Senin, 09 Desember 2013

ADZAN PERTAMA DENDY




 Cerpen ini bisa di dapatkan di buku Icha dan Bunga Mawar



  

            Jam menunjukkan pukul 10.30, suasana ruang kelas dua SD negeri Watambo menjadi ramai. Setiap anak saling mendahului untuk keluar dari kelas. Ibu guru wali kelas dua hanya bisa berteriak agar anak didiknya tak sampai jatuh saat berdesak desakan.

            Hari ini tak biasanya dendy kelihatan tak bersemangat. Dengan perlahan dia beranjak dari mejanya.

            “ Dendy kenapa ?” tanya Ibu wali kelas agak gusar sebab saat pelajaran terakhir tadi dia melihat hal yang tak biasanya pada diri anak muridnya tersebut.

            “ Tidak ada apa-apa bu guru,” jawab dendy sambil menundukan kepala.

            “ Apa ada temanmu yang mengganggumu dendy ?” tanya ibu guru lagi gusar.

            “ Tidak kok bu guru, dendy mau pulang saja, selamat siang bu guru,” dendy menjawab sambil berlalu dari hadapan ibu guru.

            Tatapan ibu guru tak lepas dari tubuh dendy yang telah berlalu dari hadapannya. Entah apa yang terjadi pada anak didiknya itu sehingga dia tak semangat dalam belajar hari ini.

            Dendy berjalan perlahan meninggalkan sekolah dengan menundukkan kepalanya menatap kerikil-kerikil yang ada di jalan. Beberapa teman memanggilnya untuk bermain bola di lapangan tetapi tak di hiraukannya.

            Dia pun tak ingin dimarahi nenek karena terlambat pulang, apa lagi pulang dengan pakaian kotor karena bermain bola. Tetapi bukan karena itu dia hari ini tidak semangat di sekolah.

            Dia teringat kemarin saat selesai sholat magrib di mesjid dekat rumahnya, ustadzah zainab memanggil dia dan mengatakan bahwa lusa adalah giliran dendy untuk melantunkan Adzan saat waktu sholat magrib tiba.

            “ Andai papa ada di sini, pasti dia akan mengajariku  adzan,” harap dendy. Tapi pikiran itu segera di tepisnya, karena dia tahu itu adalah sebuah harapan yang sia-sia karena ayahnya tak mungkin sekarang akan datang. Ayahnya jauh bekerja di pulau kalimantan, jadi tak mungkin meminta ayahnya mengajari adzan.

            “ Dendy sudah pulang,” suara nenek membuyarkan lamunannya sejak dari sekolah tadi.

            “ Sudah nek, “ jawab dendy agak tak bersemangat.

            “ Lho, ada apa…kok terlihat sedih. Teman mu ada yang menggodamu ya di sekolah,” tanya nenek.

            “ Tidak kok nek,…..kakek dimana nek,” tiba-tiba dendy terbersit sebuah ide.

            “ Kakek ke kebun di yang pulau sebelah, mungkin baru lusa pulangnya. Kan kakek panen jambu mente di kebun yang dulu pernah juga dendy pergi kan ?”

            Dendy kembali murung, padahal dia ingin belajar adzan dengan kakek.

            “ Memangnya ada apa sih den,” tanya nenek lagi.

            Lama dendy terdiam tetapi kemudian dari bibir mungilnya keluar juga keluhan bahwa dia di harus melantunkan adzan pada saat sholat  magrib besok. Dendy berkata kepada nenek bahwa dia masih belum terlalu hafal dengan lafadz adzan. Dan ingin agar kakek mengajarkan bagaimana melafadzkan adzan yang bagus.

            Nenek tertawa mendengar keluhan dendy. Nenek kemudian menyuruhnya segera makan dan nanti setelah selesai makan nenek akan mengajarkan cara adzan.

            “ Memangnya nenek tahu Adzan, kan adzan hanya bisa di lakukan oleh seorang laki-laki nek,” tanya dendy.

            “ Ya memang benar adzan itu harus di lantunkan oleh seorang laki-laki tetapi kan nenek sering mendengar saat adzan tiba dan di televisi kan sering ada adzan yang di lantunkan dengan bagus,” jawab nenek dengan tertawa.

            “ Oh..iya ya nek…kan di televisi sering juga ada adzan. Kalo begitu dendy makan terus nenek ajari ya adzannya dan nanti dendy juga akan melihat di televisi.”

            “ Ya sudah makan dulu ya….”

            Dengan riang dendy menuju ke kamar untuk mengganti seragamnya dan menuju ke dapur untuk makan. Selesai makan dia mencari neneknya yang berada di kios milik nenek di depan rumah.

            Nenek menyuruh dendy untuk melantunkan adzan di depannya. Beberapa kali dendy melakukan kesalahan karena terbalik melafazkannya. Nenek dengan sabar mengajari bagaimana lafadz adzan yang benar. Sampai akhirnya dendi tak lagi melakukan kesalahan saat melafadzkan adzan.

            “ Nah, dendy sudah benar melafadzkannya, tinggal dendy mengingat urutannya ya. Nanti saat di televisi saat adzan dendy harus mendengarkan dan coba mengikuti cara mereka melafadzkannya ya.”

            “ Iya nek,…dendy sudah tak lupa lagi dan urutannya pun dendy sudah hafal. Nanti tinggal coba ikuti iramanya seperti di TV ya nek.”

            “ Pintar deh cucu nenek,” kata nenek sembari mencium dendy.

            “Ih…apa sih nenek ini…kan dendy sudah besar . malu kan di cium…,”

            Nenek hanya bisa tertawa mendengar protes dendy.

            Sorenya saat pergi mengaji dan menjelang sholat magrib di masjid kampungnya dendy masih terus menghafalkan lafadz adzan agar nanti tak tertukar urutannya. Di dengarnya juga dengan seksama saat temannya yang malam itu menjadi muadzin. Begitupun ketika pulang ke rumah dan di televisi diperdengarkan suara adzan. Dengan seksama di dengarkannya kemudian dengan suara lirih dia mengikutinya.

Keesokan harinya pun seperti itu saat sekolah dan pulang sekolah, tak henti-hentinya dia dengan duara lirih melantunkan adzan. Dendy tak ingin saat dia adzan di depan mikropon masjid nanti dia melakukan kesalahan.

            Saatnya pun tiba, setelah selesai mengaji dan menjelang sholat magrib, ustadzah zainab memanggil dendy dan menyuruhnya untuk melantunkan adzan. Dendy dengan penuh percaya diri berdiri di depan mikropon dan melantunkan adzan.

            Sementara itu nenek sedang menelpon seseorang.

            “ Kamu dengar tidak suara dari mesjid? “ tanya nenek kepada seseorang di telepon.

            “ Iya mak saya dengar, itu suara adzan…memang kenapa kok saya di suruh mendengar adzan ?” kata suara lelaki di telepon.

            “ Mamak sengaja meneponmu untuk mendengar adzan itu, sebab yang melantunkan adalah anakmu dendy,” kata nenek kemudian.

            “ Subhanallah….mak, ternyata dia sudah berani….Alhamdulillah mak, saya sangat bersyukur. Terima kasih ya mak, mamak sudah menjaga anak-anakku dan mendidiknya,” kata suara itu yang tak lain adalah ayah dendy.

            “ Mamak juga bersyukur, anak-anakmu tidak nakal dan pintar. Ya sudah nanti setelah pulang kamu telepon dendy ya.

            “ Iya mak pasti, nanti saya telepon dia.”

            Sepulangnya dari masjid dendy segera mencari nenek. Dengan gembira dia bertanya bagaimana adzan yang dilantunkan dia tadi. Nenek hanya tersenyum dan mengangkat dua jari jempolnya. Sambil mendekati dendy nenek ingin menciumnya tetapi dendy segera berlari ke dalam rumah, karena malu dengan teman-temannya yang menggoda dia.

            Tetapi tak lama berselang suara nenek memanggil dendy. Nenek memberikan telepon ke dendy dan terdengar suara ayahnya telepon.

            “ Halo anak papa”.

            “ Halo pa…..”

            “ Wah selamat ya anak papa sudah berani adzan di mesjid, siapa yang mengajari ?”

            “ Maunya sih papa..tapi papa jauh sih,dan papa juga tidak dengar,” suara dendy terdengar ngambek.

            “ Siapa bilang ? saat dendy adzan tadi papa dengar kok. Nenek menelpon papa tadi saat dendy adzan. Jadi papa dengar……hebat anak papa……,” kata ayah.

            “ Jadi tadi papa dengar ya, bagus tidak pa?” tanya dendy .

“Sangat bagus dan yang terpenting dendy sudah buat papa bangga…”
 “ Terima kasih juga ya pa….dendy juga sangat senang kok.”

            Dengan berseri-seri dendy menceritakan tentang bagaimana dia belajar melantunkan adzan kepada ayahnya. Bagaimana pun ini adalah adzan pertama dia dan dendy sangat gembira karena telah dapat melantunkan adzan dengan baik.

            Malam pun semakin gelap merangkul kampung Watambo yang membuat deburan ombak di laut semakin jelas terdengar. Bulan sabit terlihat jelas seperti sebuah senyuman indah. Itu seperti senyum indah dari Tuhan buat dendy yang telah indah melantunkan kalimat-kalimat Nya.

Kamis, 05 Desember 2013

Biduk






Karya : Maruddin Er Faraqqi



Untaian kata yang kau tulis.

Tersirat deru nafas hidupmu,

Mengejar asa dan citamu.

Kata yang terangkai dalam kalimatmu...

Tersurat gelombang menghantam bidukmu...

Kalimat yang tersusun dalam paragrafmu..

Terlukis dan tergambar peluh perjuang hidupmu..

Ingin kulempar jangkar hidupKu tuk meraih biduk hidupmu.

Namun betapa jauh kau terhempas ke dalam samudramu.

Kuhempaskan biduk ku di tepi ini...

Dan menanti angin melabuhkan bidukmu

Pada dermagaKu

Kereta Senja



Karya : Maruddin Er Farraqy





Yogya-Jakarta seperempat perjalanan sudah.


Kulewati dalam ke sendirian.


Terpikir akan seseorang di sebrang sana.

Andaikan ia bisa menemani pejalanan ini.

Terasa dingin AC gerbong ini,

Gelak tawa, senyum manis, menghias perjalanan ini,

Aku sandarkan lelah dalam bahunya,

Gengam erat jari tangan diatas paha ini,

Semakin lepas laju kreta ini semakin erat peluk cinta dan sayang

Semakin cepat tiba disana.

Sayang ini hanya pandangan diluar jendela gerbong ini

Hingga bosan 8 jam dalam perjalanan ini.



Senin, 02 Desember 2013

Kalbu dalam Nada Biola


Karya : Johari Mustafa
 
Suara rintihan mendesis teriris
Mengalun dalam nada biola
Gesekan yg menyayatkan kalbu
Terurai lembaran gelap dibelakang
Disitulah ada tangisan, tawa, sedu
Sedih, hampa ,galau yg beriringan
Mengisi silih berganti dalam rotasi
Waktu renung yg kelam dalm renta
Tangis yg punya banyak alasan
Terpekur dalam nada rintih
Penuh sesak sarat derita
Gesekan biola yg bercerita
Lamunan yg larut hanyut ke arus
Dalam malam dekap
Lelaki ringkih tertatih termenung
Padam terlelap sepi sendiri
Dikaki malam gulita gelapkan
Pandangan yg rabun kekaburan
Menggoreskan mata hati
Pada lengkingan biola
Yg terus menjeritkan perih
Berdarah pedih dalm bayangan
Ini masa lalu itu masa kini
Satu persatu menghujamkan
Bara menuntun langkah pulang
Tunduk simpuh luluh terpuruk
Disunyi alam ilahi mengadu
Sayatan demi sayatan yg teriring
Terdengar makin nyaring
Kesuraman senja di umur yg renta
Adalah barisan kalimah
Tersimpun tersimpul dalam simpu
Didalam ........... sanubari gersang
Uraian risalah kelamnya muda
Mata hati berkaca menitis
Bagai gerimis sendu pagi
Tampa alasan saat waktu terus
Mamah usia, terdalam riak nurani
Dalam perih mendamba pulang

 

Maret 2000

Puisi Karya Noor Maryam






TENTANGMU

Melihatmu
Sesuatu yang indah yang tak bisa ku tulis
Disitu ada cerita tak berbuku
Ada rindu yang tak pernah habis diburu
Cerita baru setiap aku menghampirimu
Kadang tentang alismu yang hitam
Kadang tentang bibirmu yang mengejar gelas kopi
Atau tentangmu yang telah pergi..."


LELAKIMU,AKU DAN KAMU

Maafkan perempuanku
Atas rindu yang kurasakan pada lelakimu
Kurindui dirinya
Kubayangi langkahnya dalam setiap lagu yang kudengar
Setiap kisah yang ku tonton
Aku masukkan lelakimu
Lelaki yang tak bisa kuhapus dari sudut - sudut ingatanku

Perempuanku
Aku mengerti kita tak mungkin berbagi dalam satu hati lelaki
Aku dan kamupun tak pernah inginkan itu
Biarlah aku membuntutinya dalam dosa indahku
Mengenang lelakimu yang tertulis dilembar jejakku

Sabtu, 30 November 2013

Humor Ambon






OMA PINK

Satu hari bagini ada Oma Mince lewat deng dia pung motor metic..
Pas lampu merah Oma pun berhenti, tp waktu lampu ijo manyala oma seng jalan.
Akhirnya polantas datang tegur Oma.

Polantas: "Oma... itu sudah lampu ijo kenapa seng jalan?"
Oma: "Beta ada tunggu beta punk warna kesukaan ini nyong e "
Polantas: "Barang oma suka warna apa??"
Oma: PINK gitu Loh!

Hahahaeee...


OPA ROMANTIS

Opa ni tiap kali panggel oma selalu deng panggilan darling, sayang, honey...
-opa: darling su makang...???
-opa: sayang tehnya mana...???
-opa: honey mau ikut...???
-cucu: Opa ni paleng romantis paskali eee... akang pung rahasia apa??
-opa: sssssstttttt mari sini opa bisi-bisi,,, se jang bilang2 par oma eee...???
-cucu: barang kanapa Opa...???
-opa: Opa su lupa Oma pung nama...



NONA PU PILIHAN

Lia Nona manis di sablah, Nyong Ambon langsung sok akrab
“Adik manis, boleh beta bertanya? Tipe pria yang kamu sukai yang seperti apa sih?”
“Aku suka pria Jawa. Mereka lembut dan sabar.”, jawab wanita itu.
“Pilihan ke dua?” sambung si Nyong tambah garida.
“Pria Ambon. Kebanyakan mereka romantis.”
“Alternatif ke tiga?”
“Pria Batak kali ya. Aku suka pribadinya yang keras, terkesan macho,” kata si wanita yang kemudian menanyakan nama pria yang mengajaknya bicara.
“Beta pu nama Joko Sihasale, tapi biasa dipanggil Ucok.”



SENG TAU

Parto (bukan nama sebenarnya) 19 tahun, yang lahir dari keluarga transmigran perintis di desa Aimas-Sorong, terpaksa memutuskan pergi merantu untuk cari kerjaan, berhubung sawah yang diandalkan oleh Bapaknya tidak menghasilkan panen untuk mencukupi hidup mereka sekeluarga.
Pergilah ia ke Ambon, menyusul pamannya yang lumayan sukses sebagai pembuat perahu di daerah pantai Ambon.
Seumur-umur baru ke luar dari desa Aimas, tercenganglah ia manakala dibawa oleh pamannya berjalan-jalan di kota Ambon. Kagum ia, dan muncul tekatnya untuk mencari kerja di kota Ambon ini.
Ketika lewat di depan sebuah super market yang besar dan rame, pingin sekali ia kerja ditempat itu, maka bertanyalah ia kepada pamannya
"Paklik... besar sekali toko ini..., siapakah yang punya ?"
"Seng Tau... " jawab pamannya.
Lalu mereka lewat di sebuah bioskop yang megah.
"wah enak juga kalo kerja di bioskop, tiap hari bisa nonton film gratis" demikian pikir si Parto.
maka bertanyalah ia kepada pamannya,
"Paklik...Paklik.... wuah bioskopnya gede banget..... siapa yang punya Paklik ?"
"Wah... Seng Tau..." jawab si Paman.
"Wah... si Seng Tau nih kaya banget ya ...", pikir si Parto, "besok saya mesti cari dia buat minta kerjaan"
Akhirnya setelah makan di warung di dekat pasar, mereka berdua pulang. Saat itulah mereka berpapasan dengan iring-iringan mobil yang mengantar jenazah ke tempat pemakaman.
Terkesan dengan panjangnya iring-iringan dan banyaknya pengantar jenazah..., yang mati pasti orang terkenal pikir Parto, merasa ingin tahu kembali ia bertanya kepada pamannya...
"Paklik, banyak bener yang ngantar jenazahnya... siapa yang mati Paklik ?"
"Seng Tau..." , jawab si Paklik.
"Waduh...", kata si Parto dengan kaget sambil berkata kepada pamannya "Baru saja saya mau minta tolong Paklik buat nyari si Seng Tau buat minta kerjaan. Eh dia udah mati duluan..."
Kontan aja si Pakliknya ngakak.
 
 
Catatan: Seng Tau (bahass Ambon) artinya Tidak tahu




Jumat, 29 November 2013

Senangnya Jumpa Penulis Kalimantan Timur


Unjuk karya 

Silaturahmi memang selalu membawa berkah. Tak beda dengan silaturahmi yang digelar komunitas menulis Perempuan Penulis Kaltim pada Jum’at, 01 November 2013. Pertemuan bulanan pertama Perempuan Penulis Kaltim atau yang akrab disebut dengan PMeski sudah sering kali mengadakan pertemuan, namun pertemuan kali ini sedikit berbeda. Tanya kenapa? Karena ini adalah pertemuan rutin bulanan pertama yang dilakukan PPK. Sebelumnya pertemuan PPK dilaksanakan kondisional jika ada hal khusus yang perlu dibicarakan.

Pertemuan bulanan pertama yang digagas PPK tersebut dilaksanakan di rumah salah satu pengurus PPK, Haziah Ans. Tepatnya di Jl. Pemuda IV, Gg. Hj. Nusu. Pertemuan dimulai setelah sholat ashar hingga hampir menjelang maghrib.
Hadir dalam acara ini ketua FLP Yaman, Arul Chairullah, penulis buku kumpulan cerpen Akasia dan Lelaki dalam Kisah, Imam Dairoby Mashur, beberapa mahasiswa STAIN Samarinda dan tentunya anggota PPK sendiri.

Dengan hadirnya banyak penulis dari berbagai kalangan dan latar belakang berbeda, maka tak diragukan lagi keseruan acara ini. Ada sharing menarik tentang bagaimana cara menembus media nasional dari Arul Chairullah, yang salah satu cerpennya berhasil terbit di Republika. Ada info update dari Haziah Ans tentang genre naskah anak yang sedang dicari penerbit. Ada tips-tips menarik dari Imam Dairoby Mashur tentang bagaimana menuliskan pengalaman menjadi sebuah cerpen yang apik.

Dan ada beragam sharing info lain yang
tentunya sangat bermanfaat.

Selain sharing dunia tulis menulis dan penerbitan, di akhir sesi diadakan kuis dengan hadiah buku-buku keren milik anggota PPK. Hal ini menambah keseruan acara yang memang dikemas santai dan penuh kekeluargaan ini.

Waktunya kuis!



Waktunya kuis!Selain dapat hadiah bagi pemenang kuis, semua yang hadir dapat info-info keren terupdate tentang dunia kepenulisan dan yang tak kalah penting adalah munculnya motivasi bagi semua yang hadir untuk terus menulis dan menghasilkan karya yang bermanfaat untuk bangsa.




Sumber : PPK

Jumat, 22 November 2013

Puisi-Puisi Sahabat dalam "Goresan Pena Sang Perindu"




DIRIMU
( Marudin Er Faraqi )

Kau memang tidak bisa memasuki kehidupan 'Ku
Tapi kau bisa menjadi bagian hidupku
Yang tak bisa kumiliku tapi ada pada dirimu.
Kau tak bisa jadi diriku aku pun tak bisa jadi dirimu,
Tapi jadilah seperti apa yang dirimu inginkan,
Mengorbitlah pada diriku seperti bulan mengitari matahari dan memberikan sinarnya pada bumi. Janganlah terpana pada kasat mata tapi terpanalah pada apa yang hati lihat..
Biarkan sesuatu itu tumbuh
Pupuklah dengan rasa Mu.
Agar tumbuh menaungiMu dan menyejukan Mu.
Jadilah sahabat yang bisa mengasah batu menjadi permata..


YANG TERBACA
( Noor Maryam )

Untuk bunga yg terinjak siang tadi
Dengung kumbang
Atau capung yg menunduk mencuri jejak matahari
Kamu saksi Imaji..
Bukti nyata ruang yg tak bisa ku gali
Tangis yg berkantong - kantong pecah
Segera ku donorkan pada lipatan buku Akasia
Yg dimana bayangnya menyalip sudut halaman
Sebuah tikungan patah - patah
Lensa basah di ujung kisah


DILEMA CINTA
(Pipih Purbaningrat)

Berjalan pada titian hampa.
Seolah bercermin pada  cermin retak.
Garis  tipis membelah satu jiwa.
Itu bukan figuratif.
Renjana bertirai malu.
Lenguh bermuara pada duka.
Bak ranting dihempas angin, melayang mencari tambatan.
Garis tipis pada cermin adalah realita.
Satu rasa disisi yang berbeda.
Saat malam saat menuai hampa.


DIRIMU YANG SATU
( Nurul Adchan )


Andai kau tahu
Apa isi hatiku ini ?
Apa yang ku rasakan saat ini ?

Jika kau bisa merasakan
Ku mohon... balas rasa ini !
Ku mohon ungkapkan rasa yang ada di hati mu !

Andai kau  tahu...
Hanya dirimulah yang ada di hati..
Hanya nama mu yang terukir di jiwa ..
Hanya wajah mu yag ada di bayangan ku...

Dirimu yang satu ...
Telah menebar cinta di hatiku
Telah membagi rasa indah di hati
Walau hanya aku yang merasakan

Cinta itu timbul ...
Saat ku lihat dirimu
Dan tiba-tiba saja rasa itu timbul
Di hati ku.......karna hanya dirimu di hati ...

Kamis, 14 November 2013

TRAGEDI KARBALA










Riwayat yang paling shohih berikut ini dibawakan oleh Imam al-Bukhari, no.3748:
Dia mengatakan, “Kepala Husein ra dibawa dan didatangkan kepada Ubaidullah bin Ziyad. Kepala itu ditaruh di bejana, lalu Ubaidullah bin Ziyad menusuk-nusuk (dengan pedangnya) seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Husein. Anas ra mengatakan, “Diantara ahlul bait, Husein adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Saat itu Husein disemir rambutnya dengan wasmah ( tumbuhan sejenis pacar yang warnanya condong ke warna hitam ).”

Kisahnya, Husein bin Ali bin Abi Thalib tinggal di Mekah bersama beberapa para sahabat seperti Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Zubair. Ketika Muawwiyah meninggal dunia pada tahun 60 Hijriyah, anak beliau Yazid bin Muawwiyah menggantikannya sebagai khalifah. Saat itu penduduk Iraq yang didominasi oleh pengikut Ali ra menulis surat kepada Husein untuk meminta beliau berpindah ke Iraq. Mereka berjanji akan membai’at Husein sebagai khalifah karena mereka tidak menginginkan Yazid bin Muawwiyah menjadi khalifah. Ternyata tidak hanya melalui surat, mereka pun terkadang mendatangi Husein di Mekah dan mengajak beliau untuk berangkat ke Kuffah dan berjanji akan menyediakan pasukan.

Para sahabat seperti Ibnu ‘Abbas kerap kali menasehati Husein agar tidak memenuhi keinginan mereka, karena ayah Husein, Ali bin Abi Thalib juga dibunuh di Kuffah sehingga Ibnu ‘Abbas mengkhawatirkan keselamatan Husein pula. Namun Husein mengatakan bahwa ia telah melaksanakan sholat istikharoh dan telah memutuskan akan berangkat ke Kuffah. Sebagian riwayat menyatakan bahwa beliau mengambil keputusan itu karena belum mendengar bahwa sepupunya yaitu Muslim bin ‘Aqil telah dibunuh di tempat itu juga. Akhirnya berangkatlah Husein dan keluarganya menuju ke Kuffah.

Sementara di pihak lain, Ubaidullah bin Ziyad diutus oleh Yazid bin Muawwiyah untuk mengatasi pergolakan di Iraq. Akhirnya Ubaidullah dan pasukannya berhadapan dengan Husein yang sedang berada dalam perjalanan bersama keluarganya menuju Iraq. Pergolakan itu sendiri dipicu oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan Husein. Dua pasukan yang tidak imbang ini bertemu di Karbala, sementara orang-orang Irak yang membujuk Husein untuk membantu dan menyiapkan pasukan justru melarikan diri meninggalkan Husein dan keluarganya untuk berhadapan dengan pasukan Ubaidullah. Hingga akhirnya terbunuhlah Husein sebagai orang yang terzhalimi dan dalam keadaan syahid. Kepalanya lalu dipenggal dan dibawa ke hadapan Ubaidullah bin Ziyad kemudian diletakkan di dalam bejana. Ubaidullah yang tidak pernah diperintahkan untuk membunuh Husein ini pun lalu menusuk-nusukkan pedangnya ke hidung, mulut, dan gigi Husein, padahal disana ada Anas bin Malik, Zaid bin Arqam dan Abu Barzah al-Aslami. Melihat perbuatan yang sangat tak manusiawi itu, Anas ra lantas mengatakan,
“Singkirkan pedangmu dari mulut itu, karena aku pernah melihat mulut Rasulullah mencium mulut itu!” Mendengar kata-kata Anas ra, Ubaidullah pun marah lalu mengatakan, “Seandainya aku tidak melihatmu sebagai seorang-tua yang telah renta dan yang akalnya sudah rusak, maka pasti kepalamu akan kupenggal!” Dalam riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dari Hafshah binti Sirrin dari Anas ra dinyatakan, “Lalu Ubaidullah mulai menusuk-nusukkan pedangnya ke hidung Husein ra.”

Adapun riwayat palsu yang beredar tentang peristiwa ini menyatakan bahwa kepala Husein diarak dan diletakkan di depan Yazid bin Muawwiyah. Ini sesuatu yang mustahil, sebab saat itu Yazid bin Muawwiyah berada di negeri Syams, sedangkan peristiwa yang menimpa Husein terjadi di Karbala, Irak.  Sementara itu dikatakan pula bahwa kaum perempuan dari keluarga Husein disebutkan diarak dengan kendaraan tanpa pelana dan ditawan. Ini hanyalah kisah dusta yang ditambah-tambah penganut Syi’ah semata. Tak cukup hanya merubah dan menambah sehingga bercampur dengan cerita fiktif tentang peristiwa Karbala, mereka pun nekat menyusun hadits-hadits maudhu’ untuk mendukung sikap ghuluw mereka terhadap Husein ra.
Syaikhul Islam rahimahullah telah membagi tiga kelompok manusia dalam kaitannya menyikapi tragedi Karbala, yaitu:

1. Kelompok yang menyatakan secara terang-terangan bahwa tragedi pembunuhan itu layak diterima Husein ra karena adanya anggapan bahwa Husein ra telah memberontak kepada Yazid bin Muawwiyah yang tengah berkuasa saat itu. Begitu juga dengan tuduhan kelompok ini bahwa Husein ra berniat memecah-belah umat. Oleh sebab itu kelompok ini selalu membawa hujjah sebuah hadits dari Rasulullah yang berbunyi:
مَنْ جَاءَكُمْ وَ أَمْرُكُمْ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ أَنْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوْهُ.
Artinya, “Jika ada orang yang mendatangi kalian dalam keadaan urusan kalian berada dalam satu kepemimpinan, lalu datanglah seseorang yang akan memecah-belah jama’ah kalian, maka bunuhlah ia.” (HR. Muslim)

2. Kelompok yang sangat taklid kepada Husein ra sehingga mengatakan bahwa keta’atan adalah dibawah perintah Husein ra. Kelompok yang sangat mendewakan Husein ra ini dipimpin oleh Muchtar bin Abi ‘Ubaid yang kemudian menugaskan pasukannya untuk membunuh dan memenggal kepala Ubaidullah bin Ziyad.

3. Kelompok yang menghormati Husein ra sebagai seorang ahli bait yang sholih dan menepis tudingan kelompok pertama yang menghujat Husein ra sebagai pemberontak. Kelompok ini berkeyakinan bahwa Husein ra tewas dalam keadaan dizhalimi dan mendapat kesyahidan. Syaikhul Islam rahimahullah  dalam Minhajus Sunnah (IV/550) mengatakan bahwa tidak diragukan lagi bahwa Husein ra terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan syahid. Pembunuhan terhadapnya merupakan bentuk kemaksiatan kepada Allah Ta’ala dan rasul-Nya dari para pelaku pembunuhan dan orang-orang yang membantunya. Selain itu, ini merupakan musibah yang menimpa kaum muslimin, keluarga Rasulullah, dan yang lainnya. Husein ra berhak mendapatkan gelar asy-syahid, kedudukan, serta derajat yang tinggi. Kelompok ketiga inilah yang merupakan golongan ahlussunnah wal jama’ah.

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...