Minggu, 21 Oktober 2012

Burung pun Akan Lelah Terbang


          

 Cerita Pendek Karya : Imam dairoby Mashur.


          “ Hidup mu kok bagai burung,” suara di telepon bernada protes.
           “ Tak inginkah kamu menetap di suatu tempat, kasihan anak-anakmu,” kembali suara protes mbak ku yang bermukim di Luwuk memborbardir.
         “ Pengen nya sih Mbak,” jawabku sekenanya. Entah karena nasib atau memang karena aku menikmati kehidupan yang menjelajahi nusantara sehingga protes mbak ku tak ku anggap.
            Dalam 10 tahun mengarungi rumah tangga, sudah berapa kota dan propinsi yang ku singgahi. Bukan sekedar singgah tetapi menetap dan paling lama adalah satu tahun. 

            Bermula dari keinginan memenuhi kebutuhan keluarga, ku jelajahi belantara Pulau Obi di Maluku Utara, Sorong di tanah Papua kemudian kembali menapakkan kaki di Manado. Itu tak cukup aku harus kembali ke tanah Papua menuju kab, Teluk Bintuni. Kabupaten baru di tengah pedalaman papua. Sekembalinya dari sana ku jelajahi Pulau Sulawesi Selatan. Ku rangkai perjalanan hampir setiap minggu antara Makassar dan Bone.
            Berkelana, mencari sesuap nasi kemudian ku tempuh lagi menuju ke Papua. Kali ini sebuah daerah yang terkenal dengan nama kota Pala, Fak-fak. Merambah lagi gelapnya hutan yang hrus di tempuh dengan mobil selama 6 Jam.
            Oh Tuhan hidup seperti apa ini, kadang aku berpikir seperti itu. Ku tinggalkan keluarga dan ku lalui keseharian dengan kesendirian. Aku pernah tertunduk lesu dan untuk pertama kali mengeluh pada Ibu tentang hidupku, tentang takdirku.
            “ Engkau sekarang sedang berjihad anakku, berjihad demi keluargamu, Insya Allah ridho Allah akan senantiasa bersama mu,”
            Ucapan ibu kembali menguatkanku, apa lagi bila teringat anak-anak serta istriku. Mereka membutuhkan nafkah dariku, walau terkadang rasa bersalah tak bisa mendidik secara langsung anak-anakku terbayang di pelupuk mata.
            6 bulan saja aku bertahan di kota pala, ku kembali ke kota gersang Sorong untuk mengayuhkan kaki ke sebuah pulau di Kab. Raja Ampat. Tiga bulan bertahan dalam gigitan nyamuk malaria dan air minum dari curah hujan. Mandi pun harus dari genangan air payau di sela-sela pohon sagu. Tapi aku bisa terhibur dengan betapa melimpahnya durian dan ikan yang segar.
            Dering telepon ku terima dari mantan atasanku dan meminta aku ke poso. Poso ? paranoidku bergejolak, daerah bekas konflik agama. Berbagai pertanyaan ku lontarkan sebelum aku ke sana termasuk keamanan. Jaminan keamanan dan tentunya gaji yang menggiurkan membuat aku nekad menembus lautan Raja Ampat menuju Poso di Sulawesi Tengah.
            Syukurlah aku tak harus berdiam di poso tetapi aku berdiam di Palu yang setiap 2 hari sekali harus bolak-balik Palu- Poso yang berjarak 6 jam perjalanan dengan mobil. Disebuah HPH aku bersama atasan ku mencoba membangun sebuah usaha yang tentunya bermodal nekad dan keteguhan hati karena harus berurusan dengan lilitan Mafia kayu dan lilitan Kolusi di area birokrasi.
            Aku tak tahan, ini bukan duniaku yang harus menyisipkan bongkahan rupiah di sana-sini sementara kegiatan belum terlaksana. Aku menyerah, dan memutuskan keluar dari lilitan itu. Ku temui teman di daerah Palu dan mencoba bekerja sama dengannya di pengolahan emas yang baru di buka di bukit poboya Palu.
            Entahlah, apa karena aku yang terlalu keras dalam prinsip untuk hidup sedikit jujur atau memang dunia usaha itu yang sangat keras. Anarki dimana-mana hanya untuk memperebutkan lahan, dan rupiah yang memang sangat menggiurkan.
           Panas dan kering daerah Palu menjadikan manusianya gampang tersulut emosi. Kembali aku mengadu ke ibu, yang saat itu ibu berada di tempat kakak ku di Luwuk . Ku datangi dia dengan berbagai beban yang mulai menyerang. Termasuk masalah keluarga yang mulai menggoncang. Rentang panjang sebuah pernikahan yang di dasari kepercayaan dan cinta perlahan mulai goyah dan sedikit demi sedikit merangas.
            “ Tak usah menyalahkan Tuhan dan takdir, semua telah dalam suratan. Tuhan memberi cobaan untuk mengangkat derajatmu lebih tinggi. Sampai dimana dirimu mampu melalui semuanya.”
            Ibu memijatku dengan penuh kasih, dari sudut mataku lelahan bening dari mata ibu ku lihat.
            “ Semoga saya tegar bu,” ku kuat kan diriku sendiri karena tak tahan melihat guliran bening di mata ibu.
            “ jangan memaksakan sesuatu yang bukan menjadi hak mu, karena rejeki, jodoh Allah yang berhak mengaturnya,” kembali ibu berkata sambil mengusap matanya dengan ujung kain yang di pakainya.
       “ Bu, aku ingin ke kalimantan ke tempat mbak yu di sana,” kataku pada ibu. Dan ibu hanya mengangguk.

           Hampir tiga tahun berselang, memulai hidup dari nol dan tak memiliki apa pun di tengah deraan badai. Perlahan mencoba bangkit dan menggapai apa pun kesempatan yang menjulur. Ya Allah semoga ini adalah tanahku, tempat ku menopangkan segala harapan dan cita. Mencoba kembali merajut robekan hati, mengobati luka yang menganga.
            Nada telpon di ujung sana berbunyi.
            “ Assalamualaikum, Mbak bagaimana khabarnya sehat saja kah?”
            Hampir setahunan lebih aku tak mengabari mbak ku di luwuk.
            ” Walaikum salam, alhamdulillah kami baik-baik saja, kamu sendiri baik saja kan ?” terdengar lembut suara Mbak ku.
            “ Ya Mbak aku baik saja, kok sekarang tak lagi sering telpon sih Mbak  dan nanya di mana saya seperti dulu ?”
            “ Kamu sudah bukan burung lagi,” jawab Mbakku singkat.
            Aku hanya bisa tersenyum, dan selalu berharap kelana ku berhenti di tanah ini dan  membuat sebuah sarang yang nyaman untuk di tempati diriku dan kedua Malaikatku.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...