Kamis, 21 Juni 2012

Segelas Susu





            
            Pemuda itu berperawakan tinggi kurus dengan rambut ikal yang sedikit tak terurus. Usianya berkisar 22 tahun, ketika  melewati rumah ku  dia sering melempar senyum santun kearah ku ketika berpapasan. Gerak gerik yang sopan dan sorot matanya yang tajam menandakan dia adalah pemuda yang baik dengan latar belakang pendidikan yang baik pula.
            Aku tersenyum mengamati pemuda itu yang berjalan menjauh dari rumahku. Setahuku dia tinggal menyewa sebuah kamar di blok sebelah. Tak seperti pemuda-pemuda lain seusianya dia terlihat lebih tua dari usianya dan berpakaian yang tak semodis teman-temannya.
            Yang lebih membuatku kagum lagi adalah dia tak segan menjadi penjaga malam di kompleks perumahan kami pada malam hari, dan ketika pagi dia menjadi tenaga kebersihan kompleks yang mengambil sampah-sampah yang kami letakkan di depan rumah.
            Setiap pagi dengan mendorong gerobak sampah dia menelusuri beberapa blok di perumahan ini. Tak ada rasa gengsi atau malu di wajahnya, di jalaninya dengan senyum dan sapa kala bertemu dengan penghuni kompleks yang memiliki berbagai sifat.
            “ Mas kan kuliah, kok mau saja sih melakukan pekerjaan seperti ini,” kataku tadi saat dia datang mengambil sampah di depan rumahku. Aku kebetulan berada depan rumah karena ingin menutup pintu pagar selepas mengantar suamiku ke tempat kerjanya. Si Minah pembantuku anaknya sedang sakit jadi dia minta ijin untuk pulang kampung.
            “ Kuliah kan siang bu, jadi masih sempat mengerjakan semua ini pada pagi hari,” katanya dengan lembut.
            “ Mas nya tidak malu ?”
            “Saya sudah biasa melakukan ini bu, karena saya bukan dari keluarga yang berada. Upahnya bisa untuk meringankan beban orang tua di kampung bu agar tidak terlalu berat memikirkan masalah biaya hidupku.”
            “ Wah, salut saya dengan mas ini.”
            “ Saya yang harus berterima kasih bu kepada penghuni kompleks karena memberi pekerjaan ini pada saya.”
            Aku menggelengkan kepala, pemuda itu beranjak pergi sambil mendorong gerobak sampahnya. Aku kembali masuk ke dalam rumah yang selalu saja terasa sunyi karena kami tidak memiliki seorang anak. Kesunyian telah membelenggu rumah tangga kami selama 15 tahun.
            Telah banyak yang kami lakukan, tetapi hasilnya tetap nihil dan kami memang di takdirkan untuk tidak mempunyai keturunan. Kami berdua pasrah atas segala yang di gariskan, tak ada gunanya mengeluh. Yang kami lakukan hanyalah menjaga cinta kami berdua agar langgeng sampai salah satu dari kami terbujur kaku.
            Waktu terus berlalu, minah telah dating dan membuat aku tidak merasa kesepian lagi. Minah sudah ku anggap seperti keluargaku, kami sering duduk bersama berbincang tentang hidup dan pengalaman kami. Suamiku pun di sibukkan dengan kegiatannya yang padat.
            Teng teng teng
            Suara pintu pagar di ketuk seseorang.
            “ Min……minah..tolong bukakan pintu pagar min,” teriakku pada minah. Aku baru saja datang dari arisan di kantor suamiku. Tak ada suara minah menyahut, mungkin dia sedang tertidur. Jam baru menunjukkan jam 20.00, suamiku sedang tugas di luar kota.
            Ku buka pintu depan dan ku datangi pintu pagar, ku dapati pemuda itu di depan pagar rumah.
            “ Ada keperluan apa ya mas,” pikiranku terbesit sesuatu yang negatif.
            “ Selamat malam bu, maaf saya mengganggu ibu, saya hanya mau minta tolong dengan ibu kalau ibu berkenan,”
            “ Bantuan apa itu mas?” tanyaku masih terasa was-was. Ku lihat kiri kanan semua rumah sudah tertutup rapat. Ku lihat pemuda itu memegangi perutnya.
            “ Masnya sakit perut ?”
            “ Maaf bu, perut saya memang sakit karena sejak pagi tadi  perut saya tak terisi. Jika boleh,  maukah ibu memberi saya segelas air untuk mengganjal perut saya bu.”
            “ Masya Allah,…..mari mas masuk ke rumah.”
            Aku tak berpikir lagi sebab ku lihat wajah pemuda itu telah pucat pasi. Segera ku persilahkan dia duduk di kursi teras dan aku masuk ke dalam memanggil minah. Ku suruh Minah membuatkan segelas susu dan beberapa potong kue.
            “ silahkan makan mas, maaf saya hanya punya ini karena minah tak masak malam ini,” kataku dengan iba.
            “ Ibu, saya hanya minta air putih saja bukan susu dan kue bu, saya tidak punya uang untuk membayar susu dan kue ini bu,” pemuda tadi berusaha menolak apa yang ku sajikan.
            “ Mas tidak perlu membayar saya ikhlas memberikannya mas, makanlah. Saya teringat oleh petuah ibu saya bahwa berikanlah yang terbaik bila kita akan melakukan kebaikan. Makanlah mas, semoga ini bisa membuat mas tidak merasa kelaparan lagi.”
            “Terima kasih bu, entah dengan apa saya membalasnya,” kata pemuda itu sambil mengambil susu tersebut dan meminumnya.
            #################################################################
            Usiaku semakin lanjut, penyakit demi penyakit telah menggerogoti tubuhku. Suamiku telah lama pergi meninggalkanku menghadap ke hadirat Nya. Si minah pun telah sepuh, dan tak kuat lagi bekerja. Aku sekarang di temani keponakanku yang ku ambil dari saudaraku di kampung untuk membantuku karena tubuh renta berpenyakitan sepertiku sudah tak bisa di andalkan untuk melakukan pekerjaan rumah.
            Hari ini perutku sangat sakit, bagai di tusuk oleh jarum rasanya. Panas membakar dan sanagt perih. Jantungku pun berdegup dengan kencang, seakan mau pingsan. Aku memanggil keponakanku untuk mengantarkan aku ke rumah sakit.
            Ternyata kanker pada saluran pencernaanku semakin akut. Keponakanku gelagapan ke sana kemari mengabari saudara-saudaraku. Ku dengar dari beberapa perawat mengatakan bahwa kemungkinan aku bisa di operasi. Mereka masih menunggu dokter yang masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.
            Aku sudah tak ingat lagi, yang terlihat di mataku hanya buram putih. Setelah tersadar aku mendapati keponakanku bersama beberapa saudara telah berada dekat ranjang ku. Keponakanku berbincang dengan Dokter yang merawat diriku. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi sesekali dokter itu melihatku.
            Rasa sakit yang ku derita membuat aku tak bisa lagi mengingat apa yang terjadi. Yang kutahu aku memasuki ruangan yang di penuhi sorot lampu dengan beberapa orang yang memakai  seragam serta penutup kepala dan mulut. Mungkin inilah ruang operasi pikirku. Tapi setelah itu aku tak sadar dan kembali aku terlena di hamparan warna putih yang menyilaukan.
            Bau itu begitu menyengat, rasanya ingin muntah. Kepalaku berat dan mataku seperti tak bisa terbuka. Seseorang memanggilku.
            “ Bibi…Bibi….bibi sudah sadar?”
            Ku coba dengan sekuat tenaga membuka mataku, sinar silau menerpa kedua mataku. Semua buram tetapi lama kelamaan aku bisa melihat orang-orang di sekelilingku. Mereka tersenyum gembira.
            “ Bibi sudah sembuh……,” bisik keponakanku di telingaku dengan lirih.
            Suasana rumah sakit membuatku bosan, aku ingin kembali kerumah dimana tak ada bau alcohol yang menyengat. Saat ku utarakan pada keponakanku dia terlihat sedih. Aku lupa, bahwa aku harus membayar mahal akan perawatanku di rumah sakit ini. Aku tak memiliki banyak uang lagi, makan pun kadang kala aku susah apa lagi harus membayar biaya perawatanku.
            Aku pun bingung harus bagaimana agar aku bisa membayar semuanya. Beberapa perawat datang ke tempatku, mereka membawa sebuah kursi roda.
            “ Ibu, sekarang ibu sudah bisa pulang, ibu sudah sembuh dan saya lihat ibu sudah kangen dengan rumah ya ,” kata seorang perawat cantik padaku.
            “ Tetapi suster, kami belum bisa membayar biaya rumah sakit, apakah kami bisa keluar tanpa membayar biaya rumah sakit ?”
            Ku lihat keponakanku pun bingung. Dia segera memasukkan barang-barang ku ke dalam tas.
            “Ibu tak usah khawatir dengan biaya nya bu, karena seseorang sudah membayarkannya untuk ibu,”
            “Siapa sus yang telah membayar semuanya ?”
            Perawat itu tersenyum dan memberi sebuah amplop kepadaku. Disitu tertulis semua rincian biaya pengobatanku yang telah lunas terbayar. Nominal yang sangat besar menurutku. Sebuah amplop putih kecil ada di dalamnya juga. Ku buka amplop itu, sebuah tulisan tangan dan dengan jelas tertulis sebuah kalimat :” Ibu yang baik hati, biaya rumah sakit ibu telah terbayar dengan segelas Susu dan beberapa potong kue.”
            Aku tak mengerti , ku palingkan mataku kea rah perawat tadi dengan tanda Tanya yang besar. Di pintu terlihat seorang dokter, dengan baju putihnya dia tersenyum padaku. Tuhan,..dia pemuda itu. Dia datang menghampiriku.
            “ Ibu yang baik, dari ibu aku mendapat pelajaran untuk memberi yang terbaik kala kita kan melakukan suatu kebaikan, itu kata-kata ibu kan”
            Dokter itu tersenyum dan mencium tanganku.
            Tuhan hari ini Engkau telah membalas kebaikan dengan sebuah kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...