Rabu, 19 September 2012

Surat Kecil Sahabat



Oleh :  Astuti Alawiyah


Jam istirahat sebentar lagi berakhir, aku dan Aay sahabatku sedang asyik ngobrol di taman sekolah sambil melihat kakak-kakak senior main bola basket. Kami berdua sesekali meneriakkan yel yel untuk memberi semangat mereka.
"Mereka ganteng2 ya,Ay," kataku pada Aay.
"Iya dong,terutama cowokku tuch,"kata aay sambil menunjuk Rafael kekasihnya yang berpeluh
"Iya deh, cowok kamu ganteng juga kok, tapi kadang nyebelin banget,"kataku sambil manyun.
Aay hanya tersenyum, sambil tetap memandang ke arah lapangan basket.
" Udah yuk ti, kita ke kelas yuk," kata Aay sambil menarik tanganku.
" Ayuk deh lagian aku sudah mulai hitam nih gosong kena panas matahari," balasku berlagak genit menerima ajakannya. Kadang aku iri dengan Aay, dia terlihat cantik dengan rambut panjang dan kulit putihnya. Hingga banyak cowok-cowok yang naksir padanya.
Sementara aku wajahnya pas-pasan dan agak gelap kulitnya. Tetapi itu tak membuat persahabatan kami renggang, malah kami seakan tak bisa terpisahkan.
Aku banyak tahu tentang Aay, sebab padaku lah dia sering menumpahkan isi hatinya. Begitupun dia sanagt tahu tentang diriku. Jika ada masalah kami sering berbagi dan saling memberi semangat.
Termasuk Aay yang menderita gejala kanker darah tetapi itu masih gejala. Aku sebagai sahabat khawatir banget dengan kesehatannya. Terkadang aku mengingatkan dia untuk tidak lupa makan obat.
Suasana di kelas saat itu  sepi, murid-murid sedang istirahat di luar kelas. Hanya aku dan Aay yang berada di dalam kelas.
" Kamu udah makan obat atau belum Ay," tanyaku.
" Ini juga baru mau makan,"kata Aay.
"Lho kok baru makan  sekarang, bukannya harus minum pagi tadi?" tanyaku agak khawatir.
"Aku lupa tadi ti,"kata Aay
"Kamu nih hobi banget lupa, kamu kan gak boleh telat minum obat Ay," kataku mulai cemas.
" Kamu gak usah khawatir ya sama aku,aku bisa jaga diri kok,"kata Aay santai.
" Kamu ini gimana sih, aku tuh sahabat kamu dan jelas aku khawatir banget sama kamu Ay,"kataku dengan nada tinggi dan membentak.
Aay pun hanya terdiam, entah dia tak enak dengan kata-kataku atau bagaimana aku pun tak tahu. Beberapa saat kami pun saling berdiam diri , sampai tiba-tiba Rafael datang ke arah kami.
" Aduh ada apa nih, kok pada diam saja, biasanya kalian rame banget,” ujar rafael terlihat bingung sambil menyeka keringat di dahinya.
“ Gak ada apa-apa kok Rafa, aku yang gak bisa di bilangin,” senyum Aay mengembang menyambut rafael.
Aku beranjak dari tempat duduk dan ingin meninggalkan mereka berdua. Dengan pandangan yang bingung Aay memenggilku.
“ Kamu mau ke mana ti ?” tanyanya.
“ Aku cabut dulu ke kantin, kan dah ada Rafa yang temani kamu,” kataku sambil berlalu. Dalam hatiku aku seperti cemburu pada mereka berdua. Mengapa aku belum punya pacar ya. Andai aku punya pacar seperti Aay mungkin aku akan juga sebahagia aay saat ini.
“ Tapi kamu gak marahkan Ti ?” teriak Aay padaku yang ku sambut dengan senyuman kecut.
 Hari demi hari pun berlalu, persahabatan ku dengan Aay pun ada pasang surutnya. Terkadang kami bertengkar kadang pula kami sangat erat. Penyakit Aay pun lambat laun bukan semakin membaik malah semakin memburuk. Entahlah padahal Aay sudah berobat kemana-mana tapi hasilnya belum juga tampak.
Suatu hari saat kami di dalam kelas dan bulan menikmati pelajaran yang sangat membosankan karene guru kami  menerangkan tanpa berhenti, tiba-tiba Aay pingsan di sampingku.Aku pun kaget karena dia jatuh tepat di pundakku.
" Pak...Ay pingsan pak," teriakku panik.
Guru kami pun terkejut dan segera memapah Aay dengan beberapa siswa membawanya ke ruang UKS. Aku mengikuti mereka dengan perasaan cemas, karena selama ini Aay tak pernah pingsan di sekolah.
Aay belum sadar juga ketika sampai di ruang UKS, dan beberapa kali petugas UKS menggosokkan Minyak kayu Putih ke hidung Aay. Tak lama berselang sebuah mobil ambulans datang dengan suara serine yang meraung-raung. Aku tahu bahwaa petugas UKS sudah tak sanggup dan meminta kepala sekolah memanggil Ambulans dari rumah sakit terdekat.
Aay pun di bawa ke rumah sakit, aku berkeras untuk ikut ke rumah sakit. Bagaimana pun dia adalah sahabatku. Demikian juga Rafa, dia berkeras ingin ikut bersama tetapi karena di dalam mobil ambulans tak boleh banyak orang terpaksa rafa mengalah dan mengikuti mobil ambulans dengan motornya.
Sesampainya di rumah sakit Aay segera di bawa ke ruang gawat darurat sedangkan aku bersama Rafa dan beberapa orang guru menunggu di luar ruang UGD. Tak lama berselang ibu dan ayah aay datang tergopoh-gopoh di sambut oleh guru kami. Mereka kemudian masuk ke dalam ruang UGD.
Aku terdiam, menunduk sambil berdoa semoga tak terjadi hal yang buruk dalam diri Aay. Ku lihat Rafa pun tertunduk membisu, dia pasti merasakan apa yang ku rasakan saat ini. Kami berdua sama-sama tak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada orang yang kami sayangi.
Setelah sekian lama kami menunggu, pintu ruang UGD rumah sakit terbuka dan terlihat ayah Aay berjalan dengan langkah yang gontai. Aku dan rafa segera mendekati ayah Aay.
“ Om, bagaimana Ay…..?” hampir bersamaan aku dan Rafa bertanya.
Ayah Aay hanya memandangi kami berdua, kemudian di rangkulnya aku dan Rafa. Dia membisikkan sesuatu yang membuat pecah tangis ku. Aay telah pergi, dia meninggalkan kami semua.
Aku tersungkur lemah, karena aku merasa sangat kehilangan. Ayah Aay dan Rafa memapahku ke sebuah kursi di depan ruang UGD. Rafa menenangkan aku agar aku tenang dan jangan menangis lagi.
Aku sangat terpukul, Aay adalah sahabat terbaikku dan dia pergi meninggalkan ku. Meninggalkan kenangan yang indah di hari-hari kami. Tangisanku bukan semakin reda tetapi semakin menjadi jadi. Ay…….mengapa begitu cepat kamu tinggalkan aku?
                                                *******************
Lonceng berbunyi sudah sejak dari tadi, hari ini tepat 7 hari setelah kepergian Aay. Hatiku masih sangat kehilangan, masih ada sembab terlihat di mataku. Aku duduk sendiri di meja kami, ku pandangi kursi di sampingku tempat Aay duduk. Kulihat seakan dia masih di situ dan tersenyum untukku.
“ Ti…….,”suara Rafa mengagetkan aku.
Aku menatapnya, dia memberikan sebuah buku kepadaku. Itu adalah buku PR matematika Aay yang dulu di pinjam oleh Rafa, yang belum sempat di kembalikan hingga Aay pergi.
“ Ini buku Ay, di dalamnya ada sebuah lipatan kertas yang bertuliskan sesuatu dan  ku pikr itu untuk mu,” kata Rafa kemudian.
Kuambil buku tersebut dan mencari sebuah kertas di dalamnya. Kertas itu terlipat rapi, ku buka dan kubaca isinya yang berupa coretan-coretan tangan Aay.
Untuk sahabatku tersayang
Ti, kamu tahu aku sangat senang dan bangga punya sahabat sepertimu. Kamu selalu ada saat aku susah, saat aku senang. Seakan kita tak akan terpisahkan. Tetapi ti, siapa yang akan tahu usia manusia. Penyakitku makin hari makin parah. Aku sudah sangat kasihan pada mama dan papa yang telah menghabiskan uang untuk mengobatiku. Aku tak ingin membuat mereka terbebani dengan diriku ti. Andai saja Tuhan sayang padaku, aku ingin dia cepat memanggilku untuk bersama Dia di Surga. Aku akan sangat bahagia di sana, tetapi aku harus meninggalkanmu ti. Kamu rela kan kalau aku lebih dahulu pergi ke Surga ? Aku akan minta Tuhan untuk selalu menjagamu, dan ketika waktumu nanti tiba aku ingin Tuhan menyatukan kita lagi di Surga.
Dari teman mu Aay

                                                            +++++++++++++


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...