Kamis, 28 Februari 2013

Sungai Siring Januari 14,2013

Ibu...
Aku termangu depan pusaramu
bibir ini terkatup tak bersuara
hanya tetes demi tetes air mata
jatuh membasahi pusaramu
Ibu...
Maafkan khilafku
yang tak bisa pegang Janjiku
sebagai perwujudan pengabdianku
Ibu....
di pusaramu aku mengadu
tak ada lagi sekarang sapa
tak ada lagi sekarang irama
Ibu.....
Aku bersalah padanya
hingga amarahnya melumatkan dada
hingga tak ada kata maaf darinya
Ibu.....
dipusaramu aku pamit
untuk menunaikan apa yang ku ucap
aku pergi bu
karena tanpa dirinya aku hampa di tanahmu
ibu.....
Maafkan aku tak bisa tunaikan janjiku
untuk menjaganya
aku pergi ibu

Rabu, 13 Februari 2013

Cara Mencapai Kerendahan Hati

( Bunda Theresia )


  • Berbicaralah sedikit mungkin tentang diri sendiri
  • Uruslah persoalan-persoalan pribadi
  • Hindarilah rasa ingin tahu
  •  Jangan mencampuri urusan orang lain
  •  Terimalah pertentangan dengan kegembiraan
  •  Jangan memusatkan perhatian pada kesalahan orang lain
  •  Terimalah hinaan dan caci maki
  •  Terimalah perasaan tak di perhatikan, dilupakan dan di pandang rendah
  •  Mengalah terhadap kehendak orang lain
  •  Terimalah celaan walaupun anda tak layak menerimanya
  •  Bersikap sopan dan peka sekalipun orang memancing amarah anda  
  • Janganlah mencoba agar di kagumi dan di cintai
  • Bersikap mengalah dalam perbedaan pendapat walaupun anda yang benar
  •  Pilihlah selalu yang tersulit

Minggu, 10 Februari 2013

TERSIKSA




 
Setelah sekian lama
Kita berbagi suka dan duka
Saling menopang dikala lelah dan papa
Saling menggenggam saat kalut dan derita mendera
Kini
Tak ada lagi senyum dan sapa
Begitu besarkah kebencian yang tertanam?
Aku rela kau caci,aku rela kau maki,asal kau beri tahu apa salahku
Kau diamkan aku,
Bicaralah pada ku
Tak patutkah aku tahu
Apa yang ada di benakmu
Kau siksa aku dengan diam mu
(Buton,291109)

Jumat, 08 Februari 2013

"Wish You Were Here"


I can be tough
I can be strong
But with you
It's not like that at all
There's a girl
That gives a shit
Behind this wall
You just walked through it

[Pre-Chorus:]
And I remember all those crazy things you said
You left them running through my head
You're always there, you're everywhere
But right now I wish you were here.
All those crazy things we did
Didn't think about it, just went with it
You're always there, you're everywhere
But right now I wish you were here

[Chorus:]
Damn, Damn, Damn,
What I'd do to have you
Here, here, here
I wish you were here.
Damn, Damn, Damn
What I'd do to have you
Near, near, near
I wish you were here.

[Verse 2:]
I love
The way you are
It's who I am
Don't have to try hard
We always say
Say it like it is
And the truth
Is that I really mi-I-iss

[Pre-Chorus:]
All those crazy things you said (things you said)
You left them running through my head (through my head)
You're always there, you're everywhere
But right now I wish you were here.
All those crazy things we did (things we did)
Didn't think about it, just went with it (went with it)
You're always there, you're everywhere
But right now I wish you were here

[Chorus:]
Damn, Damn, Damn,
What I'd do to have you
Here, here, here
I wish you were here.
Damn, Damn, Damn
What I'd do to have you
Near, near, near
I wish you were here.

[Bridge:]
No, I don't wanna let go
I just wanna let you know
That I never wanna let go

(Let go, oh, oh)

No, I don't wanna let go
I just wanna let you know
That I never wanna let go

(Let go let go let go let go let go let go let go)

[Chorus:]
Damn, Damn, Damn,
What I'd do to have you
Here, here, here
I wish you were here (I wish you were here)
Damn, Damn, Damn
What I'd do to have you
Near, near, near
I wish you were here.

Damn, Damn, Damn (Damn)
What I'd do to have you
Here, here, here (Here)
I wish you were here.
Damn, Damn, Damn
What I'd do to have you
Near, near, near
I wish you were here.

Wish You were Here ( Avril Lavigne )

Rabu, 06 Februari 2013

06022013



Tiga bulan
waktu yang sangat panjang
kau dalam kebisuan
tak terdengar suaramu
tak terdengar nyanyianmu
aku mencoba menyapamu
melalui dering ponsel
tak ada sambutan
tak ada lagi sapaan
kau tau
waktu terasa sangat pelan
seakan menjepitku
aku mencoba meraih apa pun untuk membuat diriku bangkit
ku cambuki diriku sendiri agar aku tetap tegar
tak terlelap dalam duka
aku mencoba tersenyum
tetapi bayanganmu selalu datang
kenangan
Aku memang makhluk yang harus di kasihani
begitu mereka bilang
terbelenggu dengan sebuah perasaan
yang hanya ada dalam diriku
06022013
diusiamu yang ke 50
aku mencoba mengucapkan
ku coba memohon
agar kebisuanmu terhentikan
tapi
hanya desau angin yang ku dengar
aku hanya bisa menatap
gambarmu
bersama doa
di dua pertiga malam ku
semoga Allah selalu memberi hidayah dan ridho padamu
semoga kebahagiaan dunia akhirat melimpah padamu
dalam sujudku
air mata ini tak henti bergulir
hanya berharap
hatimu terbuka kembali untukku.

Sajadah Merah




Malam semakin merangkak meninggalkan siang, hingga suasana semakin pekat. Bunyi televisi ruang tengah berganti dengan bunyi lirih dengkuran para penghuni rumah. Dingin udara semakin menusuk ke dalam tulang terdalam. Tak ku pedulikan lagi dentang jam yang sering mengagetkan para penghuni rumah yang sedang terlena dalam tidur.
                Mataku sembab, panas dan menatap nanar plafon kamar yang berwarna kecoklatan di lumuri debu yang menempel.Pikiran kalut di penuhi pertanyaan mengapa hal buruk terjadi padaku. Tak dapat ku ingat lagi apa yang jadi penyebab tangis  serta kalutnya pikiran. Bergulung-gulung semua rangkaian yang tak tahu harus bermula dari mana.
                Napasku sesak, karena kemarahan akan datangnya kegetiran yang aku alami. Napas memburu oleh amarah hingga ku menggigil seperti ribuan watt listrik menyengatku.Ku kutuki semua orang penyebab kekalutan ini. Ku kutuki nasib yang membelangguku seperti ini. Ku kutuki diri sendiri yang terlalu lemah untuk sekedar menepis galau yang muncul secara beruntun.
                Malam kian larut, tiba-tiba terdngar lolong anjing entah darimana asalnya. Selintas semerbak harum menerpa hidungku yang walau telah mampet karena tangis masih sempat mencium semerbak wangi yang membuat bulu kudukku berdiri.
                Sesosok bayangan muncul, dia tersenyum manis padaku. Alangkah cantiknya dia bergaun panjang melirikkan mata padaku. Aku tersenyum padanya, dia datang mendekatiku dari arah pintu masuk kamar.
                “Ada apa sayangku,” alunan suara nan syahdu seperti membelai seluruh ragaku. Ingin ku raih tapi tak sanggup ku gerakkan badanku.
                “A….a….a…..a….a,” aku terbata-bata ingin mengucapkan kata.
                “ Jangan sedih sayang……rebahkan segala beban di pangkuanku,”  baying wanita itu seperti mendekatiku.
                Aku merasa di belai dengan kelembutan,keindahan dan semerbak keharuman dari tubuhnya. Tubuh ku lunglai tak berdaya menuruti segala kemauan baying jelita tadi.
                “ Aku ingin memberimu kehidupan yang indah tanpa derita seperti yang kau alami. Tanpa rasa sakit dan tanpa harus berpayah menghadapi hidup. Ikutlah aku wahai satria pilihan, kau akan menjadi raja bagiku,” Bayang itu menari-nari di sampingku membuatku semakin bergejolak gairah. Tetapi entah gairah apa.
                Dari tangan bayangan jelita  itu terulur sebuah benda yang sangat ingin ku meraihnya. Tak dapat ku ketahui benda apa itu tapi sangat ku inginkan untuk memilikinya. Perlahan ku julurkan tanganku untuk meraih benda itu, dan dengan welas asih sang jelita memberinya padaku.
                Benda itu dalam genggamanku, ku perhatikan dengan rasa senang yang teramat sangat. Oh…benda itu terasa begitu indah. Tangan kananku memegang benda itu berkilau bagai intan yang memukau cahayanya.
                “ Engkau suka kah wahai kesatria?” Tanya sang jelita.
                Aku hanya bisa menganggukkan kepala disertai senyuman.
                “ Ambilah benda itu wahai sayangku, dan letakkan di pergelangan tangan kirimu nanti kau akan merasakan kenikmatan dan keindahan yang tiada tara.” Sang jelita mengedipkan mata indahnya ke arahku sembari membelai seluruh sukmaku.
                Aku terpukau dan sedikit demi sedikit ku ikuti arahan sang jelita. Perlahan-lahan ku letakkan benda itu ke tangan kiriku di iringi rayuan yang memukau dari sang jelita.
                Belum sampai benda itu menyentuh lengan kiriku sebuah pendar cahaya menyilaukan mataku. Aku terkejut dan seketika rasa takut menggelayuti seluruh tubuhku. Aku gemetar luar biasa . Hamparan warna merah berkilau luar biasa. Benda itu terlepas dari tangan ku dank u lihat sang jelita berganti menjadi sebuah sosok yang menakutkan. Gigi besar wajah merona merah bak api dengan rambut gimbal tak karuan. Dia menjerit , melolong begitu menyayat hati. Terdengar dengusan kemarahan disertai raungan kesakitan. Semakin lama sosok itu semakin pudar tenggelam oleh pendar warna merah yang semakin menyala.
                Sosok itu hilang, berganti dengan ruangan kamarku yang semula. Pendar warna merah berganti menjadi sajadah dekat tempat ku terbaring. Kulihat disamping sajadah ada sebilah pisau yang sangat mengkilap entah aku dapat dari mana. Kulihat tangan kiriku ada sedikit luka di bagian lengan.
                Subhanallah, astaghfirullah……….hampir saja aku membunuh diriku dengan mengiriskan pisau pada nadiku. Ku pandangi sajadah yang dulu ku pakai tempat sujud pada Tuhan ku. Terima kasih ya Allah, dalam kegalauan hati dan jiwa aku hamper membuat sebuah keputusan mengakhiri hidupku tanpa restu Mu.
                Sajadahku…………….Allah telah mengutusmu untuk menyadarkan aku dari kegalauan fikiran dan jiwa yang menyeretku untuk menghabisi nyawaku.
                Ku dekap sajadah merah ku, ku lumuri dengan air mata syukur kepada Ilahi yang tak terkira. Tersungkur diriku dengan isakan yang semakin keras.
Ya Allah………….Kasih sayang Mu masih menyelimutiku walau diriku hamper selalu melupakanmu. Terima kasih ya Allah…………..




Tanah grogot, April 2010
Tengah malam yang mencekap. Ampuniku Wahai Ilahi Robby

Selasa, 05 Februari 2013

Lelaki Kotor



( Cerita Pendek saya yang di muat di harian Malang Pos 20 Januari 2013 )

Seorang lelaki yang tubuhnya penuh dengan kotoran sampah , bau dan dekil berkenalan dengan seorang pria yang sangat rapi, santun dan berkelas. Mereka berkenalan begitu saja dan  saling berbagi cerita dan tawa. Sang lelaki kotor sangat kagum pada Pria rapi itu sebab selama dia hidup baru sekarang dia menemukan seseorang yang dapat diajak bercerita dengan akrab tanpa harus memicingkan mata dan mendongakkan wajah karena bau busuk pada dirinya.
            Hampir setiap saat mereka bertemu di depan taman kantor sang Pria Rapi saat sore hari  , sebab di situ pula sang lelaki kotor itu akan menghabiskan malamnya diantara bunga-bunga dan tumbuhan  di taman itu. Saat mereka bersama tak jarang pria rapi itu membersihkan kotoran di tubuh si lelaki kotor. Hari demi hari sambil bercerita sang Pria rapi selalu membersihkan kotoran yang melekat pada tubuh lelaki kotor itu sedikit demi sedikit.
            Semakin tersentuhlah hati lelaki kotor itu dan semakin  mengagumi pribadi sang pria rapi. Dia menceritakan semua yang dialami nya tanpa satu pun yang ditutupinya karena dia mempercayai si Pria rapi dan dengan telaten Pria Rapi itu mendengar sesekali memberi petuah untuk si lelaki Kotor.
            Semakin hari semakin besar perhatian yang di rasakan lelaki kotor itu dan dia pun merasa malu jika sang Pria rapi itu selalu membersihkan kotoran yang melekat pada dirinya. Lelaki kotor itu pun kemudian  bertekat bulat  ingin merubah dirinya menjadi seorang yang bersih dari kotoran dan ingin mengikuti semua apa yang dilihatnya pada  pria rapi tadi.
Tak di hiraukan cemoohan dari teman-teman sesama tuna wisma. Tak di pedulikan lagi bila ia harus membeli pakaian baru seperti baju yang di kenakan si pria rapi. Dan tak di hiraukannya bila dia harus tak makan karena uang hasil mengemis dia belikan sebuah pakaian baru.
            Hingga suatu hari dia merasa ingin mengunjungi sang pria bersih di kantornya. Di bersihkan tubuhnya dari sampah yang ada di tubuhnya. Dikenakannya pakaian yang telah di belinya. Dengan sedikit membusungkan dadanya dan harapan sang pria rapi terpana melihat perubahan dirinya dia melangkahkan kaki menuju kantor si pria rapi.
Lelaki kotor tertegun ketika dia sampai di kantor itu.  Dia  melihat kehidupan sang Pria rapi sangat bersahaja dengan teman-temannya. Lelaki kotor itu pun jadi berharap untuk bisa  menjadi bagian dari kehidupan itu. Lelaki kotor memanggil sang Pria rapi dan berharap dia bisa memasuki kantornya. Sang Pria rapi menengok ke arah lelaki kotor dengan pandangan terpana, tiba-tiba dia segera keluar dari kantor untuk menemui  lelaki kotor.
            Diseretnya lelaki kotor menuju sebuah tempat yang jauh dari penglihatan teman-teman pria rapi. Lelaki kotor hanya bisa mengikuti dengan senyum yang menbuncah. Dia berpikir bahwa si pria rapi telah menerima dirinya.   
“ Untuk apa kamu kemari?” tanya sang Pria rapi ketika telah sampai di tempat yang jauh dari kantornya.
              Aku ingin melihatmu di tempat kamu biasa bekerja” jawab si lelaki kotor.
            “ Mengapa kamu melakukan seperti ini, tak bisakah kita bertemu saja di taman seusai aku kerja, aku tak ingin teman-teman melihat aku bersama denganmu.”
            “ Tapi bukankah aku telah bersih, dan aku telah seperti tema-temanmu yang lain, dan lihat aku berpakaian mirip denganmu.”
            Sang Pria rapi melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki si lelaki kotor.
            “ Kamu memang kelihatan telah bersih, tapi kamu bekas-bekas kotoran tak akan hilang dari tubuhmu. Baumu tetap bau sampah dan aku takut bau itu akan mengganggu teman-temanku jika kau berada di dekat mereka. Bagaimanapun aku tak mau jika bau mu mengganggu temanku. Tidak cukupkah perhatianku kepadamu, mengapa engkau ingin mengganggu teman-temanku dengan baumu?”
            “ Tapi bukankah engkau tak pernah mempermasalahkan kotor dan bauku selama ini?”
            “ Untuk diriku aku tak mempermasalahkan tapi untuk teman-temanku aku tak mau mereka mengetahui bahwa aku berteman dengan orang seperti dirimu. Aku minta tolong pengertianmu jauhilah aku jika aku bersama teman-temanku. Selama ini sebenarnya aku hanya menjadikanmu sebagai sebuah observasi karena aku akan membuat sebuah tulisan mengenai kehidupan orang-orang seperti kalian. Maafkan aku.”
            “ Jadi selama ini perhatian yang kau berikan padaku hanya sebagai bentuk observasi juga, tapi aku melihat matamu tulus, apakah aku salah menilai dirimu?”
            “ Aku memang tulus memberi perhatian padamu, tapi aku tak mau jika itu di ketahui teman-temanku, maaf aku harus kembali ke teman-temanku. Aku tak bisa membawamu masuk dan mengenalkan mereka padamu.”
            Si lelaki kotor berdiri termangu menatap nanar kepergian sang Pria rapi yang selama ini di kaguminya. Perlahan air mata si lelaki kotor mengalir terpikir olehnya apa yang dikatakan sang pria rapi benar. Walaupun dia telah membersihkan kotoran di tubuhnya, bekas kotoran itu tak akan hilang. Karena seumur hidupnya dia hidup dalam kekotoran.Bau akan tetap menyengat dan bekasnya pun masih akan samar terlihat. Baju baru ini tak akan pernah menutupi dan membuat dia seperti orang lain, dirinya tetaplah seorang lelaki kotor.
            Di tinggalkannya gedung itu dan dia menyadari bahwa dunianya bukan di dalam sana, dia terlalu berharap untuk diterima di dunia yang sangat di dambakannya, tetapi garis hidup telah membawa bahwa dia tak bisa masuk ke dunia si pria rapi.
            Lelaki kotor itu hanya bisa tersenyum, dia terlalu memaksakan diri untuk seperti pria rapi. Selama hidup dia dalam kekotoran dan dia merasa berhak untuk merasakan bagaimana menjadi manusia yang rapi, tetapi lingkungan yang dihadapinya tidaklah mudah menerima orang seperti dirinya yang telah lama terbenam dalam kekotoran. Setidaknya saya sudah berusaha untuk menjadi seorang yang rapi dan bersih begitu pikir si lelaki kotor.
            Maafkan aku
            Bila selama ini aku ingin memasuki kehidupanmu
            Menjadikan diriku seperti dirimu
            Mencoba menjadi seperti dirimu
            Tapi aku tahu aku tak akan seperti dirimu
            Aku bahkan tak bisa seperti orang di sekelilingmu
            Begitu bersahaja, berdedikasi dan berpribadi
            Sekuat mungkin aku berusaha
            Seakan jauh itu dari sentuhan
            Akhirnya aku tersadar
            Galaksiku bukan di situ
            Aku tak bisa memasuki tata suryamu
            Aku hanyalah benda asing yang ingin memasuki orbitmu
            Tapi biarkan aku melihatmu
            Dari tempatku sendiri
            Mengagumimu
            Mengagungkanmu
            Tanpa bisa menyentuhmu
memandangmu saja
setiap hari
sudah lebih dari cukup
menjadikan aku bersemangat
untuk memulai hari
Bila memang ada sesuatu yg tumbuh di hatiku
tak kan kubiarkan dia bertumbuh
biarlah dia tetap seperti sedia kala
tetap memandangmu
membuatku jadi orang paling bahagia di dunia.
Terima kasih sahabat.
Dirimu telah membawaku
Pada suatu keadaan
Untuk menerima
Apa adanya diriku sendiri


Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...