik dan psikologi terhadap anak oleh orang tua, kerabat, kenalan atau orang yang tidak dikenal (Suryanto, 2002). Sedangkan menurut pendapat Helfer yaitu ditujukan untuk para klinisi, kekerasan pada anak adalah semua interaksi atau tidak adanya interaksi antara anggota keluarga yang berakibat pada cedera (Andri, 2006).
Mari Mulai Membuka Mata kita
Hampir setiap saat berita mengenai kekerasan terhadap anak mewarnai media massa di negara ini. Dan pelaku kekerasan terkadang membuat kita mengelus dada dan tercengang karena pelaku adalah orang yang paling dekat dengan korbannya. Dekat secara emosional, hubungan darah atau lingkungan sosial.
Bagaimana tak akan mengurut dada bila si anak di aniaya sampai meregang nyawa oleh ayah atau ibu kandungnya sendiri. Atau si anak di lecehkan dan di perkosa oleh teman, paman bahkan ayah kandung atau tirinya. Belum lagi menengok beberapa kasus seorang anak yang dianiaya oleh gurunya.
Entah mengapa persitiwa-peristiwa memilukan itu semakin hari semakin meningkat jumlahnya. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam masyarakat kita.Masyarakat yang menganut adat ketimuran dan penuh dengan nilai-nilai keagamaan. Kita akan lantang berkata kita hidup bukan di belahan dunia barat tetapi kejadian-kejadian akhir-akhir ini seakan membelalakan mata kita bahwa kekerasan adalah wabah global.
Beberapa pakar psikologi menyatakan bahwa Kekerasan anak terbagi dalam beberapa kategori. Tindak kekerasan secara fisik, seksual, penganiyaan emosional, dan penelantaran hak anak. Dan mengapa itu bisa terjadi ?
Beberapa penelitian memberikan suatu resume bahwa kekerasan yang dilakukan oleh pelaku dalam hal ini orang dewasa adalah juga merupakan sebuah pengulangan terhadap apa yang telah dirasakan oleh pelaku kekerasan.
Akibat tekanan psikologis yang mendalam, kecenderungan untuk melakukan hal yang sama seperti yang pernah dialami sangat mungkin muncul. Sehingga ada baiknya sebagai orang tua harus sebijaksana mungkin dalam mendidik anak-anaknya.
Pendekatan secara kekerasan terhadap anak tentunya akan memberi dampak yang sangat luar biasa bagi psikologi si anak. Anak akan merekam tingkah laku orang dewasa yang dekat dengan dirinya, sehingga ketika si anak dewasa rekaman itu akan seperti berputar kembali dan ketika lingkungan di sekitar dia memberikan kesempatan untuk melakukan kekerasan maka dia akan melakukannnya tanpa di sadari.
Peran Mutlak Orang Tua
Melihat begitu banyak pelaku kekerasan pada anak adalah orang terdekat dan banyak pula adalah orang tuanya sendiri, maka selaku orang tua selayaknya harus melihat seorang anak bukan semata sebagai darah daging sendiri tetapi juga harus melihat anak sebagai pribadi sendiri dan memiliki hak selayaknya orang dewasa.
Selama ini dalam mindset kita sebagai orang tua anak adalah milik kita dan seakan memiliki hak dalam kehidupan si Anak. Kita tak melihat si Anak sebagai sebuah individu sendiri yang masih berkembang. Jika kita berpikir bahwa anak adalah individu pribadi yang sedang berkembang maka kita selaku pribadi lain hanya memiliki kewajiban mengarahkan dan mendidik bukan berhak untuk memiliki hidup anak kita. Karena hak hidup si Anak telah dimilikinya sejak dia masih dalam kandungan.
Mendidiknya sebisa mungkin harus secara persuasif memberi penjelasan sesuai nalar dan pemikiran sang anak. Bukan dengan otoriter karena berpikir anak adalah milik kita dan harus mengikuti keinginan kita.
Pendekatan secara persuasif seperti menasihati dengan bahasa yang lemah lembut harus dilakukan bila anak mendapat kesalahan. Dan ada hal yang sering dilupakan, orang tua sangat jarang sekali memberi reward kepada anak yang telah berprestasi atau berhasil melakukan sesuatu.
Harus diakui Mengurus anak susah-susah gampang. Terlalu keras salah, terlalu lembek juga tidak baik. Kebijaksanaan orang tua yang dituntut, sebab anak akan tumbuh sesuai dengan hasil didikan dari orang tua dan sosial masyarakatnya.
Peran Pemerintah
Peran yang mendukung lainnya adalah pemerintah yang bisa memberi sebuah kebijakan-kebijakan yang mengedepankan kepentingan anak. Beberapa provinsi, kota dan kabupaten telah mendeklarasikan kota atau kabupaten Ramah/Layak Anak.
Tetapi sampai sekarang itu hanya slogan kosong yang diembel-embeli photo narsis para pemimpin dengan anak-anak. Bagaimana sebuah kota atau tempat menjadi ramah untuk anak bila tak ada fasilitas yang di berikan untuk anak.
Contohnya pengadaan bis sekolah, jembatan penyeberangan dekat sekolah, atau petugas kepolisian yang bertugas di sekolah saat masuk atau keluar. Pemerintah berpikir dengan hanya menyediakan taman bermain di tengah kota itu berarti telah memberikan hak anak, padahal hak anak lebih dari sekedar tempat bermain.
Dan yang paling penting adalah sebenarnya seberapa besar pemerintah provinsi, kota dan kabupaten bisa menekan angka kekerasan terhadap anak. Saatnya Pemerintah menggalakkan kampanye Stop Kekerasan Terhadap Anak, dan jika memang dianggap perlu dibuatkan peraturan dareah yang jelas dan transparan melindungi Hak anak .
Akhirnya melalui tulisan ini saya yang juga memiliki 2 orang Putera mengajak bersama seluruh orang tua agar memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Berikut sekilas percakapan saya beberapa saat lalu ketika saya menelpon anak saya di kampung halaman saya di sulawesi.
Saat sedang asyik ngobrol dengan anak kedua saya yang berusia 9 tahun tiba-tiba terdengar suara bentakan serta hardikan disertai tangisan seorang anak.
“ Siapa yang menangis ndy ?” tanya saya kepada dandy anak saya.
“ Temanku pa…..dia dipukul sama bapaknya,” suara anakku terdengar ketakutan.
Agak lama berselang kami berdua terdiam, dan secara tiba-tiba anakku bertanya :
“ Papa…………apa jika papa disini, kalau dandy nakal akan papa pukul juga ?” lirih terdengar suaranya seperti ketakutan.
Kalimat itu benar-benar menampar saya. Tapi saya dengan tegas mengatakan :
“ Papa tidak akan seperti itu nak, papa janji…..”
Suara anakku kembali seperti semula,…….Ceria.

Senin, 01 April 2013

POETRY IN ACTION AT MINGGURAYA

(Merayakan World Poetry Day 2013 dan World Theatre Day 2013)

 Oleh : he.benyamine


Agenda Poetry in Action bulanan tetap berlangsung (29/3/13) meski hujan tetap mengiringi seakan tak mau ketinggalan peran dan penampilan. Pada bulan ini acara sekaligus memperingati World Poetry Day 2013 (21 Maret) dan World Theatre Day 2013 (27 Maret), sehingga penggiat teater berpartisipasi mengisi acara; seperti Halilintar bersama Belgis of Art, Sanggar Ar-Rumi Martapura, Teater Abstrak S4 (SMAN I Martapura),  dan Dapur Teater Banjarmasin.

Acara dimulai dengan tampilan puisi pembuka oleh penyair Taberi Lipani, sebagai tamu istimewa yang datang dari kota Barabai, kemudian dilanjutkan dengan tampilan Rezqie RM dari Banjarmasin, Damar, yang mulai menghangatkan suasana dikepung hujan dengan pembawa acara Dendi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Unlam, yang dapat lebih mencairkan suasana.

Pada bulan ini, mengangkat tema “Puisi-Puisi Perlawanan Terhadap Keserakahan, Eksploitasi Sumber Daya Alam, dan Ketidakpedulian”, yang bagi Hajriansyah acara seperti Poetry in Action bulanan ini merupakan suatu bentuk perlawanan dan puisi itu sendiri, karena semua yang hadir di sini secara langsung telah melakukan perlawanan terhadap keterbatasan dan hambatan untuk berhadir. Hajriansyah mengemukakan pengalamannya ketika di Brunai Darusalam sebelum membacakan puisi, dalam suatu acara pertemuan sastrawan, bahwa membaca puisi tidak harus dengan heroik dan dengan suara yang lantang, tapi dengan cara membaca yang lembut dan tenang juga dapat dilakukan untuk menghayati isi puisi yang dibacakan.

Penampilan grup teater berupa petilan sebuah naskah, membuat suasana bertambah meriah, dengan berbagai petilan naskah tersebut mereka mampu menarik perhatian hadirin yang datang, dan pengunjung Mingguraya lainnya, yang mana hal ini memberikan suatu isyarat jika ingin mengetahui seluruh cerita naskahnya tunggu penampilan lengkapnya pada panggung teater yang tidak lama lagi akan digelar.

Penampilan pembaca puisi, seakan mengirimkan pesan selalu ada pembaca puisi baru, yang dimulai dengan tampilan Restu, mahasiswa STIKIP PGRI Banjarmasin, yang menyatakan baru pertama membaca puisi, dengan memilih puisi Hijaz Yamani. Lalu, Devina dan Adi, keduanya pelajar SMAN I Martapura, yang juga tampil membawakan puisi Hijaz Yamani. Mungkin, ketiganya tidak pernah membayangkan akan membaca puisi dalam acara ini, dan mereka ternyata telah melakukannya. Mereka bertiga dan beberapa hadirin lainnya mendapat hadiah buku Malam Hujan, sajak-sajak Hijaz Yamani yang merupakan sumbangan hadiah buku dari Micky Hidayat untuk acara bulan ini.

Pembaca lainnya, Imam Dairoby Mashur, yang baru beberapa bulan tinggal di Banjarbaru, dari Samarinda, membacakan puisi Hijaz Yamani dan 2 puisi karya sendiri yang berhubungan dengan tema acara. Imam Dairoby Mashur menambahkan kebahagiaan acara dengan memberikan hadiah 4 buku yang diberikan kepada para penampil. Sedangkan Hadani Had tampil bersyair dengan membawakan  syair Datu Sanggul karya Taberi Lipani. Juga Andi Sahludin dengan puisi kenangan, dan Martha Krisna yang membacakan puisi kiriman temannya.

Penampil pembaca puisi yang beragam, sebagaimana Pesan Irina Bokova, Director General of UNESCO, untuk World Poetry Day 2013, “Poetry gives form to the dreams of peoples and expresses their spirituality in the strongest terms-- it emboldens all of us also to change the world.
Selanjutnya, tampilan petilan naskah Kumang karya Kalsum Belgis yang dipentaskan Sanggar Ar-Rumi Martapura, kemudian tampilan monolog grup Halilintar dan Belgis of Art dengan aktor Hadani Had; dengan penutup membakar boneka kertas yang tambah menghangatkan suasana terkepung hujan. Begitu juga tampilan Dapur Teater Banjarmasin dengan aktor Bayu Setiawan dan Devina Q, yang mengesankan dan mengheningkan suasana dengan akting yang apik.  Tampilan petilan dari beberapa grup teater ini merupakan respon langsung terhadap pesan Dario Fo, playwright, author and Nobel Prize winner untuk World Theatre Day 2013, “Thus the only solution to the crisis lies in the hope that a great expulsion is organized against us and especially against young people who wish to learn the art of theatre: a new diaspora of Commedianti, of theatre makers, who would, from such an imposition, doubtlessly draw unimaginable benefits for the sake of a new representation.

Pada kesempatan acara ini, ada pembagian hadiah lomba foto acara Satu Tahun Belgis of Art di Gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalimantan Selatan pada tanggal 9 Maret 2013 yang diorganizer Banjarbaru Dalam Lensa.

Nampak hadir Ahmad Azhar Ajang dari Batola, Drs. Sirajul Huda, Kalsum Belgis, Sybram Mulsi, Hari Insani Putra, Randu Alamsyah, Yulian Manan,  dan beberapa anggota Teater Wasi Putih. Kepungan hujan tak mengurangi kehangatan suasana. Wakil Walikota, Ogi Fajar Nuzuli, menyempatkan hadir pada akhir acara karena baru pulang dari Jakarta.

Akhir acara, Ali Syamsudin Arsi (ASA), sebagai penampil puisi penutup, membawakan beberapa puisi dari buku Jazirah Api. ASA secara langsung menanggapi lontaran Hajriansyah tentang bagaimana cara pembacaan puisi, dengan menyatakan bahwa cara pembacaan puisi tidak ada keharusan, bebas saja, mau teriak bagai suasana langit yang saat ini guntur bersahutan, datar, atau apapun.

Pada acara bulan ini bertepatan perayaan World Poetry Day 2013 dan World Theatre Day 2013, yang mana keduanya menyebarkan harapan, dekat dengan perasaan secara individu, dan mengungkapkan aspirasi yang memuliakan kehidupan. Dan juga tepat satu tahun Poetry in Action at Mingguraya dilaksanakan sebulan sekali, dengan donasi dan volunter dari berbagai pihak, seperti donasi pembelian sound system acara dari Dewa Pahuluan (Fitri Zamzam), Radius A. Hadariah, dan Kalsum Belgis. Selamat WPD dan WTD, tiada batas panggung untuk ekspresi.

Banjarbaru, 30 Maret 2013

 

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...