Jumat, 29 Juni 2012

HADIAH TERINDAH UNTUK INDAH


(Ketika kita sibuk memikirkan sepatu, ternyata ada orang yang memerlukan kaki)



  Bergegas aku berlari meninggalkan ruang kelas, aku tak menghiraukan teriakan teman-teman gang ku. Mereka  meneriakkan namaku beberapa kali, tapi aku seolah-olah tuli tak mendengar. Ku percepat langkahku menuju jalan raya dan dengan tergesa ku hentikan sebuah angkot. Tapi angkot itu melaju dengan kencang tak mau berhenti hanya menyisakan debu yang menerpa wajahku.
            Geram juga rasanya, tapi memangnya angkot cuma itu saja..tuh di belakang banyak yang ngantri. Aku kembali menghentikan angkot yang melintas di depanku lagi. Syukurlah angkotnya mau berhenti. Hup…... sekali lompat aku sudah di atas angkot. Tetapi duk……kepalaku sukses ke jedot pintu angkot.
            Sambil nyengir aku mengelus kepalaku yang terasa sakit ,wajahku pun  merah padam menahan malu, ku dengar suara cekikikan dari beberapa penumpang angkot lain. Beberapa anak-anak SMP menutup mulut mereka menahan tawa. Ku pelototi mereka kemudian membuang muka ke depan kearah pak sopir. Senyum nyinyir pak sopir ternyata mengembang juga.Aduh kenapa sih hari ini aku sial banget.
            Sambil cemberut menahan sakit dan malu aku duduk diam dalam angkot. Aku meminta pak sopir berhenti ketika sudah sampai di depan gang rumahku. Aku turun dari angkot dengan sedikit hati-hati karena takut ke jedot pintu angkot lagi. Pak sopir sok baik dengan mengingatkan agar memperhatikan pintunya. Tetapi dengan sunggingan senyum yang mengejek. Sebel jadinya.
            Sesampai di rumah ku menjerit memanggil ibu yang sedang berada di dapur. Tanpa membuka seragam putih biru ku aku ke dapur dan mendapati ibu sedang membuat memasak. Ibu menegurku agar aku mengganti pakaian dulu dan membantu memasak.
            “Ogah ah, ros gak mau bantu mama masak kalau mama tidak menepati janji,” kataku dengan nada tinggi.
            “ Lho….mama janji apa Ros ?” mama mendelik kan matanya padaku.
            “ Tuh kan ..pasti mama lupa, sepatu ma……sepatu yang ros inginkan. Kan mama janji kalau sudah ada uang kiriman dari papa mau belikan Ros sepatu. Papa sudah ngirim uang untuk kita kan ma ?” rengekku sambil menarik tangan mama. Persis anak kecil.
            “ Iya….papa sudah mengirimkan uangnya, tapi apa sepatu itu tidak terlalu mahal Ros….empat ratus ribu hanya untuk sebuah sepatu ? “
            “ Ih…mama…..ya harganya memang seperti itu. Itukan sepatu original ma, bukan sepatu aspal. Lagian sepatu itu kan bisa Ros pakai lama karena kualitasnya bagus.”
            “ Padahal sepatumu sudah banyak kan Ros,” guman mama lirih.
            Aku sempat cemberut mendengar gumanan mama, tapi mama segera memelukku dan bilang akan memberikan uang untuk membeli sepatu yang sudah hampir sebulan ku impikan. Akhirnya bisa juga aku akan memilikinya. Sepatu itu rencananya ku akan pakai saat ulang tahunnya Rina. Aku akan tunjukan bahwa aku pun tidak kalah gaya dengan dia. Senyumku mengembang membayangkan memakai sepatu itu.
*************
            “ Ros tunggu,” suara cempreng Rina terdengar di belakangku.
            “ Ada apa sih, aku mau buru-buru nih,” kataku saat Rina berada di sampingku.
            “ Ros, temani aku dong, aku mau ke tempat ibu wiwit di panti asuhan Ar-Rahma. Mamaku tadi nitip surat untuk Ibu Wiwit. Mungkin surat buat rencana ulang tahunku yang mau diadakan di sana. Mau ya ros temani aku,” rengek Rina .
            “ Aduh..aku kan mau ke but…..eh mau buru-buru nih ada keperluan,” aku tak meneruskan kata butik, karena kalau ku sebutkan pasti Rina bakalan tahu aku akan membeli sepatu itu. Bukan kejutan namanya kalau ku bilang sama dia. Nanti pasti dia akan iri padaku saat tahu akulah yang membeli sepatu itu. Aku tahu Rina juga sangat suka dengan sepatu itu.
            “ Please….temeni aku dong Ros,….nanti sebagai ucapan terima kasihku ,kamu temani aku juga saat tiup lilin ulang tahunku, ayolah Ros,” Rina terus saja merengek sambil menarik narik tanganku.
            “ Lagian kamu kemana sih Ros, ya udah selesai aku di temani nanti gantian aku temani kamu, bagaimana…,” kata Rina lagi.
            “ Gak ah, ya udah ayuk deh aku temani,….maksa banget deh,”
            Rina langsung senyum gembira setelah aku menyanggupi permintaannya. Aku tahu setiap tahunnya  Rina merayakan ulang tahunnya pasti dengan anak-anak di panti asuhan itu. Aku sempat heran dengan Rina, kok mau-maunya pesta ulang tahun di rayakan di tempat seperti itu. Kalau aku pasti sudah ku protes. Aku selama ini merayakan ulang tahun kalau tidak di rumah ya di restoran. Lebih terasa suasana pestanya.
            Rumah itu bercat putih dengan halaman yang cukup luas di depannya, berpagar tembok yang juga di cat putih. Sebuah papan nama yang sederhana bertuliskan Panti Asuhan Ar-Rahma. Di halaman beberapa anak kecil sedang bermain bersama. Suasananya sangat ramai. Beberapa anak yang lebih besar ada yang sedang membersihkan halaman.
            Aku dan Rina memasuki halaman dan disambut oleh seseorang lelaki setengah baya. Setelah menanyakan maksud kedatangan Rina dan aku, kami berdua di persilahkan duduk di sebuah ruangan. Ruangannya sedrhana tetapi bersih dan tertata rapi. Sebuah vas bunga dengan sebatang bunga mawar menghiasi meja di depan kami.
            Seorang wanita seusia nenekku datang menghampiri tempat kami duduk. Rina langsung mendekatinya dan mencium tangan serta kemudian memeluk wanita itu. Mereka kelihatan sangat akrab. Ku mendengar wanita itu yang ku tahu kemudian namanya adalah Ibu Wiwit menanyakan keadaan ayah dan ibu Rina. Sembari sesekali membelai lembut rambut Rina.
            Aku terdiam saja melihat mereka berdua, sampai Rina kemudian mengenalkan aku ke Ibu Wiwit. Ibu Wiwit tersenyum padaku dan mengulurkan tangannya. Dengan canggung aku mencium tangannya. Ibu Wiwit duduk bersama kami dan Rina memberikan surat dari Ibunya.
            Seorang anak perempuan berusia kira-kira dua tahun lebih muda dariku tertatih datang. Dia membawa nampan yang terdapat dua buah gelas berisi teh. Melihat anak itu Rina segera berdiri dan membantunya. Anak itu memakai tongkat yang disangga pada ketiak lengan kirinya. Saat mataku melihat kearah bawah, ya Tuhan….aku hanya melihat sebuah kaki yang terjejak di tanah.
            Dia memandangiku dan tersenyum, di julurkan tangannya ke arahku. Ku jabat tangannya sambil tak lepas melihat ke arah kakinya.
            “ Indah kaki kirinya di amputasi hampir setahun lalu nak Ros,” kata Ibu Wiwit seperti tahu apa yang ada dalam pikiranku.
            Aku terkejut dan menunduk malu. Indah kemudian duduk di dekat ibu wiwit.
            “ Indah mengalami kecelakaan, dia di tabrak oleh pengemudi yang tak bertanggung jawab saat menyeberang jalan mau ke sekolah. Tetapi masih di syukuri bahwa hanya kakinya yang harus di amputasi,’ kata ibu Wiwit kepadaku.
            “ Iya Ros, makanya sampai sekarang indah memakai tongkat kemanapun dia pergi. Dan yang paling aku salut Indah tidak malu dengan kondisi tubuhnya. Benarkan indah ?” Rina menimpali kata-kata Ibu Wiwit.
            “ Iya kak Rina, indah tidak malu kok, masih bersyukur indah masih hidup dan masih bisa bersama Umi …….,” kata Indah sambil memeluk Ibu Wiwit.
            “ Umi sebenarnya ingin membelikan kaki palsu buatmu indah, tapi umi masih belum punya cukup uang. Biar Indah tak perlu lagi memakai tongkat,” Ibu Wiwit berkata pada indah dengan mata berkaca-kaca.
            “ Dengan tongkat ini ,Indah sudah cukup senang kok Umi. Indah kan masih bisa membantu Umi..dan masih bisa berjalan kemana saja.”
            Aku hanya bisa tertunduk dan diam saja saat mereka berbincang-bincang. Sesekali aku tersenyum ketika Rina menggoda Indah. Mereka berdua telah akrab karena Rina memang sering datang ke Panti Asuhan ini.  Tak sampai setengah jam kami di sana dan berpamitan pulang pada Ibu Wiwit dan Indah. Anak-anak yang bermain di halaman semakin banyak, mereka semua kelihatan ceria, dengan senyum mengembang.
            “ Ros, kok sedari tadi kamu diam aja. Maaf ya kalau kamu tidak suka ku ajak ke sini. Nah sebagai gantinya sekarang aku akan menemanimu ke mana kamu mau. Kamu mau kemana tadi katanya buru-buru,” kata Rina.
            “ Aku mau pulang saja Rin,” kataku
            “ Lho…katanya tadi buru-buru mau pergi kemana gitu…kok tidak jadi Ros , kamu marah sama aku ya karena ku ajak ke sini,” rasa bersalah Rina tergambar dari mimik lucunya.
            ‘ Tidak kok Rin, aku senang saja cuma sekarang ada baiknya aku pulang ke rumah saja dulu. Kita ketemu lagi besok ya di sekolah.”
            “ Ya, baiklah kalau begitu, aku juga mau pulang kalau begitu.”
            “ Bye Rin,”
            Sepanjang perjalanan ke rumah pikiranku tak lepas oleh sosok Indah. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika aku jadi dirinya. Pasti aku akan sangat merasa malu dan merasa rendah diri. Tak mungkin aku datang ke sekolah atau bermain dengan teman-teman. Mereka pasti mengejekku karena aku hanya memiliki satu kaki.
            Ku pandangi kakiku saat aku naik angkot, aku merasa bersyukur karena aku memiliki kaki yang lengkap, yang jenjang, yang cantik seperti kata teman-temanku. Apalagi jika memakai sepatu yang indah dan mahal.
            Sepatu ?
            Aku tercekat, ku buka tasku dan ku cari dompetku. Masih ada di dalam tasku dan uang pemberian ibu pun masih utuh. Aku jadi lupa pada sepatu yang akan ku beli. Sepatu yang sangat bagus yang lama ku idam-idamkan. Tetapi tiba-tiba sesuatu terlintas di dalam benakku. Sesuatu yang tak pernah terpikir olehku  sebelumnya. Aku harus bicara dengan mama. Harus !
            Sesampainya di rumah aku berteriak memanggil mama, seperti biasa saat aku pulang dari sekolah. Mama yang sedang berada di belakang ku tarik lengannya menuju kamarku. Mama kelihatan bingung atas sikapku. Sesampainya di kamar aku menceritakan apa yang ku lakukan hari ini. Wajah mama berganti-ganti, dari bengong sesekali kelihatan bingung , kadang terlihat memelas saat mendengar ceritaku. Berakhir dengan senyuman dan memeluk aku dengan kencangnya.
            “ Kamu memang anak mama,” kata mama. Aku pun tersenyum sambil membalas pelukan mama.
**********
            Pesta ulang tahun Rina meriah di Panti Asuhan itu. Banyak yang datang selain dari penghuni Panti. Semua terlihat ceria. Aku datang bersama mama, dan Rina menyambutku dengan gembira.
            Saat Rina akan meniup lilin di atas kue ulang tahun, seperti janjinya dia menyuruhku berada di sampingnya. Setelah memejamkan mata Rina meniup lilin diiringi tepuk tangan meriah dari kami semua. Berdiri di samping Rina ada mama dan papanya juga ibu Wiwit dan aku. Ku lihat Indah sibuk mengatur makanan dan minuman yang ada di meja.
            Aku memanggil Indah, agar dia bersama kami. Dengan tertatih Indah datang ke tempat kami berdiri. Saat itu juga aku memanggil mama. Mama datang bersama seorang laki-laki.
            “ Rin, maaf ya Ros tak bisa memberikan hadiah pada ulang tahunmu kali ini, tetapi Ros akan memberikan sebuah kejutan pada Indah tepat di hari ulang tahun mu,” aku memegang tangan Rina erat. Rina tak mengerti dan bingung. Begitupun dengan orang-orang di sekitar kami.
            “ Mama dan papa Rina, Umi dan teman-teman semua, perkenalkan ini mama saya dan yang ini adalah Pak Teguh. Bapak ini ingin mengukur kaki Indah karena ingin membuatkan kaki palsu buat Indah agar tak lagi memakai tongkat untuk berjalan. Mau kan kamu indah ?” kataku sambil memegang tangan Indah.
            Rina langsung memelukku, dan mencium pipiku. Sementara Indah tak dapat berkata apa-apa hanya terdiam dan menunduk haru.
            “ Ros, makasih ya….kamu memang sahabatku yang terbaik. Ini adalah hadiah buatku juga,” kata Rani sambil terus memelukku.
            “ Terima kasih kak Ros, Indah tak bisa berkata apa-apa selain terima kasih,” kata Indah terbata-bata.
            Tepuk tangan kembali membahana, ku melihat mengembangkan senyum bahagia. Ibu Wiwit pun tak henti menyeka air mata bahagia yang mengalir.
            Aku menundukkan kepalaku, dan ku melihat kakiku yang memakai sepatu lamaku. Aku tak peduli lagi, sebab aku  bersyukur masih memiliki kaki. Sekarang aku merasa tak memerlukan sepatu bagus dan mahal sebab aku tahu di tempat lain masih banyak juga orang yang tak memerlukan sepatu, akan tetapi mereka memerlukan kaki.
********
Semoga cerita ini bisa mengispirasi kita untuk tak memikirkan diri sendiri dan bisa berbagi dengan sesama.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keutamaan Berkurban

 Sumber : Rumah Yatim Indonesia Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Hari ini dirayakan tidak hanya oleh uma...