Minggu, 13 Januari 2013

SISA



Yang tersisa hanyalah diri

Bermandi galau dan resah yang tiada henti

Berjuta kalimat kau telah eja

Namun bebal ku tetap terasa

Jika lelahmu membuat jarak semakin jauh

luluh diriku dalam sembab

Tak ada kebanggaan yang ku beri

Hingga hanya malu yang kau dapat

Lelaku mu semakin menjauh

( "So Deeply")

Tanya


Ruangan ini telah sunyi
Hiruk pikuk kesibukan telah berganti
Menatap sendiri
Tumpukan pekerjaan yang tak akan pernah habis
Detak jam mengeluarkan bunyi
membuat irama yang terkadang bosan di dengar
Rindu
Haruskah membelenggu
padahal guratan nasib telah terbentuk
meliuk menukik tak beraturan
tapi semua telah tersurat
masih adakah rasa itu
cinta yang terajut
yang berbuah kedua buah mata cinta
hanya seribu tanya
yang sering mengiang di telinga
yang beraduk dalam kepal
tak ada jawab
selain keadaan
kita sudah lama tak bersama

( Buat "So Deeply" - Yang terdalam )

Jumat, 11 Januari 2013

Geliat Pesona Kota Bau-bau





Angin laut menerpaku ketika aku keluar dari kapal Dharma Lautan yang membawaku dari Makassar ke Kota Bau-bau. Semerbak bau khas laut menerjang hidungku ketika kapal sandar di Pelabuhan Sultan Murhum kota Bau-bau. Kapal sedikit oleng diterjang ombak .

Sengaja aku memakai kapal laut karena selain kapalnya sangat bersih juga karena jika naik pesawat udara ke Kota Bau-bau dari Makasar akan cukup menguras kantongku. Sudah setahun aku bekerja di Samarinda dan kerinduanku sangat membuncah kepada kampung halamanku.

Perjalanan yang sangat melelahkan ku jalani, menggunakan pesawat dari Balikpapan ke Makasar selama satu jam. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan Kapal Feri dari Makasar ke Kota bau-bau.

Kota Bau-bau sendiri terletak di Pulau Buton yaitu salah satu pulau besar di Provinsi Sulawesi Tenggara. Pulau yang dikelilingi oleh beberapa pulau-pulau kecil yang membentuk kepulauan.

Dengan harga ticket sekitar seratus lima puluh ribu rupiah dan perjalanan di tempuh selama 15 jam, ku rasa tak membuatku kepayahan dalam olengan kapal sepanjang perjalanan. Ku nikmati saja, apalagi di dalam kapal banyak hiburannya. Dan bisa berbaur dan bercengkerama sesama penumpang kapal.

Saat kapal sudah sandar di pelabuhan, beberapa anak kecil terlihat melompat dari bibir dermaga. Mereka menyelam sambil melambaikan tangan kepada kami para penumpang agar melemparkan uang pada mereka. Atraksi yang sangat berani yang terkadang tidak memperdulikan keselamatan mereka. Padahal sudah ada peringatan bahwa kami penumpang tak boleh melemparkan uang, karena bisa membahayakan anak-anak itu. Tetapi masih ada juga beberapa penumpang yang bandel dan membuang uang ke laut.

Anak-anak itu adu cepat untuk memperebutkan uang yang di lempar oleh penumpang kapal, dan itu menjadi atraksi yang sangat mendebarkan dan asik untuk di lihat dari atas kapal. Kemahiran mereka menyelam akan diperlihatkan ketika penumpang melemparkan uang koin ke mereka. Ah….anak-anak itu hanya tahu kesenangan sampai tak memperhatikan keselamatan diri mereka.

Aku melangkahkan kaki menuruni tangga kapal, dan segera bergegas dari pelabuhan. Di depan telah menunggu kedua anak-anakku bersama istriku. Mereka adalah harta yang tak ternilai, dan begitu rindunya aku kepada mereka. Istriku menyambutku dan mencium tanganku, disusul anakku yang sulung yang telah beranjak remaja. Si bungsu langsung memelukku dan meminta gendong padaku, ku ciumi dia dengan rasa rindu yang teramat sangat.

Kampung kami berjarak 1,5 jam perjalanan dari kota Bau-bau. Istriku mengatakan padaku bagaimana kalau kami tidak langsung pulang ke kampung. Kami berencana akan berkunjung ke kraton Kerajaan Buton dulu. Aku sangat setuju karena anak-anak pun sekolahnya masih libur.

Istriku memanggil sebuah taksi dan membawa kami ke sebuah hotel yang letaknya tak terlalu jauh dari pelabuhan. Urat nadi perekonomian kota Bau-bau memang berada di sekitar pelabuhan. Pasar, Masjid Raya, beberapa Bank serta Plaza berada sangat dekat dengan pelabuhan. Pusat keramaian malam hari juga sangat dekat dengan pelabuhan tersebut.

Kamis, 03 Januari 2013

Biduk

Lalu
Dia pun menepi
Melabuhkan biduk pada dermaga
Yang terlihat mampu 'tuk menepis samudra yang menggelora
Biduk itu terkoyak
Perlahan
Tambalan demi tambalan membuat biduk mulai terlihat sempurna
Tak di sangka
Dermaga itu menjadi labuhan bagi banyak biduk
Sehingga biduk yang pertama terlupa merana
Tambalan kembali meluruh tekoyak
Biduk itu pun sengaja melarungkan diri
Pada gulungan samudra
Tak apa tergulung dan karam di dasar samudra
Biduk itu tak ingin kembali pada dermaga
yang telah membiarkan dirinya

( Tenggelam dalam gelora Samudra masih lebih berharga daripada tenggelam dalam kebohongan sang dermaga )

Ah......mengapa harus ada cinta

Melingkar membelukar
menembus ke sudut hati
Lilitan akar cinta
ingin melepas
Menebas dengan tajam nya mandau
Tak kuasa dia semakin melilit
Bagai rekatan belitan sang phyton
Ah....
Andai tak ku biarkan dia datang
tentunya tak se erat sekarang
tebasan Mandau pun tak lagi berarti
Hanya menunggu
Hingga ku termakan
dalam lahapnya cinta

( Ah......mengapa harus ada cinta ????? )

Memoar ibu ( 31 Desember 2012)


Sini nak
Kan ku elus rambutmu
untuk menghilangkan
kusutnya pikiran yang mencarut marut kepalamu
Sini nak
kan ku elus punggungmu
untuk menepis
beban yang membuat punggung mu terkoyak
Sini nak
Kan ku elus kakimu
untuk sekedar menyegarkan
agar kau masih bisa terus melangkah
Sini nak
ku gandeng tanganmu
dan ku bawa kau ke halaman depan
tengadahlah ke awan
lihatlah angkasa tak terbatas
demikian kasih ibu kepadamu
demikian ridho ibu kepadamu
Tersenyumlah nak,
sambut hari baru

( ketika ku lelah hanya ibu yang bisa menyaput semua kelelahan, tak ada tempat se damai di pangkuan Ibu )

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...