Jumat, 11 Januari 2013

Geliat Pesona Kota Bau-bau





Angin laut menerpaku ketika aku keluar dari kapal Dharma Lautan yang membawaku dari Makassar ke Kota Bau-bau. Semerbak bau khas laut menerjang hidungku ketika kapal sandar di Pelabuhan Sultan Murhum kota Bau-bau. Kapal sedikit oleng diterjang ombak .

Sengaja aku memakai kapal laut karena selain kapalnya sangat bersih juga karena jika naik pesawat udara ke Kota Bau-bau dari Makasar akan cukup menguras kantongku. Sudah setahun aku bekerja di Samarinda dan kerinduanku sangat membuncah kepada kampung halamanku.

Perjalanan yang sangat melelahkan ku jalani, menggunakan pesawat dari Balikpapan ke Makasar selama satu jam. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan Kapal Feri dari Makasar ke Kota bau-bau.

Kota Bau-bau sendiri terletak di Pulau Buton yaitu salah satu pulau besar di Provinsi Sulawesi Tenggara. Pulau yang dikelilingi oleh beberapa pulau-pulau kecil yang membentuk kepulauan.

Dengan harga ticket sekitar seratus lima puluh ribu rupiah dan perjalanan di tempuh selama 15 jam, ku rasa tak membuatku kepayahan dalam olengan kapal sepanjang perjalanan. Ku nikmati saja, apalagi di dalam kapal banyak hiburannya. Dan bisa berbaur dan bercengkerama sesama penumpang kapal.

Saat kapal sudah sandar di pelabuhan, beberapa anak kecil terlihat melompat dari bibir dermaga. Mereka menyelam sambil melambaikan tangan kepada kami para penumpang agar melemparkan uang pada mereka. Atraksi yang sangat berani yang terkadang tidak memperdulikan keselamatan mereka. Padahal sudah ada peringatan bahwa kami penumpang tak boleh melemparkan uang, karena bisa membahayakan anak-anak itu. Tetapi masih ada juga beberapa penumpang yang bandel dan membuang uang ke laut.

Anak-anak itu adu cepat untuk memperebutkan uang yang di lempar oleh penumpang kapal, dan itu menjadi atraksi yang sangat mendebarkan dan asik untuk di lihat dari atas kapal. Kemahiran mereka menyelam akan diperlihatkan ketika penumpang melemparkan uang koin ke mereka. Ah….anak-anak itu hanya tahu kesenangan sampai tak memperhatikan keselamatan diri mereka.

Aku melangkahkan kaki menuruni tangga kapal, dan segera bergegas dari pelabuhan. Di depan telah menunggu kedua anak-anakku bersama istriku. Mereka adalah harta yang tak ternilai, dan begitu rindunya aku kepada mereka. Istriku menyambutku dan mencium tanganku, disusul anakku yang sulung yang telah beranjak remaja. Si bungsu langsung memelukku dan meminta gendong padaku, ku ciumi dia dengan rasa rindu yang teramat sangat.

Kampung kami berjarak 1,5 jam perjalanan dari kota Bau-bau. Istriku mengatakan padaku bagaimana kalau kami tidak langsung pulang ke kampung. Kami berencana akan berkunjung ke kraton Kerajaan Buton dulu. Aku sangat setuju karena anak-anak pun sekolahnya masih libur.

Istriku memanggil sebuah taksi dan membawa kami ke sebuah hotel yang letaknya tak terlalu jauh dari pelabuhan. Urat nadi perekonomian kota Bau-bau memang berada di sekitar pelabuhan. Pasar, Masjid Raya, beberapa Bank serta Plaza berada sangat dekat dengan pelabuhan. Pusat keramaian malam hari juga sangat dekat dengan pelabuhan tersebut.


Tempatnya bernama pantai Kamali yang sedari tadi di sebut oleh anakku, karena pada malam hari banyak permainan untuk anak-anak ada di situ. Aku hanya mengatakan pada anak-anakku agar sabar karena aku baru saja sampai.

Kami beristirahat beberapa saat di hotel yang lumayan nyaman. Harganya pun masih dapat di jangkau oleh isi dompet saya. Dengan antusias dari kedua anakku, kami memanggil taksi yang banyak hilir mudik di kota ini. Tujuan kami adalah Keraton Kesultanan Buton atau Wolio.


Jalan yang menanjak harus kami lalui untuk sampai di depan Keraton. Tak semegah keraton atau istana raja-raja di Jawa, terlihat keraton Buton sangat sederhana. Keraton atau istana tersebut terbuat dari kayu dan berlantai 2. Pertama kali memasukinya yang terasa adalah hawa sejuk dan nyaman.

Pada lantai pertama banyak terdapat pusaka-pusaka peninggalan dari Kerajaan buton. Kami bertemu dengan seorang kerabat Sultan yang kemudian menceritakan kepada kami perihal sejarah keraton tersebut.

Konon, sejarah berdirinya Buton dimulai dari perjalanan empat petingggi Tanah Melayu yang tiba di daerah ini dan mendirikan kerajaan dengan Wa Kaa Kaa sebagai ratu pertama di tahun 1332. Goresan penting sejarah Buton tertoreh tahun 1542 dengan berubahnya Buton menjadi Kesultanan Islam dengan Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis sebagai sultan pertama. Kebesaran sultan pertama ini diabadikan sebagai nama pelabuhan laut di kota ini, Pelabuhan Murhum yang tadi ku jejaki.

Keraton tersebut di kelilingi oleh benteng yang di beri nama benteng keraton Buton atau wolio. Berdiri kokoh di ketinggian kota Bau Bau. Dibangun semenjak pemerintahan Sultan Buton III, La Sangaji atau Sultan Kaimuddin yang berjuluk Sania Mangkekuna dan diselesaikan pada masa pemerintahan Sultan Buton VI, La Buke atau Gafurul Wadudu pada tahun 1632–1645. Benteng ini berbentuk huruf dhal pada abjad Arab, memiliki panjang kuranglebih 2.740 meter dengan tinggi ratarata 4 meter dan memiliki ketebalan 1,5 2 meter.

Konstruksi benteng ini cukup unik, yaitu dibangun dari susunan batu gamping atau batu kapur dan direkatkan dengan perekat alami berbahan rumput laut. Di dalam benteng terdapat 12 pintu gerbang atau Lawa yang melambangkan 12 lubang pada tubuh manusia dan 16 pos jaga atau Bastion yang setiap pintu gerbangnya ditempatkan beberapa meriam. Ada juga yang mengatakan jumlah pos jaga sebenarnya adalah 17 yang melambangkan jumlah rakaat dalam sholat fardhu umat Islam.

Memang, semua bangunan di dalam Benteng Wolio sarat akan makna-makna religius dan sosial yang sangat kuat yang terjaga sampai saat itu. Kemegahan Benteng Wolio dilengkapi dengan adanya, Masjid Agung Keraton (Masigi Ogena), didirikan oleh Sultan Buton XIX Sakiuddin Durul Alam atau Langkariyri di awal abad ke 17.

Masjid dua lantai ini berperanan sebagai pusat kegiatan keagamaan kesultanan. Saat ini pun, masjid keraton ini masih digunakan untuk sarana peribadatan sehari-hari. Bahkan, di saat bulan Ramadhan masjid selalu penuh dengan jamaah yang beribadah, menunaikan berbuka dan sahur bersama di bagian selatan selasar. Material sebagai bahan baku untuk membangun masjid sama dengan bahan baku pembuatan benteng, yaitu campuran dari batu kapur dan pasir.

Keunikan masjid ini adalah  jumlah pintunya sebanyak 12 buah dan tersusun atas 313 potong kayu yang identik dengan simbol 12 lubang pada tubuh manusia berikut jumlah tulang yang terdapat di dalamnya. Anak tangga masjid sebanyak 17 buah plus dua buah anak tangga tambahan, identik dengan jumlah rakaat shalat fardhu dan shalat sunnah. Masjid ini pula memiliki sebuah bedug dengan panjang 99 cm yang melambangkan Asmaul Husna.

Mesjid ini sudah beberapa kali di renovasi tetapi tetap mempertahankan keasliannya. Tepat di sebelah masjid berdiri sebuah tiang kayu yang berjuluk Kasulaana Tombi, menjulang setinggi 21 m yang digunakan untuk mengibarkan tombi atau bendera panji Buton yang di sebut  LongaLonga.

Hingga saat ini kondisi tiang yang sudah berusia 200 tahun lebih ini masih cukup baik walaupun sudah agak miring dan lapuk dimakan usia. Di hadapan masjid, kita akan menemukan situs bersejarah batu Popaua yang digunakan sebagai tempat pelantikan ratu pertama Wa Kaa Kaa dan tradisi tersebut masih diteruskan oleh Sultan Buton berikutnya hingga saat ini.

Di sebelahnya juga terdapat pula Baruga yang berbentuk bangunan besar dari kayu tanpa dinding yang digunakan sebagai tempat pertemuan dan membahas berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan masyarakat.

Melangkahkan kaki menyusuri dinding benteng ke arah timur laut, kita akan melewati sejumlah bangunan adat yang masih sangat terawat. Sebagian dihuni oleh keluarga sultan dan sebagian dihibahkan kepada pemerintah kota untuk dijadikan kantor instansi. Menurut masyarakat di dalam benteng, adat yang berakar dari nenek moyang mereka masih dijaga teguh hingga kini.

Ah….tak terasa begitu banyak yang di ceritakan kepada kami, aku pun sangat takjub dan sangat merasa bangga bahwa di sini ada sebuah benteng yang merupakan benteng terluas di Dunia.

Hari semakin sore dan matahari mulai akan kembali ke peraduannya. Terlihat jelas dari atas puncak pantai kamali dan Pulau Makasar . Sangat indah dengan panorama jingga dilangit yang akan segera berganti pekat karena malam kan datang.

Anak bungsuku mulai gelisah karena melihat benderang lampu mulai menghiasi kota. Yang ingin di tujunya adalah pantai Kamali. Kami pun memanggil taksi dan kembali menyusuri pusat kota bau-bau.

Tujuan kami adalah pantai Kamali yang di penuhi dengan berbagai macam permainan anak-anak dan hmmmmm……makanan. Perutku sedari tadi meronta ingin di isi. Ku lihat istriku sedang sibuk dengan kedua anakku. Dia menjaga keduanya agar tidak terpisah jauh dari kami.

Patung naga yang berada di tengah areal tersebut seakan menyambut kami sekeluarga dengan senyuman yang menyatakan keramahan Penduduk Bau-bau. Ketika istriku sedang mengawasi kedua putraku, aku berkeliling sambil mencari makanan apa yang dapat mengganjal perutku.

Disudut yang agak temaram ku lihat sebuah kedai makanan. Aha……! Ini dia makanan yang ku cari-cari.  Kasuami !

Makanan ini berbahan baku dari singkong  yang diparut kemudian dikukus dan dibentuk seperti tumpeng dengan ukuran agak kecil. Warnanya ada yang dibuat hitam agak keungu-unguan atau putih kekuning-kuningan.

Dinamakan kasuami, karena untuk memakannya harus dipadukan dengan ikan sebagai lauk utamanya, jadi tak boleh dipisahkan, layaknya suami-istri. Makanan ini sangat serasi karena salah satu bahan mengandung banyak karbohidrat, sementara pendamping utamanya (ikan laut) merupakan sumber protein yang tinggi. Ikan laut biasanya dalam bentuk ikan bakar dan ikan dengan bumbu yang berkuah.

Ah….aku melahap kasuami bagai orang yang kelaparan. Aku sangat merindukan makanan khas ini yang jarang ku temukan. Selesai makan ku lihat istri dan kedua anakku mencariku. Ternyata mereka pun sangat kelaparan akibat sedari tadi keliling kota Bau-bau.

Makan kuliner khas kota ini di temani angin malam yang berhembus dari pantai nan elok adalah sebuah anugerah yang sangat kami syukuri. Malam ini sungguh sangat lengkap kebahagiaanku. Berkumpul dengan keluarga di kampung halamanku yang sangat indah dan menawan.

Semoga kota kami bisa dijadikan alternatif kunjungan wisata bagi para wisatawan luar maupun domestik. Layaknya sebuah peribahasa tak kenal maka tak sayang, mungkin tulisan ini sebagai sarana mengenalkan kota Indah kami Bau-bau ke seluruh pelosok negeri. Ayo berkunjung ke Kota Bau- bau.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...