Rabu, 06 Februari 2013

Sajadah Merah




Malam semakin merangkak meninggalkan siang, hingga suasana semakin pekat. Bunyi televisi ruang tengah berganti dengan bunyi lirih dengkuran para penghuni rumah. Dingin udara semakin menusuk ke dalam tulang terdalam. Tak ku pedulikan lagi dentang jam yang sering mengagetkan para penghuni rumah yang sedang terlena dalam tidur.
                Mataku sembab, panas dan menatap nanar plafon kamar yang berwarna kecoklatan di lumuri debu yang menempel.Pikiran kalut di penuhi pertanyaan mengapa hal buruk terjadi padaku. Tak dapat ku ingat lagi apa yang jadi penyebab tangis  serta kalutnya pikiran. Bergulung-gulung semua rangkaian yang tak tahu harus bermula dari mana.
                Napasku sesak, karena kemarahan akan datangnya kegetiran yang aku alami. Napas memburu oleh amarah hingga ku menggigil seperti ribuan watt listrik menyengatku.Ku kutuki semua orang penyebab kekalutan ini. Ku kutuki nasib yang membelangguku seperti ini. Ku kutuki diri sendiri yang terlalu lemah untuk sekedar menepis galau yang muncul secara beruntun.
                Malam kian larut, tiba-tiba terdngar lolong anjing entah darimana asalnya. Selintas semerbak harum menerpa hidungku yang walau telah mampet karena tangis masih sempat mencium semerbak wangi yang membuat bulu kudukku berdiri.
                Sesosok bayangan muncul, dia tersenyum manis padaku. Alangkah cantiknya dia bergaun panjang melirikkan mata padaku. Aku tersenyum padanya, dia datang mendekatiku dari arah pintu masuk kamar.
                “Ada apa sayangku,” alunan suara nan syahdu seperti membelai seluruh ragaku. Ingin ku raih tapi tak sanggup ku gerakkan badanku.
                “A….a….a…..a….a,” aku terbata-bata ingin mengucapkan kata.
                “ Jangan sedih sayang……rebahkan segala beban di pangkuanku,”  baying wanita itu seperti mendekatiku.
                Aku merasa di belai dengan kelembutan,keindahan dan semerbak keharuman dari tubuhnya. Tubuh ku lunglai tak berdaya menuruti segala kemauan baying jelita tadi.
                “ Aku ingin memberimu kehidupan yang indah tanpa derita seperti yang kau alami. Tanpa rasa sakit dan tanpa harus berpayah menghadapi hidup. Ikutlah aku wahai satria pilihan, kau akan menjadi raja bagiku,” Bayang itu menari-nari di sampingku membuatku semakin bergejolak gairah. Tetapi entah gairah apa.
                Dari tangan bayangan jelita  itu terulur sebuah benda yang sangat ingin ku meraihnya. Tak dapat ku ketahui benda apa itu tapi sangat ku inginkan untuk memilikinya. Perlahan ku julurkan tanganku untuk meraih benda itu, dan dengan welas asih sang jelita memberinya padaku.
                Benda itu dalam genggamanku, ku perhatikan dengan rasa senang yang teramat sangat. Oh…benda itu terasa begitu indah. Tangan kananku memegang benda itu berkilau bagai intan yang memukau cahayanya.
                “ Engkau suka kah wahai kesatria?” Tanya sang jelita.
                Aku hanya bisa menganggukkan kepala disertai senyuman.
                “ Ambilah benda itu wahai sayangku, dan letakkan di pergelangan tangan kirimu nanti kau akan merasakan kenikmatan dan keindahan yang tiada tara.” Sang jelita mengedipkan mata indahnya ke arahku sembari membelai seluruh sukmaku.
                Aku terpukau dan sedikit demi sedikit ku ikuti arahan sang jelita. Perlahan-lahan ku letakkan benda itu ke tangan kiriku di iringi rayuan yang memukau dari sang jelita.
                Belum sampai benda itu menyentuh lengan kiriku sebuah pendar cahaya menyilaukan mataku. Aku terkejut dan seketika rasa takut menggelayuti seluruh tubuhku. Aku gemetar luar biasa . Hamparan warna merah berkilau luar biasa. Benda itu terlepas dari tangan ku dank u lihat sang jelita berganti menjadi sebuah sosok yang menakutkan. Gigi besar wajah merona merah bak api dengan rambut gimbal tak karuan. Dia menjerit , melolong begitu menyayat hati. Terdengar dengusan kemarahan disertai raungan kesakitan. Semakin lama sosok itu semakin pudar tenggelam oleh pendar warna merah yang semakin menyala.
                Sosok itu hilang, berganti dengan ruangan kamarku yang semula. Pendar warna merah berganti menjadi sajadah dekat tempat ku terbaring. Kulihat disamping sajadah ada sebilah pisau yang sangat mengkilap entah aku dapat dari mana. Kulihat tangan kiriku ada sedikit luka di bagian lengan.
                Subhanallah, astaghfirullah……….hampir saja aku membunuh diriku dengan mengiriskan pisau pada nadiku. Ku pandangi sajadah yang dulu ku pakai tempat sujud pada Tuhan ku. Terima kasih ya Allah, dalam kegalauan hati dan jiwa aku hamper membuat sebuah keputusan mengakhiri hidupku tanpa restu Mu.
                Sajadahku…………….Allah telah mengutusmu untuk menyadarkan aku dari kegalauan fikiran dan jiwa yang menyeretku untuk menghabisi nyawaku.
                Ku dekap sajadah merah ku, ku lumuri dengan air mata syukur kepada Ilahi yang tak terkira. Tersungkur diriku dengan isakan yang semakin keras.
Ya Allah………….Kasih sayang Mu masih menyelimutiku walau diriku hamper selalu melupakanmu. Terima kasih ya Allah…………..




Tanah grogot, April 2010
Tengah malam yang mencekap. Ampuniku Wahai Ilahi Robby

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...